HAPPY READING ♥︎
"WOY KEBO BANGUN LO! SHOLAT DULU SHOLAT!!!" Teriak Yumna yang merasa kesal karna Jendra tidak kunjung bangun----yah boro-boro bangun, membuka mata saja lelaki itu enggan.
Jendra masih meringkuk di balik sarung nya yang berwarna merah itu, tidak merasa terusik sama sekali dengan teriakan atau hujatan dari Yumna, adiknya. Semenjak kedua orang tua mereka bercerai, hanya Mama yang mengurus dan menghidupi Jendra dan Yumna. Sedangkan Bapak mereka sama sekali tidak peduli lagi dengan anak-anak mereka, melepaskan tanggung jawab nya begitu saja, dasar buaya udara.
Karna hal itu, Jendra memiliki prinsip tidak akan menyakiti wanita walau hanya seujung kuku. Tapi, prinsip itu tidak akan berlaku jika dihadapkan dengan Yumna, menurut Jendra, Yumna itu seperti banteng. Sekali senggol langsung seruduk!
"Kenapa Na? Masih pagi jangan teriak-teriak gitu." Peringat Mama yang kebetulan lewat dari kamar Putra sulung nya dan Mama tidak sengaja, mendengar teriakan Putri nya dari dalam sana.
"Duh Ma, liat anakmu kebo banget! Di bangunin sholat bukan nya bangun gonggong mulu." Adu Yumna kepada Sang Mama.
"Astaghfirullah perawan, ngomongnya yang baik atuh." Ujar Mama sambil menepuk pelan pundak anak gadisnya. Yumna yang sudah diberi peringatan oleh Mama hanya bisa menyengir lebar.
"Bangunin sekali lagi, nggak bangun ya yaudah. Yang penting niat kamu baik, buat bangunin Abangmu Sholat." Setelah Mama mengatakan demikian, Mama langsung melenggang pergi dari hadapan Yumna untuk menyelesaikan pekerjaan nya di lantai bawah.
"HEH SEMBARANGAN LU TUYUL! LU KATA GUE ANJING APE! GONGGONG GONGGOG MATAMU!" Baru saja Yumna ingin berbalik, congor Jendra sudah terdengar dan mengusik tanpa izin gendang telinganya.
"MATA GUE DUA! MAU APA LU!?" Balas Yumna tidak kalah ngegas yang kini sudah berada di tepi kasur Jendra, lalu menatap lelaki itu tidak bersahabat seperti banteng yang akan menyeruduk mangsanya.
"PAKE PURA-PURA BUDEG LAGI LU, GUE AAMIININ BUDEG MAMPUS SIAH!" Yumna berucap sembari mencak-mencak tidak jelas karna pagi-pagi buta sudah di buat darah tinggi oleh Abangnya.
"Gue lagi males perang sama lu, bacot lagi gua sumpel idung lu pake kapas terus tinggal gua bungkus dah sama kain kafan." Sudah jelas, perkataan Jendra langsung mendapat bogem dari Yumna.
"Dasar batang nggak ada akhlak!" Kesal Yumna yang malah membuat Jendra terbahak karna mendapati ekspresi wajah adiknya kesal.
"Nggak usah ketawa bagong!" Pelototan dari Yumna tidak membuat Jendra gentar sama sekali, malah ia semakin gencar untuk menjahili adiknya di pagi-pagi buta.
"Yee banteng. Gue ini yang ngakak kok lu yang sewot, situ sape emang?" Wajah sengak dari Jendra membuat Yumna gemas ingin merebus Jendra hidup-hidup.
Setelah berdecih, Yumna berbalik badan untuk pergi dari kamar Jendra. Namun Jendra yang melempar bantal di atas kepala nya membuat jiwa psikopat Yumna kembali berkobar. Padahal ia sudah menuruti lelaki itu untuk tidak adu bacot, namun Jendra sendiri yang mengibar bendera perang terhadap dirinya. Menyebalkan!
"APAAN SIH BANG!!!!?" Tatapan tidak bersahabat dari Yumna, lagi. Malah membuatnya lupa ingin berkata. Yumna yang mendapati Jendra yang diam saja menghela nafas, terdengar malas.
"Sek muka lu kucel banget sih. Oh iya lupa, lo kan anak pungut." Setelah puas menertawai adiknya, Jendra mulai berbicara "nanti gue anter ke sekolah, sekalian jemput juga" Ujar Jendra kalem.
"Sogok gue dulu, baru gue mau di anterin sama lo!"
"Anak pungut, banyak gaya pula! Gue lagi kere nih, lu nurut aja. Nanti bisa dapet duit, mau duit kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Accident
Ficção AdolescenteRumpang yang tercipta berakibat celaka bagi kita. Perasaan kita berpetualang namun tak kunjung dipertemukan. Hingga saatnya kita satu namun tidak pernah padu. Kita sama-sama tidak bisa menyangkal takdir. Sejauh apapun kita pergi, kita hanya fana yan...
