***
"Bang, seblak 4 ya, dibungkus," pesan seorang pemuda pada penjual seblak yang biasa dipanggil bang Sholeh.
"Long time no see bro!" bang sholeh tersenyum senang melihat pelanggannya yang sudah cukup lama tidak datang ke tempatnya.
Pemuda itu ikut tersenyum, "Sekarang udah gaul ya, bisa bahasa inggris."
Keduanya tertawa.
"Seblak tanpa ceker kaya dulu?" tanya bang Sholeh yang paham betul dengan apa yang biasanya pemuda itu beli. Pemuda itu seringkali membeli seblak tanpa ceker untuk mamanya disini, terkadang juga mengujungi langsung tempat ini bersama mama. Mamanya lah yang mengenalkan pemuda itu dengan tempat dan makanan khas Bandung itu.
"Seblak komplit aja bang," jawabnya.
"Seleranya udah berubah ya?"
"Bukan buat saya atau mama, bang. Orangnya udah jarang di rumah."
Bang sholeh mengangguk, tersenyum getir dengan apa yang menimpa keluarga itu.
"Buat siapa emang?" tanya bang Sholeh untuk pengalihan dari topik yang akan membuat pemuda itu merasa sedih jika terus membahasnya.
"Buat cewek lain bang."
"Wah, udah punya pacar sekarang?"
"Belum. Kan saya bilangnya cewek bukan pacar bang."
"Aduh kirain. Ganteng - ganteng kok jomblonya awet."
"Gapapa, yang penting ganteng."
"Iya deh. Yaudah, duduk dulu tak buatin seblaknya," kata bang Sholeh. Pemuda itu mengangguk kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang sudah disediakan di sana. Pemuda itu mengedarkan pandangannya, melihat tempat makan yang hampir satu tahun ini tidak dia kunjungi. Sudah banyak yang berubah dari tempat ini, lebih bagus dan nyaman.
15 menit berlalu, apa yang pemuda itu tunggu kini sudah selesai. Bang Sholeh datang dengan 4 bungkus seblak ditangannya. "Ini bro, seblaknya udah jadi".
Pemuda itu pun mengeluarkan selembar uang 100 ribu dan memberikannya kepada bang Sholeh.
"Makasih bang, duluan," ucapnya beranjak pergi dari sana.
"Eh, kembaliannya," teriak bang Sholeh beringsut menghampiri pemuda itu. Seblak komplit di bang Sholeh hanya diberi harga sebesar 20 ribu per porsi.
Pemuda itu menoleh, "Udah ambil aja."
"Wah, gak bisa."
"Yaudah, buat bayar seblak kalo kesini lagi."
"Sama cewek ya datangnya!"
"Iya, semoga," jawab pemuda itu tersenyum lalu berjalan ke arah mobil miliknya.
***
Hari ini setelah pulang sekolah, Ara, Farah dan Ica akan menginap di rumah Reyna. Orang tua Reyna sedang ada urusan di luar kota dan mungkin besok baru akan pulang.
Rasanya rumah akan terasa sepi jika hanya ada perempuan itu dan bi Mina. Akhirnya Reyna mengajak ketiga temannya untuk menginap dan menemaninya. Dengan hadirnya mereka, hal itu bisa menjadi pelenyap sepi yang ada di sana.
Saat ini mereka sedang menghabiskan waktunya dengan menonton drama Korea bersama di ruang keluarga milik perempuan itu. Setengah episode dari drama yang mereka tonton berlalu, dan tepat saat itu juga Ara merasakan haus di tenggorokannya. Bi Mina--ART di rumah Reyna yang biasanya dengan cepat menyiapkan minuman untuk tamu yang datang, tapi saat ini beliau sedang pergi sejak Reyna dan teman-temannya sampai di sana. Tebak Reyna, mungkin bi Mina sedang belanja ke Supermarket. Bi Mina seringkali pergi belanja di jam 3 sore seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semoga (On Going)
Novela JuvenilTentang pertemuan itu, Ara tidak menginginkannya. Jika semesta mengizinkan, semoga tidak ada lagi segala bentuk pertemuan antara dia dengan laki-laki itu. Namun, perihal katanya dunia ini sempit, ternyata memang benar adanya. Mereka kembali bertemu...
