Fiza tengah menopang dagunya di meja makan ditemani secangkir teh serai yang mengepul. Setelah mengetahui jawaban dari teka-teki yang dibuatnya sendiri itu, ia langsung merasa pusing. Setengah jam lamanya ia lalui dengan bersembunyi di balik selimut sambil memikirkan hal-hal random, setelah merasa jenuh dan pusingnya tidak kunjung hilang, Fiza akhirnya ke luar kamar menuju dapur untuk membuat secangkir teh serai.
Aroma teh serai yang mengenai wajah, membuat Fiza teringat Kaindra. Sejak pertemuan pertama mereka, bagi Fiza aroma teh serai selalu identik dengan Kaindra. Dan di pertemuan kedua mereka hari ini, setiap Fiza mengingat Kaindra, ia akan mengingat Rayhan juga.
Fiza mendecak, lalu menghabiskan teh serainya dalam sekali teguk. Ia meletakkan kepalanya di atas meja. Rayhan, cowok kalem sekaligus pintar Matematika yang sudah sebulan terakhir ini mengusik kehidupannya. Sepertinya ia harus segera mengusir paksa cowok berlesung pipi itu dari hatinya. Yah, ia tak mungkin mengusir Rayhan dari hidupnya, karena mereka 'kan teman sekelas.
Fiza terkekeh sendiri.
Tiba-tiba sebuah tangan memegang pundak Fiza. Ia hampir saja menjerit ketakutan jika tidak melihat wajah si pemilik tangan terlebih dahulu.
"Ayaaaah ngagetin aja sih! Ku kira siapa," ucap Fiza masih setengah deg-degan.
Ayah terkekeh, "Abis Fiza tumben duduk sendiri di ruang makan malem-malem gini, biasanya juga udah tidur. Lagi galau ya?" tebakan Ayah tepat sasaran.
Fiza mengerucutkan bibirnya. Apa terlihat jelas sampai-sampai Ayah menyadarinya? Ia hanya menggeleng perlahan.
Ayah mengusap kepala Fiza lembut lalu berujar, "Yaudah, sana masuk kamar, tidur. Istirahat, jangan mikir yang macem-macem lagi,"
Fiza menurut. Ia bangun dari duduknya lalu berkata, "Fiza tidur duluan ya. Ayah tidur juga loh, jangan begadang nontonin orang-orang berantem, tonjok-tonjokan sampe darahnya berceceran gitu, iiih!" ia bergidik geli membayangkannya.
"Tapi UFC* malem ini pemain senior yang tanding, Fiza. Masa Ayah gak nonton sih," Ayah merengek.
Fiza memasang ekspresi datar. Mau ia melarang sekeras apapun, Ayah akan tetap memegang teguh prinsip; menonton pertandingan UFC merupakan sebuah hiburan. Fiza nggak ngerti di mana letak hiburannya nontonin orang-orang berantem sampai darahnya bercucuran.
Akhirnya Fiza mengangguk sekilas, "Yang penting Ayah jangan tidur kemaleman. Fiza tidur duluan ya, selamat malem yah." Fiza berjalan gontai menuju kamarnya.
"Selamat malam juga, Fiza." balas Ayahnya lembut.
Setelah bersembunyi di balik selimut, tiba-tiba sebuah pertanyaan dari semua perasaannya selama ini muncul,
Kenapa dirinya bisa terjebak oleh kebaikan palsunya Rayhan?
**
Tiga hari berlalu semenjak Fiza menyadari semuanya. Semenjak hari itu, dengan sendirinya Fiza selalu menghindar setiap bertemu Rayhan. Bukan karena benci, tapi karena dirinya masih kecewa. Dan ini merupakan salah satu usahanya untuk menghapus perasaannya itu.
Bel istirahat sudah berbunyi. Seperti biasa Fiza dan ketiga temannya langsung melesat menuju kantin. Namun perjalan mereka terhambat karena rengekan Jea yang ingin melihat mading sekolah. Terpaksa mereka menurut. Lagian nggak biasa juga mading dipadati orang-orang seperti hari ini.
Sepertinya ada pengumuman penting atau sesuatu yang menggegerkan. Mereka berempat segera menyelak diantara kerumunan orang-orang. Dan wow, hari ini mading kelas disulap menjadi warna merah muda dengan hiasan hati di mana-mana.
Hari ini tanggal 13 Februari, dan besok 14! Apa mungkin ini ada hubungannya dengan lomba menyambut Hari Valentine beberapa minggu lalu?
"Pengumuman lomba selfie bersama doi!" Intan membaca judul di paling atas mading dengan mata menyipit. Oh, jangan bilang mata Intan mendadak minus karena kebanyakan belajar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Math is My Life
Novela JuvenilSemua bermula dari kebodohan gue di pelajaran Matematika. Dia datang, membawa harapan 'lo pasti bisa keluar dari kebodohan di pelajaran yang membutuhkan banyak rumus itu'. Dan semua berakhir saat gue bisa keluar dari kebodohan itu, tapi terjebak dal...
