Hujan di luar sana sudah reda sejak gue menginjakan kaki di rumah. Namun, hawa dingin masih tetap terasa dan sisa-sisa rintik hujan di jendela kamar juga masih membekas. Karena terbawa suasana, akhirnya tubuh gue ini memilih untuk masuk ke dalam selimut dan meringkuk di dalamnya. Ternyata, hawa dingin masuk ke dalam salah satu penyebab datangnya rasa malas.
Krek!, pintu kamar gue terbuka dengan sendirinya. Bukan, bukan karena makhlus halus, tapi pasti karena sesosok makhluk yang nggak ngerti kata permisi, kak Fayhar.
"Cuma mau kasih tau, kalo makan malam udah siap. "
Masih meringkuk dalam selimut, gue sama sekali nggak menyahut ucapan kak Fayhar. Lagi nggak mood makan nih.
Merasa nggak ditanggapi, mungkin. Kak Fayhar melanjutkan, "Cuma mau kasih tau juga nih, kalo bunda masak semur ayam. Nggak mau tau juga nggak apa-apa sih, nggak maksa."
Semur ayam? Ah, aku tidak bisa menolaknya.
Mendengarnya, Gue langsung menyibakan selimut dengan malas-malasan. Lalu turun dari tempat tidur seraya menatap kak Fayhar dengan tatapan orang bangun tidur (padahal sih pura-pura).
"Minggir, ngalangin jalan." Ucap gue ketus sambil (pura-pura) setengah mengantuk.
Gue masih bisa melihat dengan jelas kak Fayhar menaikan sebelah alisnya, walau mata gue lagi disipit-sipitin biar keliatan kayak orang baru bangun tidur.
"Nggak usah sok-sok disipitin gitu deh, makin jelek." Kak Fayhar mencibir dan tanpa rasa bersalah, dia menyentil jidat gue -dan tepat mengenai jerawat gue yang udah mulai matang ini.
Mata gue langsung membelo seketika.
"Adooh, ih! Ini.. aww! Jerawatku, aaa.. kak Fayhar makhluk paling nyebelin sedunia! Aku kutuk muka kak Fayhar jerawatan ampe bolong-bolong! Aaah, ini sakit banget jerawatnyaa!" nggak boong, ini sakit ditambah nyeri pake banget.
Kak Fayhar tertawa bahagia, sambil menunjuk jerawat gue, kakak gue ini tiba-tiba berkata dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Iihh... jerawatnya pecah! Cepet lap darahnyaa! Nanti muncrat-muncrat lagi, hii!"
**
Setelah makan malam dan tragedi jerawat pecah yang penuh drama, gue kembali ke kamar untuk... ntah lah, nggak ada kegiatan. Besok nggak ada PR, ulangan harian pun juga nggak ada. Tidur aja kali ya?
Tapi mata gue nggak sengaja melihat tas tenteng pemberian Rayhan tadi di meja belajar. Daripada buru-buru tidur, gimana kalo gue coba ngerjain tugas tambahan sepuluh nomor yang dikasih bu Ningsih senin kemarin? Siapa tau bisa.
Gue menarik kursi meja belajar dan mendudukinya. Membuka buku paket halaman 309, dan meneliti soalnya terlebih dahulu. Sepuluh nomor, dan karena merasa nggak terlalu sulit, gue membuka buku tulis untuk mulai mengerjakan.
Ternyata, buku tulis gue udah habis.
Abis? Halaman buku gue abis? Siapa yang ngabisin? Hah, bukannya kemarin sebelum hilang, tinggal.. sepuluh halaman? Nah loh. Jangan-jangan..
Rayhan makan kertas sepuluh halaman terakhir? Gila aja.
Terus apa dong?
Dengan ekspresi bingung yang menjadi-jadi, gue mengecek sepuluh halaman terakhir yang ternyata penuh dengan cara-cara Matematika yang super panjang, tapi tulisannya jelek minta ampun. Tulisan gue kan rapi, dan mana mungkin gue bisa nulis jawaban Matematika sepanjang itu?
"Ini siapa yang nulis? Kok mendadak horor gini ya," gue ngomong sendiri saking bingungnya.
Berfikir keras untuk memecahkan teka-teki sepuluh halaman terakhir buku tulis Matematika gue ini, tanpa sengaja gue melihat tanggal dan halaman buku paket yang menjadi kunci utama teka-teki ini. Ah, bodohnya gue lupa sama hal sekecil ini. Nggak bakat jadi detektif emang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Math is My Life
Genç KurguSemua bermula dari kebodohan gue di pelajaran Matematika. Dia datang, membawa harapan 'lo pasti bisa keluar dari kebodohan di pelajaran yang membutuhkan banyak rumus itu'. Dan semua berakhir saat gue bisa keluar dari kebodohan itu, tapi terjebak dal...
