Happy Reading!
Saka tersenyum, menepuk pundak pemuda itu pelan "kamu sudah melakukan hal yang benar, meski menyakitkan untuk ibumu."
"Dia bukan ibu saya."
Lagi. Saka hanya bisa tersenyum menanggapi keguncangan Leon. Tak banyak yang bisa Saka lakukan selain mendengar keluh kesah pemuda itu atau sesekali menenangkan jika Leon kembali melantur, dari sini saja Saka sangat mengerti kehancuran Leon sebab kehilangan orang yang paling ia cintai walau mencintai Lea tak direstui semesta.
"Kamu mau liburan? Naik gunung misalnya. Saya bisa temani kalau kamu mau," ujar Saka mengalihkan.
"Mungkin lain kali aja."
Saka membuang nafas, mengusap punggung pemuda itu pelan "yasudah. Om ada urusan, kalau butuh apa-apa telpon Mbak Sari aja ya?"
Leon mengangguk samar sedangkan Saka mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan; meninggalkan Leon sendiri.
"Ibu.. gue harusnya peluk ibu," suaranya yang retak mendominasi, ia kembali pada keputus asaannya. Maunya tak begini namun segala situasi yang menimpanya tanpa aba-aba membuatnya lupa bagaimana cara bersikap baik-baik saja seperti sebelumnya.
"Bu.. leon sayang Ibu."
***
Dalam perjalanan pulang menuju rumah Mahezra, hanya ada hening yang berkuasa diantara mereka. Mereka sama-sama diam dengan pikiran bercabang. Mereka sama-sama tak tahu apa yang harus dilakukan agar kerunyamanan ini berangsur baik.
Semua terasa rumit, seolah mereka terjebak dalam lingkaran; tak bisa keluar namun harus tetap bertahan.
Setelah memakan waktu selama 20 menit akhirnya Ardi sampai di kediaman rumah Mahezra. Setelah menepikan mobilnya Ardi turun dari sana, menjejakan langkah kakinya untuk singgah sebentar di rumah atas permintaan Mahezra.
"Terima kasih pak buat tumpangannya," ujarnya saat mendapati presensi Ardi.
"Oh iya. Santai aja."
Prang!
Pecahan benda dari arah dapur mengalihkan atensi mereka, terutama Mahezra sebagai pemilik rumah. Merasa janggal karna tak ada siapapun dirumah, pria itu bergegas pergi ke dapur.
Ia menghela nafas lega, kalau yang ia temukan adalah Kenan. Pemuda itu tengah memungut serpihan piring yang pecah, ia tak menyadari kehadiran orang lain selain dirinya sebab nampak sekali tak terusik.
"Kenan."
Pemuda itu menolehkan kepalanya, mencari sumber suara yang membuatnya terkejut. Setelah mengerjap beberapa kali, akhirnya Ken bangkit. Menghampiri sang bapak yang berada di ambang pintu.
"Kamu nggak bantu Atha?"
"Katanya dia mau lamar kerja di tempat lain. Mau nyoba lagi katanya."
Mahezra mengangguk, "mama masih di rumah sakit?"
"Iya. Yalla masih butuh perawatan."
"Yasudah. Kamu ke depan gih, ada pak Ardi. Bapak mau buat kopi dulu."
"Ken aja yang buat kopinya pak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Accident
Genç KurguRumpang yang tercipta berakibat celaka bagi kita. Perasaan kita berpetualang namun tak kunjung dipertemukan. Hingga saatnya kita satu namun tidak pernah padu. Kita sama-sama tidak bisa menyangkal takdir. Sejauh apapun kita pergi, kita hanya fana yan...
