26. Cerita Pelipur Lara

27 0 0
                                        

Ara kembali mendudukkan dirinya di kursi teras milik Ardo, mengurungkan niatnya untuk pulang dan memilih menemani laki-laki itu sebentar. Tak tega melihat wajah pucat juga mata sembab Ardo, Ara yakin laki-laki itu pasti habis menangis.

Teras rumah besar itu terasa nyaman untuk ditempati. Banyak tanaman yang tumbuh dan terawat di sana, membuat mata siapapun senang melihatnya. Tanaman itu milik mama Ardo.

Dulu, setiap hari mama Ardo selalu berkutik dengan tanaman itu. Mulai dari menyiram, memupuk, membersihkan daun yang layu berjatuhan dan memotret tanaman-tanaman itu. Sekarang tanaman itu tidak mendapat perhatian penuh dari mamanya. Mbok Inem yang menggantikan untuk merawatnya.

"Tanaman ini harus terus dirawat dan taman ini harus tetap hidup," kata Yuni. Hanya di waktu lenggang saja tanaman itu akan dirawat kembali oleh mama Ardo.

"Ra," panggil Ardo pada perempuan yang kini memakan camilan sambil duduk menatap tanaman di teras rumah besar itu.

Ara menoleh, "Apa?"

"Lo suka baca novel kan?"

"Iya."

"Ceritain novel yang terakhir kali lo baca."

"Kenapa?" Ara terheran mengapa tiba-tiba Ardo ingin Ara bercerita tentang novel.

"Ya, pengen denger lo cerita aja."

"Nggak, males," tolak Ara sebelum perempuan itu pada akhirnya tetap bercerita. Ardo terus memaksanya.

Menceritakan tentang apa yang kita suka, menjadi salah satu hal yang paling menyenangkan di dunia ini. Terlebih ketika menemukan tempat yang tepat untuk bercerita, tempat yang memberi ruang untuk kita bebas menceritakan hal yang menyenangkan itu. Jadi, Ara berbohong ketika ia bilang malas untuk menceritakan novel yang dibacanya. Ara hanya merasa sedikit canggung.

Perempuan itu kemudian mulai menceritakan novel yang tadi malam ia baca hingga bergadang. Ardo melihat tidak ada rasa malas seperti apa yang Ara ucapkan. Ara menceritakan alur cerita dengan rinci, memperkenalkan tokoh - tokoh dalam novel tersebut, menceritakan tokoh yang paling Ara sukai di sana juga alasan mengapa ia menyukainya. Ara juga bercerita part mana yang paling perempuan itu sukai, part paling menyenangkan hingga part paling menyedihkan juga menyakitkan. Sesekali Ardo menanggapi dan bertanya dari apa yang Ara ceritakan.

"Udah segitu aja, belum selesai bacanya." Hampir setengah jam Ara bercerita tentang novel dengan halaman hampir 400 yang belum selesai Ara baca itu.

"Mau dilanjut kapan bacanya?" tanya Ardo yang juga ingin tahu akhir cerita novel itu seperti apa.

"Gak tahu, gamau ditamatin dulu."

"Kenapa?"

"Gak papa."

"Takut pisah sama mereka?" tebak Ardo yang membuat Ara menoleh. Benar apa yang dibilang laki-laki ini.

Membaca novel seringkali dihadapkan dengan perasaan ingin segera tahu akhir cerita akan seperti apa, juga perasaan tak ingin segera menamatkan cerita dan berpisah dengan kehidupan tokoh di novel itu. Itu hal yang juga Ara rasakan.

"Rumah kakek nenekku dulu juga berada di lingkungan sini," ucap Ara berganti topik setelah pembahasan tentang novel selesai.

"Iya, tahu." jawab Ardo.

"Sok tau banget."

"Emang tau."

"Siapa coba namanya?"

"Nenek Laras, rumahnya jarak 5 rumah dari sini."

Ara mengerutkan dahinya kaget. "Kok tahu?!"

"Gue juga pernah ke rumah lo waktu kita umur 7 tahunan."

"Ngapain? Bohong banget."

"Nggak ya."

"Terus ceritanya gimana?"

Ardo membenahi duduknya, kini giliran Ardo yang bercerita.

"Tiga bulan sebelum nenek Laras pindah ke rumah lo, gue pindah ke rumah ini. Disambut baik sama tetangga di sini termasuk nenek Laras. Tapi gue cuma tahu nenek Laras. Kata beliau, suaminya sudah meninggal 5 tahun yang lalu."

