***
Bel pulang baru saja berbunyi, murid-murid di kelas XI IPA 2 bersorak dengan senang, mengingat hari ini tepat pulang sekolah kelas mereka akan bertanding futsal dengan kelas XII IPS 1.
Murid laki-laki yang akan bergabung dalam pertandingan segera mengganti seragam mereka dengan jersey kebanggaannya. Setelah siap dengan pakaian jerseynya, semua murid dari kelas XI IPA 2 segera pergi ke lapangan. Tidak ada satu pun dari murid di kelas itu yang pulang lebih dulu hari ini, semuanya hadir di sana, ikut memeriahkan hal sederhana itu.
Reyna dan Ica juga murid lainnya sudah pergi lebih dulu ke lapangan, tersisa Ara dan Farah di dalam kelas. Dengan ragu Farah mengambil air mineral dan handuk kecil yang ada di dalam tas. Namun, beberapa detik setelahnya perempuan itu memasukkan kembali air mineral dan handuk kecil itu. Dan hal itu tak luput dari pandangan Ara yang juga masih berada di dalam kelas.
"Kenapa dikembaliin?" tanya Ara yang mengerti jika temannya ini hendak memberikan minuman itu untuk Reno, namun ada banyak keraguan di dalam dirinya.
"Tau ah, males Ra," jawab perempuan itu lesu. Meritsletingkan kembali tasnya.
"Far, udahan ya marahanya. Aku tahu kamu kecewa sama kak Reno. Kalo aku jadi kamu aku pasti juga ngerasain yang sama," ucap Ara berempati.
"Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah kita juga perlu untuk saling memahami? Dan Aku tahu kamu sama kak Reno selalu seperti itu, kalian bukan dua orang yang hanya mau paham sepihak, selama ini kalian bisa saling memahami," lanjut Ara.
Sewaktu kelas 10 Farah pernah bergabung menjadi anggota OSIS yang mana waktu itu Renolah yang menjabat sebagai ketuanya. Dan dari OSIS inilah mereka saling mengenal.
Farah tahu, dulu sewaktu Reno menjabat sebagai ketua OSIS, laki-laki itu punya kesibukan yang lebih dibanding siswa lain. Ditambah lagi Reno juga bergabung dengan tim futsal dan olimpiade ekonomi di sekolahnya. Jadwal main laki-laki itu tidak banyak waktu itu. Namun Farah bisa memahaminya, selama kesibukan Reno bukanlah suatu hal yang buruk. Dan Reno selalu memberi ruang untuk dia dan Farah, sekalipun hanya untuk sekedar berbicara lewat ponsel.
"Baikkan, ya? Kan kak Reno ngebatalin kemarin bukan sekedar ngebatalin, dia punya keperluan yang memang gak bisa ditinggalinkan, Far?" Ara mencoba membujuk Farah sekali lagi. Rasanya, dia tak rela melihat pasangan ini merenggang.
Farah terdiam, berpikir. Benar apa yang dikatakan Ara. Farah tahu dia cape, tapi bukan berarti setelah banyaknya bentuk memahami dari dia untuk Reno, menjadikannya enggan untuk melakukan hal itu lagi. Memahami berkali-kali tidak selalu salah juga tidak selalu benar, tergantung kita menggunakan bentuk memahami itu pada perbuatan yang seperti apa.
Lagian, Reno membatalkan janji kemarin karena memang dia harus mengikuti pertandingan yang jadwalnya diajukan satu hari dari jadwal sebelumnya. Itu juga akan menjadi pertandingan terakhirnya mewakili sekolah, karena sekarang dia sudah kelas 12. Rasanya jahat sekali kalau Farah membiarkan Reno tidak mengikuti pertandingan itu, sedangkan dia tahu, hal itu ialah hobi dari laki-laki itu.
***
Di lapangan SMA Highclassy, sudah ada banyak murid dari kelas XI IPA 2 dan XII IPS 1 yang berkumpul. Hanya ada murid-murid dari kedua kelas tersebut di sana, karena hari ini tidak ada jadwal ekstrakurikuler apapun di sekolah selain ekstrakurikuler futsal dan tari yang saat ini tengah sibuk berada di ruang seni. Mungkin hanya ada beberapa siswa lain yang memilih untuk tetap tinggal sedikit lebih lama di sekolah.
Ica dan Reyna melambaikan tangan pada Ara dan Farah yang baru saja sampai di lapangan untuk duduk di sebelah mereka. Selang beberapa detik setelah kedua perempuan itu duduk, pertandingan dimulai. Semua siswa yang berada di tepi lapangan memberikan sorakan semangatnya.
Di awal permainan, bola berada dalam kuasa tim kelas XII IPS 1 yang mana bola itu tengah di giring oleh Ardo. Laki-laki itu mengundang banyak sorakan dengan kelihaiannya dalam bermain bola. Entah laki-laki itu menyadari atau tidak jika ketampanannya akan lebih terlihat disaat-saat seperti ini.
Bukan hanya dari kelasnya saja Ardo mendapatkan sebuah dukungan, tapi juga dari kelas Ara. Banyak dari mereka yang memberi dukungan untuk laki-laki itu. Seolah mereka ini ialah tim netral.
Ara yang menjadi salah satu penonton di sana juga membiarkan matanya melihat setiap gerak yang dilakukan Ardo di lapangan sana. Ardo menggiring lalu mengoper bola ke tim seregunya dengan gerakan yang baik dan tenang. Bohong jika Ara bilang Ardo tak semenarik itu untuk dipandang dengan lama.
Sesaat kemudian, bola berada dalam kuasa kelas XI IPA 2, tak lama keluar dari lapangan dan berhenti tepat di depan perempuan yang belum juga mengalihkan pandangannya dari seseorang di lapangan itu. Semua mata tertuju ke arah Ara atau lebih tepatnya ke arah bola itu keluar, termasuk Ardo yang kini masih menjadi objek menarik di mata Ara.
Tatapan keduanya bertemu, membuat Ara tersadar dengan arah pandangannya sekarang. Perempuan itu segera mengalihkan pandangan dan dengan perasaan gugup mengambil bola yang kini menyentuh kaki miliknya.
Ardo berlari kecil ke arah perempuan itu menghampiri bola yang baru saja keluar dari lapangan. Melihat hal itu Ara langsung membuang bola yang kini ia pegang ke sembarang tempat, membuat Ardo yang baru saja berada di depannya menghela nafas.
Ardo menyentil pelan dahi Ara, lalu berlari pergi mengambil bola yang dibuang oleh perempuan itu.
"Heh, kenapa kamu buang bolanya?" tanya Farah menyenggol Ara.
Ara hanya terdiam, bingung juga dirinya harus menjawab apa.
Permainan kembali dimulai setelah Ardo mendapati bola itu. Kali ini bola tengah dikuasai oleh Gavin, membuat teman-teman Ara bersorak semakin bersemangat, terlebih Ica yang terlihat begitu semangat memberi dukungan untuk seseorang yang baginya spesial itu.
Tak lama bola sudah beralih di kaki Reno, kemudian mengopernya pada Ardo yang berada di dekat gawang. Laki-laki itu menerima bola dengan baik kemudian menendangnya ke arah gawang dan XII IPS 1 berhasil mencetak gol pertamanya.
Sebuah senyuman terbit dari wajah Ardo, membuat Ara lagi-lagi tanpa sadar memandang kagum pada laki-laki dengan nomor punggung 2 itu.
Ardo yang baru saja berjabat tangan dengan teman se timnya, mengarahkan pandangannya pada seseorang yang kini dengan jelas menatap ke arahnya dari tepi lapangan sana. Ardo mengangkat dagu, Apa liat-liat?. Ara membuang muka, meruntuki dirinya yang tertangkap basah memandangi laki-laki itu.
Aduh bego banget.
Pasti dia kepedean.
Ngapain juga aku liatin dia.
Di lapangan sana, Ardo menunduk menyembunyikan senyumnya. Senang mengetahui bahwa perempuan itu melihat ke arahnya. Rasanya Ardo ingin memperpanjang durasi pertandingan ini. Bermain bola akan selalu menjadi hal menyenangkan, terlebih jika ada perempuan itu di sana.
Beberapa menit berlalu, pertandingan berakhir dengan tim dari kelas Ardo sebagai pemenangnya, dengan skor 3-2. Mereka yang bermain dalam pertandingan itu saling berjabat tangan, melakukan foto bersama, mengabadikan momen hari itu.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Semoga (On Going)
Teen FictionTentang pertemuan itu, Ara tidak menginginkannya. Jika semesta mengizinkan, semoga tidak ada lagi segala bentuk pertemuan antara dia dengan laki-laki itu. Namun, perihal katanya dunia ini sempit, ternyata memang benar adanya. Mereka kembali bertemu...
