Meri terus menggerutu sepanjang jalan, langkahnya yang kadang miring kekanan kadang oleng kekiri membuat seseorang yang mengikutinya dari belakang tersenyum simpul.
Tak lama kemudian orang tersebut menghentikan langkah Meri, merebut paksa belanjaan Meri tanpa kata.
Berjalan kedepan seolah tak terjadi apa-apa.
Meri yang bengong akibat belajaan yang di rebut paksa pun akhirnya tersadar siapa yang telah merenut belanjaan nya tak lain tak bukan adalah Dean.
Berjalan tanpa kata mengikuti langkah Dean tanpa niat menegur ataupun bertanya kenapa Dean mau membantu nya membawa belanjaan berat itu, Meri hanya diam mengikuti perlahan si belakang bak anak kecil yang hilang di jalanan mengikuti orang asing tampan yang cukup menarik perhatian.
Niat hati ingin berkata untuk melepaskan semua belanjaan miliknya Meri masih mampu membawa belanjaan yang beratnya tak seberapa dari beban kehidupan.
Namun Lidahnya kelu untuk sekedar berucap sesuatu.
Meri berhenti melangkah ketika Dean berhenti melanjutkan langkah nya.
Meri mendongak menatap Dean bingung.
"kenapa berhenti?" Meri memandang Dean bingung,
"bisa bicara sebentar?" Tanya Dean yang di sambut wajah kebingungan milik Meri.
Dan disinilah mereka,duduk berhadapan, suasana terasa canggung untuk mereka yang pernah tinggal serumah dalam waktu yang lama.
Dean sendiri bingung kenapa dirinya meminta waktu Meri untuk duduk disalah satu caffe sekarang ini, jujur saja mulutnya mengeluarkan kata yang bahkan tak dipikirkan nya sama sekali membuat Dean bingung apa yang harus di ucapannya untuk memulai percakapan, ditambah Meri yang sedari tadi diam tanpa niat untuk memulai pembicaraan. sebenarnya ini hal yang cukup aneh menurut Dean mengingat Meri yang biasanya cerewet mengoceh tanpa henti kini malah diam seperti orang asing yang Dean tak kenali
Meri melihat kearah Dean yang seperti nya asik dengan dunianya sendiri, membuat Meri menarik nafas panjang sebelum mulai mengeluarkan kalimat,
"jika tidak ada hal yang ingin disampaikan, aku pulang banyak kerjaan, ada perut kelaparan yang menunggu di rumah." Tukas Meri mengatakan bahwa dirinya tak ingin membuang waktu untuk hal yang tidak penting. YA!! akhirnya Meri sadar bahwa mengharapkan dan memperjuangkan orang yang tidak memperjuangkan balik adalah hal terbodoh yang pernah dirinya lakukan. menjatuhkan harga diri yang seharusnya ia junjung tinggi sebagai perempuan.
Dean yang mendengar hal itu pun langsung bereaksi,
"tunggu! Eum ada hal yang perlu gua bicarain, sebelumnya apakabar?" Canggung dean yang bingung ingin mengeluarkan kata.
Meri mengerutkan kening nya sembari menyipitkan mata berfikir keras ada apa dengan manusia di depannya ini sejak kapan Dean bisa berbasa basi dengannya.
"kamu punya mata untuk melihat bukan? I'm good,never better malah jadi, ada apa?" Balas Meri to the point
Dean semakin salah tingkah dirinya bingung harus apa sekarang.
"dengar,jika memang tidak ada yg penting aku harus pergi." Lanjut Meri lagi.
" aku minta maaf!" Ujar Dean tiba-tiba
"maaf untuk yang kemarin aku-"
"ga usah sok minta maaf kalo sebenernya memang itu yang kamu mau, seharusnya dari awal aku pakai otak dan logika,mungkin aku kemarin terlalu naif " Meri tertawa hambar
"tapi bisakah kau menjauhi ku?" Meri merasa heran dengan maksud dengan perkataan dean
" maksudnya?"
"aku tau kau mengikuti ku kan?
Aku tau, tapi tak seharusnya kau melakukan ini, aku tau mungkin susah tapi cobalah untuk tidak mengikuti lagi. Jangan ganggu aku lagi. Aku sudah punya pacar mungkin kami akan segera menikah jadi tolong jangan ganggu aku lagi.
"demi apa ??? demi author yang baru wisuda padahal udah sidang dari tahun lalu ,terus alesan ga up ini cerita karna sibuk, padahal kagak ngapa-ngapain . padahal sok sibuk ngarepin mantan ngajak balikan. ini ga salah si Dean kampret ini? kepedean banget anjrot ini makhluk satu." batin Meri
Meri tertawa mendengar penghinaan Dean, baginya itu sebuah penghinaan.
"haha kau tau? Mungkin rasa percaya dirimu terlalu berlebihan dan itu tidak baik, aku masih punya harga diri walaupun sedikit, untuk apa aku mengikutimu bukankah sebaliknya?
Dengar, jangan bicara omong kosong oke? Aku bahkan tidak peduli lagi jika kau menikah besok jadi jangan bertingkah seolah aku masih mengejarmu. terlalu banyak laki-laki baik yang harus aku terima cintanya, jadi tolong bersikap sewajarnya.
sikapmu lah yang seolah-olah tidak rela dengan fakta bahwa aku sudah move on dan bereaksi seperti aku masih mengejarmu?" Meri merasa geli melihat dean yang kepedean tingkat dewa.
"lagi pula aku terlalu sibuk ngepush Rank menuju mitik, dari pada harus ngejar manusia tidak tau diri seperti mu. aku tidak akan mendoakanmu untuk menyesal karna telah menyia-nyiakan perasaan ku karna sepertinya kamu tengah merasakan hal itu " Lanjut meri lalu melangkah pergi dan dean hanya bisa mematung melihat meri yang keluar dari caffe meninggalkan Dirinya yang bak orang bodoh.
Lalu tak lama meri kembali dengan barang belanjaan yg sebelumnya dia titipkan di tempat penitipan barg sebelah caffe.Menaruh semua belanjaan diatas meja Dean.
"Maaf aku tidak butuh sesuatu yang berhubungan denganmu. Dan terimakasih telah merusak hari dan acara belanjaku."
Meri bergegas pergi dia sudah menghubungi Rendy sebelumnya untuk menjemputnya.
Meri juga sudah mengabari ibu nya Rendy tentang acara belanjanya yg gagal jadi Meri menyarankan untuk memesan makanan dari luar saja. Untung ibu Rendy paham akan keadaan.
Seperti nya meri akan mengambil tawaran dari ibunya Rendy.
Kejadian barusan membuatnya sadar bahwa tidak ada yang bisa di harapkan dan dirinya terlalu berharga untuk manusia seperti Dean.
___________________
At home, Rendy memeluk Meri mencoba menguatkan sahabatnya, ya bagaimanapun meri tetaplah perempuan pemirsa jadi tetep mewek kalo di gituin sama orang pernah ia sayang. meri mewek diatas kasur sejak tadi pemirsa . naluri laki-laki Rendy sebagai seorang yang peduli dan sayang terhadap sahabatnya ini muncul.Rendy mengatakan kalimat yang membuat Meri terharu dan mulai saat ini Meri mengerti bahwa dirinya harus berubah menjadi lebih baik dan menghilangkan sifat kekanakkannya dirinya harus fokus akan masa depan yang lebih baik, melupakan Dean dan menutup hati untuk sementara waktu memfokuskan diri untuk menjadi lebih baik lagi.
mungkin selama ini perasaan yang ia miliki hanya sebatas rasa kagum dan juga keinginannya memiliki pasangan sempurna seperti sahabatnya, Meri lupa jika setiap orang punya cerita yang berbeda. dirinya tidak bisa memaksakan hal yang menurutnya baik karna yang menurut kita baik belum tentu yang terbaik.
"udah lebih baik?" tanya Rendy dengan senyum terbaiknya.
Meri terpana pemirsa "sejak kapan Rendy jadi hensom begini?" begitulah batin meri kira-kira,
"udah, makasi ya gua ga bisa bayangin kalo ga ada elu pasti gue udah bunuh nyamuk, karna kalo bunuh diri ga mungkin, dosa gue udah banyak." Meri mencoba receh.
"emang siapa yang izinin lu buat nyakitin diri sendiri? cukup kemarin aja gua liat lu sakit sampe segininya, untuk selanjutnya gua ga izinin lagi" tukas Rendy yang membuat Meri terdiam
"sekarang lu tidur ,mata sama idung lu udah merah banget, kalo kelamaan nangis nanti pusing." Rendy mengusap air mata yang masi menempel di sekitar pipi Meri, lalu menarik meri kembali masuk kedalam pelukan hangat nya tak lupa tangan kekar itu terus mengusap lembut surai hitam milik Meri yang membuat sang empunya rambut merasa nyaman dan tak lama kelopak mata yang lelah itu menutup secara perlahan meninggalkan sepasang mata yang tadinya menatap lembut kini berubah tajam, seolah mengutuk sosok yang telah membuat makhluk seceria Meri menjadi seperti ini.
TBC..............................................................................
AAHAHAHAHA akhirnya up lagi......
ilang lagi ahhhh byeeee!!!!!!
note: kalo lupa ceritanya flashback aja wkwkwkwk..
vote and coment untuk ngingetin gw kalo gw punya kewajiban buat up!!!!!
lopyuuuuuuu
KAMU SEDANG MEMBACA
Hallo my Oppa!
Romance(Di sarankan untuk baca You're my Mommy! Terlebih dahulu) ketika zubaedah alias Meri jatuh cinta dan tak lelah mengejar abang dari sahabat baiknya dengan segala kehebohan dan kericuhan yang terjadi oleh nya, jatuh bangun Meri berjuang mendaki gunun...