"Nenek Laras yang tinggal sendiri sering berkunjung ke rumah tetangga termasuk ke rumah gue. Dan mama juga sering ngajak gue ke rumah nenek Laras. Sebulan itu keluarga gue cukup dekat dengan nenek Laras."

Ara membenahi posisi duduknya sedikit menghadap ke arah Ardo, semakin antusias mendengarkan kedekatan keluarga Ardo dengan neneknya.

Ardo melanjutkan ceritanya. Menceritakan juga tentang mamanya yang berhari-hari mengeluh bahkan menangis merindukan nenek Laras ketika beliau pindah. Ardo juga ikut merasakan kehilangan.

Setelah hampir satu Minggu sakit di rumah sakit, nenek Laras pindah ke rumah Ara, dan pada akhirnya nenek Laras menetap di sana. Bunda Ara khawatir dan meminta ibunya untuk tinggal bersamanya, agar ia bisa memberi banyak perhatian dan lebih mudah dalam merawat ibunya.

Satu bulan setelah nenek Laras pindah, tetangga di sana mendapat kabar nenek Laras sudah tidak ada. Semua tetangga di lingkungan itu pergi kerumah Ara melihat nenek Laras untuk terakhir kalinya.

Waktu itu Ardo melihat perempuan seumurannya menangis di samping nenek Laras yang sudah tidur tenang di sana. Itu Ara, menangis dengan kencangnya memenuhi seisi ruangan. Telinga siapapun yang berada di ruangan sana pasti mendengar tangisan histeris bocah itu. Ada bunda Ara yang memeluk gadis kecil itu untuk menenangkan.

Ara juga masih ingat jelas kejadian itu, tentang tangis pecahnya juga sesak yang ia rasakan saat itu.

"Terus gimana kamu bisa tahu kalau yang nangis itu aku? Maksudnya kok bisa ngenalin kalau itu aku?" Sedari Ardo bercerita, Ara terus saja memikirkan hal itu. Tentu tidak akan mudah mengenali wajah seseorang yang sudah beranjak dari masa kecilnya.

"Siapa bilang gue bisa ngenalin wajah lo yang sudah tua itu."

"Kamu lebih tua!"

"Nama lo sama, rumah lo juga sama, muka lo nggak sama tapi ada kemiripan dan dilihat dari umur lo sekarang itu ngebuat gue yakin kalau itu memang lo, Ra. Dan lo tahu Ra, itu bukan pertama kali kita ketemu, 3 bulan sebelumnya kita sudah pernah ketemu dan dari situ awal gue tahu nama lo. Terus waktu kita ketemu di minimarket dan lo negur gue, gue juga udah tahu kalo lo itu bocah yang dulu menangis dengan kencangnya di samping nenek Laras."

Ara menatap Ardo penuh tanya, bagaimana bisa?

Hal mengejutkan seringkali terjadi setelah hari-hari di mana Ara bertemu dengan Ardo. Mulai dari fakta bahwa laki-laki yang menyebalkan ini ialah sepupu Reyna, Ardo yang ternyata kakak kelasnya yang harus Ara wawancara, dan sekarang tentang kedekatan neneknya dengan keluarga Ardo serta tentang Ardo yang sudah mengenal dirinya sedari kecil.

Suara pagar terbuka, menampakkan dua remaja laki-laki seumuran dengan Ardo datang. Itu Reno dan Dito, tercengang melihat dua orang yang duduk di teras. Terlebih Dito, ini pemandangan pertamanya melihat Ardo dan Ara berdua, laki-laki itu berseru heboh pada keduanya. Ardo belum juga memberitahu apa yang terjadi antara dia dan Ara.

Ara gugup, tak nyaman dengan suasana ini. Ardo yang melihat kegugupan Ara, melototkan matanya memberi kode kepada kedua temannya untuk tidak bereaksi berlebihan. Reno segera membungkam mulut Dito dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Menyempatkan untuk mengangguk dan tersenyum kepada Ara.

Ara juga segera beranjak pergi dari tempat duduknya. Membiarkan cerita Ardo yang belum selesai itu, sekalipun Ara ingin tahu bagaimana kelanjutannya.

"No, kunci." Reno melempar kunci miliknya dari dalam rumah. Ardo yang di bingkai pintu menyambar kunci mobil dan segera mengejar Ara, membujuknya agar perempuan itu membiarkan Ardo untuk mengantarnya pulang, juga akan memberi penjelasan tentang kedatangan kedua temannya itu. Ardo sungguh tidak tahu kedua temannya akan datang siang itu.

Bersambung...

Terimakasih udah sempetin baca ceritakuuu<3

Semoga (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang