22. Tuan Melankolis dan Nona Bulan

148 18 2
                                        

Happy Reading!

Di hari Sabtu malam ini, sarayu menyeruak hingga menusuk kulit, sejuknya membawa Ardi sampai di titik dasar bumi sebab pria itu tengah berbahagia, menunggu kasihnya di keramaian Ibu kota.

Seperti perkataanya kemarin, Ardi dan Helen ---khusus malam ini, biarkan Kacita istirahat sejenak--- sepakat untuk mengulang kisah singkat mereka. Melupakan fakta yang akan membawa keduanya pada kehancuran. Mereka sama-sama sedang membalut luka basah itu agar mengering.

Ardi tahu, kesungguhannya hanya membuat mereka sama-sama menanggung luka. Namun biarlah, semoga tiada lara untuk hari ini. Semoga semesta merestu harsa untuk menyelinap masuk dalam pertemuan mereka kali ini, dan semoga Tuhan mereka mengizinkan kedua insan dibawah langitnya untuk kembali mencintai di penghujung jalan kisah mereka.

Semoga.

Dari kejauhan beberapa meter, Ardi bisa melihat Helen yang tengah melambai gemulai ke arahnya setelah turun dari angkutan umum. Ditemani senyuman manis wanita itu, senyum yang selalu menjadi senyum favoritnya.

Tepat berada di depan Ardi, pria itu memeluknya sebentar. "Terima kasih sudah mau datang, Helen."

"Aku pasti datang. Rinduku sudah kembali pulang, Ardi."

Ardi melerai peluk singkat itu, berganti dengan mengenggam tangan Helen yang begitu pas dengan tangan besar miliknya. Wanita itu sedikit tersentak, namun jemarinya tetap merekatkan genggaman mereka.

"Aku berasa kita kayak balik masa-masa SMA deh. Seneng banget rasanya," monolog Helen mengiringi langkah mereka untuk pergi dari sana, beriringan menuju tempat soto langganan mereka semasa dulu, ah mungkin sekarang masih sama.

"Aku inget banget, pertama kali kita jadian, kamu nolak makan soto saat hujan karna lebih milih indomi. Padahal indomi ada rasa sotonya juga."

Ardi tergelak, "ya gimana ya, kalau hujan ingetnya sama indomi. Bukan soto Pak Karso."

"Tapi kan sama aja Ardi!"

Helen mendelik, namun setelahnya ia ikut tergelak disamping sang pria. Senyum sederhana menghiasi kala kembali mengenang masa putih abu-abu yang dipenuhi canda rayu, tanpa dihadiri pilu. Ah, bernostalgia tentang dahulu, membuat Helen ingin kembali pada masa-masa itu.

Menggeleng. Wanita itu menepis kembali angan-angan itu, seharusnya ia bersyukur bahwa Tuhan masih mau berbaik hati untuk mempertemukan dirinya dan Ardi hari ini. Meski pertemuannya tak semenyenangkan yang ia kira, Helen akan tetap berucap syukur.

"Kebiasaan kamu nggak pernah hilang. Melamun di jalanan, mikirin siapa sih? Kalau mikirin aku, boleh dilanjut acara melamunnya."

Mendengar Ardi berkata demikian, lantas wanita itu melayangkan pukulan ringan di lengan pria itu. "Inget umur. Gombal mulu kerjaannya!"

"Umur nggak bikin gantengku luntur, Hel," pria itu terkekeh, mengamit kembali jemari Helen yang sempat terurai. Helen yang melihatnya hanya tersipu, kekanakan memang tapi ia suka.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya kedua insan itu sampai ke tempat tujuan mereka. Dibawah terpal biru, Helen duduk di kursi biru serta meja minimalis sebagai pelengkap.

Sejauh matanya memandang, hanya beberapa orang disini. Ada yang duduk sendirian, atau bersama berpasangan. Namun entah mengapa Helen merasa begitu ramai, rasa bahagia dalam dirinya seolah ikut menemani dan memenuhi tiap sudut tempatnya berpijak.

AccidentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang