27. Topi Upacara

22 0 0
                                        

Berbeda dengan hari Minggu, hari Senin seringkali menjadi hari yang tidak disukai oleh sebagian besar manusia, hari yang seolah tak pernah ditunggu kehadirannya, hari dimana umumnya manusia harus kembali lagi pada aktivitasnya.

Di hari Senin, para siswa harus melakukan upacara yang melelahkan di bawah terik matahari. Salah satu hal yang kurang disukai oleh hampir seluruh siswa di pelosok negeri. Topi upacara dan atribut lainnya tidak boleh sampai terlupakan, karena hukuman akan datang pada siapapun yang tak membawanya.

Seperti saat ini, Ara tengah kebingungan dengan topi upacaranya yang tertinggal. Bertanya pada seluruh temannya di kelas siapa yang membawa 2 topi untuk bisa ia pinjam dan menyelematkan dirinya dari hukuman. Namun tidak ada teman sekelasnya yang bisa menyelamatkan Ara saat ini. Memang tak banyak dari siswa yang mempunyai 2 topi.

Ara mengajak Reyna keluar mencari pinjaman dari kelas lain. Upacara akan dimulai 5 menit lagi, mereka berlari dengan gopoh keluar dari kelas. Farah dan Ica juga ikut mencari di kelas lain.

Reyna dan Ara menanyai siapapun yang lewat di koridor, berharap ada dari mereka yang membawa 2 topi untuk bisa dipinjamkan. Dari kejauhan Reyna melihat sepupunya berjalan di koridor sana.

"Ardooo!" teriak Reyna sambil berlari ke arah Ardo. Ara hanya mengikuti langkah Reyna, karena Reyna masih menggandeng tangannya.

"Apa Rey?" tanya Ardo yang melihat wajah cemas kedua perempuan di depannya kini secara bergantian.

Reyna menenangkan deru nafasnya lebih dulu. "Bawa topi berapa?"

"Kenapa?"

"Ara lupa nggak bawa topi."

Ardo melirik ke arah Ara yang tak mau menatap ke arahnya. Perempuan itu masih mendiaminya sedari kejadian di rumahnya kemarin. Ardo sudah menjelaskan berkali-kali dia tidak tahu temannya akan datang, mereka tidak bilang akan datang siang itu. Ketika Ardo mengantar Ara pulang pun hanya ada keheningan di dalam mobil itu. Hanya satu kata yang Ara ucapkan, 'Terimakasih'.

Sebenarnya Ara percaya dengan penjelasan Ardo. Namun tetap saja Ara masih kesal karena waktu itu Ardo memintanya datang ke rumah dan berakhirlah bertemu dengan Reno dan Dito.

Ardo mengambil topi yang ada di tasnya, teringat ada 2 topi yang ia bawa hari ini.

"Nih, gue ada dua." Satu topi Ardo berikan pada Ara. Ara reflek menengok, merasa sangat lega mendengar hal itu.

"Mau nggak?" tanya Ardo yang melihat Ara tak juga meraih topi miliknya.

Dengan ragu Ara mengambilnya, tidak mau memperdulikan rasa kesal dan gengsinya yang masih ada. Upacara sebentar lagi akan segera dimulai!

"Aku pinjam dulu," ucap Ara, Ardo mengangguk.

"Huh, akhirnya Ra." Reyna ikut merasa lega dengan hal itu.

Bel berbunyi, petugas upacara sudah bersiap diri di lapangan dengan setelan yang berbeda dari murid SMA Highclassy lainnya. Murid-murid berhamburan keluar dari kelas. Beberapa murid ada yang baru datang dan segera berlari menuju ruang kelas meletakkan tasnya lebih dulu.

Semua murid berdiri sesuai dengan barisan kelasnya. Bagi siswa yang terlambat dan tidak menggunakan atribut lengkap, diperkenankan untuk berada di barisan depan menghadap seluruh peserta upacara. Mata mereka menyipit terkena matahari yang menyorot ke arahnya.

Ada 9 siswa yang berdiri di depan sana. Salah satunya ialah laki-laki berbadan jangkung yang terlihat cukup jelas dari tempat Ara berbaris.

"Rey." Ara menyenggol Reyna yang berbaris di sampingnya.

"Apa?"

"Sepupu kamu kok berdiri di situ?"

Reyna mengikuti arah pandang Ara, "Lah iya, ngapain dia?"

"Kok nggak pakai topi juga, tadi dia bilang ada dua."

Reyna menyipitkan matanya berpikir, lalu beralih menatap Ara dengan menahan senyum. "Mungkin yang satu punya temennya, Ra."

"Lah terus kenapa dipinjemin!" seru Ara yang merasa bersalah.

"Nah, kalau gitu artinya apa?" Reyna mengedipkan satu matanya menggoda.

"Apa?" Ara berpikir sejenak sebelum perempuan itu sadar bahwa Reyna sedang menggodanya lagi dan lagi. Ara yang semula berbisik dengan Reyna, segera mengakhiri kegiatannya itu. Tubuhnya berdiri tegak mulai mengikuti upacara dengan khidmat.

Rangkaian upacara satu per satu sudah terlaksana, dan sampailah upacara itu pada amanat pembina upacara. Matahari semakin tinggi, sinarnya semakin terpancar membuat siapapun yang berada di lapangan itu berkeringat. Berharap pembina upacara segera menyelesaikan amanatnya.

Sekilas Ara melihat ke arah barisan siswa yang terkena hukuman, lebih tepatnya melihat ke arah Ardo. Mata laki-laki itu menyipit terkena sorotan matahari yang menghadap ke arahnya. Ara masih saja memikirkan bagaimana laki-laki itu tidak memakai topi dan berakhir berdiri di sana.

Ara kembali mengarahkan pandangannya pada pembina upacara yang masih saja semangat memberikan amanatnya. Persis saat itu, berganti Ardo yang melihat ke arah Ara. Perempuan itu berdiri di barisan nomor 2 dari depan, terlihat cukup jelas dari tempat Ardo berdiri sekarang.

Perempuan itu sesekali menyingkirkan rambut yang tertiup angin dari wajahnya. Ardo tersenyum melihatnya, tak keberatan dengan hukuman yang laki-laki itu jalani saat ini. Senang bisa membantu perempuan itu juga senang bisa melihat Ara dari celah yang ada. Sorotan matahari yang menyilaukan mata tak menghalanginya untuk melihat perempuan itu berkali-kali.

Pembina upacara menutup amanatnya. Peserta upacara bernafas lega dan kembali ke posisi sikap sempurna setelah mendapat aba-aba dari pemimpin upacara. Amanat pembina upacara selalu menjadi hal yang ditunggu waktu berakhirnya.

"Rey, ini topinya dikembaliin kapan ya?" Ara kembali menyenggol sahabatnya meminta saran.

"Langsung aja habis upacara selesai."

"Nggak dicuci dulu?"

"Nggak usah, pinjam bentar doang juga. Tuh topi paling juga jarang dicuci."

Ara mengangguk menurut saja.

Pembina upacara meninggalkan lapangan, menandakan upacara hari ini telah sampai pada penghujungnya. Peserta upacara dibubarkan dari barisannya. Ara berjalan sendirian menuju ke arah Ardo yang baru saja berbalik dari barisannya. Reyna pergi lebih dulu ke koperasi yang berada dekat lapangan, membeli kertas folio untuk pelajaran pertama setelah upacara usai.

"Kak Ardo," panggil Ara. Laki-laki yang dipanggilnya menoleh.

"Ini topinya, makasih." Ara menyodorkan topi warna abu itu dengan ragu.

Ardo meraih topi miliknya "Sama-sama, Ra."

"Kenapa nggak pake topi?" tanya Ara yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"Hah?" Ardo sedikit terkejut mendapati pertanyaan dari perempuan yang sebelumnya mendiaminya itu.

"Kenapa gak pakai topi, katanya ada dua?" ucap Ara sekali lagi.

"Oh lupa, kalo satunya punya Dito." Ara mengernyit dahi, itu jawaban yang cukup aneh baginya.

Topi itu memang benar milik Dito yang sudah seminggu berada terbawa olehnya, tapi Ardo tidak lupa kalau topi itu bukan miliknya.

"Aneh!"

Ardo hanya tersenyum menanggapinya.

"Sekali lagi, makasih. Maaf juga," ucap Ara sekali lagi sebelum pergi.

"Sekali lagi, sama-sama, Ra. Apa yang perlu di maafin?"

"Ya, karena aku pinjam topi ini, kamu jadi kena hukuman."

"Gue maafin kalo lo nggak ngediemin gue lagi. Gue juga minta maaf soal kemarin."

Ara tersenyum, "Oke deh, deal," ucap Ara sepakat sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan Ardo yang masih berdiri di tepi lapangan.

Satu per satu murid di lapangan itu menghilang dari lapangan. Tersisa Ardo yang masih berdiri sendirian memandangi punggung perempuan itu hingga menghilang tak terjangkau oleh penglihatannya.

Merasa lega, senang, juga merasakan perasaan aneh di dalam hatinya melihat perempuan itu sengaja tersenyum kepadanya.

Bersambung...

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 24, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Semoga (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang