Kiss me

1.1K 156 34
                                        

this chapter is a bit explicit, so please be wise as a reader, thank you and
🦋happy reading🦋





Akhir pekan yang cukup melelahkan bagi Nadja, sebenernya tidak juga, tapi lumayan. Seharian ini Nadja sudah banyak melakukan kegiatan diluar rumah, kemana lagi kalau bukan Ikea's date with Chandra. Cowok berkulit putih susu itu bahkan masih betah untuk berlama-lama dirumah pacarnya itu.

Atau mungkin tidak?

Santi menghampiri Nadja dan Chandra yang baru saja duduk di sofa, wanita paruh baya itu terlihat lebih rapih dari biasanya, tidak lupa riasan make up tipis di wajahnya.

"Mamah mau kemana? Kok tumben dandan."

"Ayo Nadja kamu ikut mamah ya, kita ke rumahnya nenek sekarang."

"Hah?! Sekarang banget emang mah?! Emang ada apaan sih?"

"Urusan keluarga, ayo kamu ikut mamah."

"Terus Chandra gimana? Aku belum siapin baju loh Mah."

"Chandra, gapapa kan tante buru-buru gini? Soalnya sodara juga mendadak ngabarin tante harus ke rumah nenek, gapapa kan?"

Chandra tersenyum, memahami keadaan Santi, terlihat jelas dari raut wajahnya kalau wanita paruh baya tersebut sedikit panik.

"Nggak apa-apa tante, Chandra juga abis ini mau pulang kok."

"Sebentar Chandra, tante boleh minta tolong nggak sama kamu?"

"Minta tolong apa tante?"

"Kamu bisa disini dulu sebentar nggak sampe kakaknya Nadja dateng, nanti orangnya mau kesini dianter sama temenya. Kamu bisa tungguin sini dulu kan?"

"Ih mah nggak enak ah, ngerepotin Chandra. Lagian Kak Jennie emangnya nggak megang kunci rumah?"

"Ilang, Nadja. Bisa kan Chandra? Tante minta tolong banget sama kamu, ya?"

Sebenernya Chandra agak males kalau harus nunggu disini sendirian, apalagi nungguin kakaknya Nadja sampai dateng. Mana Chandra gak terlalu akrab sama Kak Jennie. Tapi gak enak juga kalau nolak permintaan calon mertua.

Chandra tersenyum sebelum menjawab Santi, "Tenang aja tante, santai aja sama Chandra. Bakal ditungguin kok sampe Kak Jennie daten."

Santi tersenyum lega, "Yaudah kalo gitu tante tinggal dulu ya, tante buru-buru banget. Ayo Nadja, nih kunci mobilnya, bawa mobilnya yang bener." Santi menyerahkan kunci mobil pada Santi.

Setelah mobil Nadja dan Mamahnya tidak terlihat, yang Chandra lakukan adalah duduk di teras rumah pacarnya itu. Gak enak juga kalau duduk di dalam rumah dengan keadaan pemilik rumahnya lagi gak dirumah.

Sekitar 10 menit ia duduk sambil bermain ponselnya, ada suara klakson motor, meminta untuk dibukakan pintu gerbangnya.

"Ah pasti itu Kak Jennie sama temenya." gumam Chandra.

Jennie melepas helmnya, disusul Tama yang sekarang sedang merapihkan rambutnya sambil ngaca di spion motor.

"Chandra, nunggu lama ya? Maaf ya, tadi di perempatan situ sempet ada motor jatuh gitu." Jennie tidak enak hati pada Chandra yang duduk sendirian di teras rumahnya.

𝐃𝐮𝐚 𝐩𝐮𝐥𝐮𝐡 𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐣𝐚𝐦 𝐭𝐮𝐣𝐮𝐡 𝐡𝐚𝐫𝐢Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang