ㅡ seventeen

2.5K 336 10
                                        


sorry for typo's






.

pagi hari ini aku memulai hari dengan senyap tapi cukup membuatku dadaku kembang kempis.
ya, ini sudah menjadi hari ke 3 setelah aku pulang dari rumah sakit kemarin dan 3 hari tidak masuk ke kelas.
hari ini juga aku memuntahkan semua makanan yang baru saja aku telan beberapa menit yang lalu.
yaaa walaupun cuma 2 lembar roti tawar dan air putih yang aku ambil semalam, karena aku tau, keesokkan pagi nya mama papa tidak akan suka aku berada di dalam dapur mereka. apalagi mama mulai aktif memasak di dapur.

huft, sepertinya aku harus lebih pintar lagi mengambil makanan pada malam hari. seperti pencuri saja, padahal ini rumahku sendiri.

aku masih belum mengerti ucapan mark hyung 3 hari yang lalu.
aneh, dia menyuruhku berobat. tapi, dia tidak memberi tahu apa penyakitku.
pilih kasih.

setelah selesai membuang semua makanan yang aku makan tadi, aku membasuh muka ku.
kepala ku mendongak lihat pantulan kaca di depanku... muka ku, aneh
lingkar hitam di bawah mata, pipi ku yang mulai terlihat tirus, lengan ku yang mengecil, dan badan ku juga makin kering seperti mulai kehilangan daging itu tercetak jelas di penglihatan.

apa aku... kurang gizi?

ada-ada aja, mana mungkin. bibi lee selalu memberikan yang terbaik untukku selama 16tahun belakangan ini. jadi, mana mungkin aku kekurangan gizi. konyol sekali.

"heh!"

pintu kamar mandi terbuka tiba-tiba.
badan ku terkejut bukan main, sampai telapak tangan kiri ku menghantam kran wastafel kamar mandi.

aku meringis tertahan, menahan ngilu di tangan dengan posisi menghadap papa.
iya, itu papa. papa yang membuka pintu kamar mandi.
kalau saja itu mark hyung, pasti bakal aku siram waktu itu juga. mengagetkan.

'papa...' lirih ku dalam diam, kepalaku lantas menunduk ke bawah menatap lantai kamar mandi. tatapan papa barusan tatapan yang biasa berikan padaku, tatapan benci. aku tidak mau melihatnya, lagi.

"selain bisu kamu juga tuli, hah? di panggil malah diem."

oh iya nilai plus jika papa sudah mengeluarkan kata-kata itu. pasti ada hal lain lagi yang akan keluar dari mulut nya.

'papa, ada apa?' aku memberanikan mendongakkan kepala menatap papa, alih-alih takut. aku malah memberikan gerakan konyol untuk papa karena tidak membawa spidol dan kertas.

''ngga usah banyak tingkah. saya di sini cuma mau bilang, rekan kerja saya bakal kerumah 30 menit lagi." ujar papa mengambil jeda

aku mendengarkan dengan seksama, menatap papa yang sedang berbicara tepat di depan mataku. beruntung sekali mark hyung dan adek bisa dekat dengan papa setiap hari dan kapanpun. andai aku bisa memilih takdirku, ini sebenarnya mustahil, baru kali ini papa mau berbicara dengan ku sedekat ini. seperti mimpi,

"dan kamu, harus diam di kamar sampai rekan kerja saya keluar dari rumah ini nanti." sambung papa

bola mataku turun ke bawah. selalu seperti ini. kenapa harus di kurung lagi,
aku juga mau di kenalkan ke rekan kerja papa sama hal nya dengan mark hyung dan dek sungchan. di kenalkan sebagai generasi penerus LEE kedua setelah mark hyung. dalam mimpi tentu saja

"dengar tidak?"

aku menggangguk pelan, toh aku juga tidak berguna nantinya disana. hanya penonton, lagi pula aku tidak tau pasal perusahaan. dan aku tidak berhak untuk tau.

"yasudah, hanya itu yang ingin saya sampaikan. cepat kembali ke kamar mu."

aku mencekal lengan papa yang hendak pergi dari kamar mandi yang kini aku tempati.

silent ; jenoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang