9. Yang Dirindukan

103 9 0
                                        

***

Ardo menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas yang semula berwarna hijau itu telah mengganti warnanya dengan warna merah, menandakan para pengendara untuk berhenti sementara.

"Yailah, siapa juga naroh lampu merah di sini."

"Gatau apa bentar lagi bel masuk."

"Mau tobat telat padahal, bisa-bisanya nih lampu merah halangin."

"Bener-bener deh, nggak pengertian banget."

Dito yang pagi ini berangkat ke sekolah bersama Ardo tak henti-hentinya mengomel mengingat jam sudah menunjukkan pukul 06.55. Ini berarti 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi.

Ardo yang sedang duduk di belakang kemudi tak ingin menggubris ocehan temannya itu. Matanya fokus mengarah pada anak laki-laki berseragam putih merah. Anak laki-laki itu melintas di depan mobil Ardo, senyumnya merekah dengan tangan yang menggandeng erat tangan pria paruh baya yang ia yakin itu ialah ayah dari anak laki-laki itu.

Senyum hangat dari keduanya mengingatkan Ardo pada sosok pria yang ia rindukan kehadirannya. Sosok laki-laki hebat yang tak pernah gagal dalam memainkan peran sebagai seorang papa juga teman untuk dirinya.

Ardo tersenyum ikut merasakan hangatnya interaksi dua manusia itu. Dia ingin bercengkrama dengan papanya seperti dulu lagi. Namun suara yang selalu ingin Ardo dengar itu, kini tak bisa ia dengar lagi. Sosok papa dalam hidupnya kini telah pergi.

Semua hal bersama papanya takkan pernah bisa ia lupakan. Sebuah kenangan indah yang sangat disayangkan jika harus dengan cepat dilupakan. Raganya memang sudah pergi, tapi kenangannya akan selalu terukir dengan rapi.

"Do," panggil Dito menyadarkan Ardo dari lamunannya.

Laki-laki itu langsung memalingkan wajahnya dari Dito, menormalkan raut wajah yang mulanya sedih itu.

"Apa?" Ardo menoleh.

"Udah lampu ijo tuh, diem bae." Dito mengangkat dagu menunjuk lampu lalu lintas.

Ardo ikut melihat ke arah lampu lalu lintas yang saat ini sudah berganti dengan warna hijau dan bersiap melajukan mobilnya setelah klakson dari mobil di belakangnya berbunyi.

Pukul 07.07 barulah keduanya sampai di sekolah. Gerbang utama sudah ditutup tepat pukul 07.00 tadi. Akhirnya mereka memilih untuk masuk dengan memanjat pagar belakang, seperti biasa saat mereka datang terlambat.

Pelajaran pertama di kelas XII IPS 1 ialah pelajaran bu Nirma, guru sejarah yang dikenal sebagai guru yang killer. Ardo dan Dito kini harus menerima hukuman dari beliau, dan ini hukuman yang ke 3 kalinya dengan alasan mereka terlambat saat jamnya.

Biasanya bu Nirma hanya menghukum mereka untuk berdiri di depan kelas sampai pelajaran beliau selesai. Karena dirasa tidak ada kapoknya, kali ini bu Nirma menghukum mereka berdua untuk lari mengelilingi lapangan selama 5 putaran dan membersihkan tepi lapangan yang dipenuhi dengan dedaunanan kering. Membiarkan petugas kebersihan istirahat sejenak dari tugasnya.

Tidak hanya itu, mereka juga harus berdiri selama 30 menit di tepi lapangan sebelum bel istirahat berbunyi, sembari mendengar ocehan dari guru killer itu. Anak-anak dikelas Ardo kegirangan sebab 30 menit terakhir pelajaran Bu Nirma, beliau memilih pergi dari kelas dan sibuk menceramahi dua temannya yang terlambat itu.

2 jam lebih pelajaran bu Nirma berlangsung dan suara bel istirahat telah berbunyi, menandakan Ardo dan Dito telah selesai melaksanakan hukumannya. Keduanya bernafas lega.

"Nih, minum." Reno menyodorkan 2 botol air mineral kepada kedua temannya itu. Setelah kelas Bu Nirma berakhir, Reno segera pergi ke kantin dan membelikan minum untuk mereka.

Semoga (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang