Jika hadirmu hanya lewat, semoga aku tak akan pernah terpikat
***
19.00
Ara menutup novel yang baru saja ia baca dan membiarkannya tergeletak di atas tempat tidur. Perempuan dengan posisi yang semula telungkup itu, kini telah merubah posisinya menjadi telentang menghadap langit-langit kamar.
Kejadian sewaktu pulang sekolah tadi tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya. Mencoba menerka apa maksud dari rencana laki-laki itu dengan persyaratan yang dibuat untuk dirinya.
Perempuan yang senang sekali dengan dunia fiksi ini, pada awalnya berpikir syarat itu dibuat dengan maksud membuatnya jatuh hati dalam waktu 3 minggu, kemudian meninggalkannya dengan alasan yang tidak jelas. Seperti halnya film-film romance yang pernah ia tonton, juga beberapa novel yang pernah perempuan itu baca. Dasar Ara di paling anak fiksi.
Namun, kejadian pulang sekolah tadi membuat pemikirannya berubah, "Dia pasti mau ngerjain aku gara-gara kejadian di minimarket minggu kemarin," tebaknya.
"Iya, aku tahu waktu itu aku nyolot, tapi itu kan juga gara-gara dia yang sok sibuk sama hp nya," gerutunya.
Kejadian Minggu lalu, di depan minimarket. Kejadian itu mungkin memiliki keterkaitan dengan persyaratan yang dibuat oleh laki-laki berbadan jangkung itu. Entah ada perasaan kesal atau apapun dibenak laki-laki itu pada Ara, hingga persyaratan itu dibuat dan akhirnya menyulitkan perempuan itu.
"Dasar ngeselin!" kesal Ara melempar novel miliknya ke arah pintu dan mengenai bundanya yang baru saja muncul disana.
Ara mendudukkan diri dari posisi telentangnya, terkejut mendapati bundanya yang berada di bawah bingkai pintu. "Eh, bun! Maaf Ara nggak sengaja." Perempuan itu beranjak menghampiri bunda.
"Kamu ini kenapa, buku kok dilempar-lempar?" tanya bunda sembari mengambil novel yang tergeletak didepannya.
"Mmm, anu bun." Ara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia bingung harus memberi jawaban seperti apa kepada bundanya.
"Ada apa bunda nyariin Ara?" lanjutnya mengalihkan pada pembicaraan lain.
"Abang beli seblak buat kamu tuh."
"Iyakah?" Wajah Ara seketika sumringah mendengarnya. Bunda mengangguk.
"Yaudah ayo turun bun." Ara menarik tangan bunda untuk segera turun.
"Kamu lagi kesel sama siapa?" tanya wanita paruh baya itu lagi, yang cukup mengerti dengan tingkah dari anaknya ini. Ara pun tak terkejut dengan sikap bundanya demikian. Sebab, manusia yang ia panggil bunda ini adalah manusia dengan banyak kelihaian didalamnya dirinya, termasuk dalam memaknai apa yang dirasakan oleh anaknya.
"Oh, tokoh di novel itu, bun," jawab Ara yang akhirnya menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan bunda.
"Memangnya si tokoh dalam novel itu kenapa?".
"Mereka pernah menjadi dua manusia yang saling memberi bahagia, tapi pada akhirnya mereka memilih untuk mencari kebahagiaannya sendiri-sendiri. Mereka udah nggak sama-sama, bun," cerita Ara tentang novel yang baru saja dia baca. Tangannya masih menggandeng tangan bunda menuruni anak tangga.
***
Diruang keluarga, kini menyisakan Ara dan Farel yang tengah sibuk bermain game online. Bundanya pergi ke minimarket, hendak membeli es krim untuk Bunga. Gadis kecil itu juga ikut dan nanti ketika pulang pasti akan membawa banyak es krim di kantong yang ada ditangannya.
Seblak yang dibelikan oleh Farel tadi sudah disantap lahap oleh Ara, menyisakan mangkok dan juga sendoknya. Bersamaan dengan itu, layar besar televisi didepannya beralih menampilkan iklan mengganti acara televisi yang semula perempuan itu tonton.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semoga (On Going)
Teen FictionTentang pertemuan itu, Ara tidak menginginkannya. Jika semesta mengizinkan, semoga tidak ada lagi segala bentuk pertemuan antara dia dengan laki-laki itu. Namun, perihal katanya dunia ini sempit, ternyata memang benar adanya. Mereka kembali bertemu...
