Tungguin Tama

885 144 47
                                        

Ten menyapu tangga sambil bersenandung, outfit andalanya, kaos kutang sama celana pendek 100 ribu dapet 3. Beli di pasar malam deket kosan.

"Idih idih, rajin amat ini cowok satu ampe tangga aja disapu."

Ten menolehkan kepalanya, aduh suara itu lagi. Ten heran banget kenapa harus dia lagi, dia lagi, dia terus yang muncul.

"Daripada lo nyapu yang keliatan doang."

Tidak terima dengan ucapan Ten barusan, Lisa menoyor kepala Ten dari belakang. "Lah kan nyapu emang yang keliatan doang, gimana sih, bahlul."

Lisa itu definisi temen kosan yang dia lagi dia mulu dia terus. Bahkan anak kosan yang baru pindah aja sempet ngira kalau Ten dan Lisa itu pacaran, padahal mah boro-boro pacaran, jadi Tom&Jerry mulu yang ada setiap hari.

Lisa masih berdiri diujung tangga atas, memperhatikan Ten yang sudah menyapu sampai di pertengahan.

"Yang bersih mas kalo nyapu, kalo nggak bersih nanti dapet cowoknya brewokan loh."

Ten mendelik ke arah Lisa, dipikirnya dia homo kali ya. "Lo kalo nyapu yang bersih, nanti dapet bang kardun yang brewokan loh." Balas Ten gak mau kalah.

Lisa melotot sambil bergidik ngeri, demi apapun mau disandingkan dengan siapapun Lisa terima, yang penting jangan sama bang kardun, cowok yang umurnya 35 tahun kurang 2 tahun lagi, yang sering nongkrong di konter deket kosan.

"Ogah! Enak aja! Lo aja sono sama bang kardun, cocok tuh."

Ten mengangkat gagang sapunya, bersiap menghampiri Lisa kalau saja suara Tama tidak menghentikanya.

"Untung ada Tama, kalo nggak ada, abis lo sama gue!"

"Dih?! Itu namanya kekerasan dalam pertemanan terhadap wanita, tau nggak Ten....?" Lisa memiringkan kepalanya.

Tama hanya menepuk pundak Ten, kemudian memilih berlalu, begitupun dengan Lisa. Tama bahkan tidak sempat menegur Lisa, yang cewek itu lihat muka Tama bonyok? babak belur?

Setelah mendengar suara pintu kamar kos milik Tama tertutup, buru-buru Lisa menghampiri Ten. "Liat nggak lo mukanya Tama?!" tanya Lisa dengan suara bisik bisik.

"Kenapa muka Tama?"

"Bonyok gitu tau! Eh nggak bonyok juga sih, tapi ya kayak babak belur ih! Kenapa ya itu dia?"

"Apa jangan-jangan si Anya lagi?"

Lisa menaikan sebelah alisnya, "Masa sih? Emangnya belum putus sama si Anya Anya itu?"

Ten menggeleng, "Kayaknya belum deh, kurang tau juga gue. Coba nanti gue basa-basi deh iseng nanyain ke Tama."

_____

Jennie dan Soraya asik memakan siomay langgananya, rasanya beneran enak banget. Amang siomay nya juga asik banget orangnya, jadi mereka berdua gampang akrab.

Sampai satu orang tiba, membuat keduanya menghentikan aktifitasnya, terlebih Soraya yang mendadak hilang selera makan.

Soraya meletakan garpunya kasar, menghela nafasnya kasar, "Jen, ini siomay nya, bungkus aja yuk. Minta ke mang Asep buat bungkusin yuk, gue tiba-tiba jadi kenyang."

Jennie hanya melirik Soraya sekilas, kemudian teralihkan ke cewek yang kini duduk di depan mereka, berbagi meja bersama.

"Masih banyak meja kosong disini, kenapa harus disini coba." Soraya bawaanya kesel mulu kalau liat Anya, apalagi setelah kejadian di kosan beberapa minggu yang lalu, hampir sebulan sih.

Tidak menanggapi Soraya, Anya malah tertuju pada Jennie. "Bisa kita ngomong berdua nggak?"

Baru saja Jennie akan buka suara, Soraya sudah lebih dulu menyela. "Enggak, gue sama Jennie mau pulang, kalo penting banget ngomong aja langsung disini, kalo nggak penting banget mending nggak usah, gue sama Jennie mau pulang."

𝐃𝐮𝐚 𝐩𝐮𝐥𝐮𝐡 𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐣𝐚𝐦 𝐭𝐮𝐣𝐮𝐡 𝐡𝐚𝐫𝐢Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang