Dorrr
Dorrr
Dorrr......!!!
Entah sudah peluru keberapa yang ditembakkan Dalton pagi ini. Lingkaran sasaran tembak sejauh 20 meter itupun sudah tak berbentuk karena sudah begitu banyak tertembus peluru. Dan walaupun telah rusak benda itu seakan tetap pasrah sebagai obyek pelampiasan tuannya.
Dalton memang marah!
Tapi ia tidak tahu marah pada siapa. Mungkin dengan dirinya sendiri dan tak tahu bagaimana cara melampiaskannya.
Ia tak bisa mengendalikan dirinya. Terombang-ambing dalam perasaan kacau yang membuatnya gila. Ia ingin menghancurkan gadis itu, tapi perasaannya sendiri yang terasa hancur. Saat melihat gadis itu sakit, ternyata dirinya merasa lebih sakit. Seperti saat ini.
Sanggupkah ia menyelesaikan misinya untuk membalas dendam atas kematian ayah angkatnya, Mr. Bone?
Akhkk....!!!!
Dorrrr
Dorrrr
Doorrrrr....!!!!
Kembali Dalton membidik lingkaran merah nun jauh disana. Wajahnya yang dingin dan tajam ternyata baru menyimpan kekalutan luar biasa.
Peluru habis.
Dalton berhenti.
Ia memejamkan mata sambil menghirup udara sejuk dipagi yang cerah ini. Lapangan tembak itu terdapat dibelakang mension Dalton yang luas. Sama dengan area golfnya, area tembak ini juga berada diatas padang rumput yang luas. Dipinggirnya terdapat pohon cemara yang tinggi menjulang.
Biasanya Dalton mengabiskan waktunya disini ketika akhir pekan. Bukan pagi-pagi saat ia harus bersiap kekantor seperti sekarang. Ada rapat dengan klien nanti pukul 09.00 untuk membahas kerjasama pembukaan cabang tambangnya di Rusia.
Ia baru mau mengganti peluru saat tiba-tiba Noah berlari ke arahnya.
"Tuan... Tuan... Nona tak sadarkan diri dikamar mandi.. "
Katanya terengah karena habis berlari. Noah hanya berani malaporkan semua yang berkait nona Easy kepada tuan Dalton seperti pesannya tempo hari.
Dan Dalton langsung berlari kedalam mension begitu mendengar laporan dari Noah.
----------------
Jack keluar kamar begitu selesai memasang selang infus ditangan Easy. Ia merasa kasihan melihat badan Easy yang tampaknya sangat lemas tak berdaya. Apa Dalton menyerangnya sepanjang hari?
Hehh... ..
Jack menghela nafasnya.
"Bagaimana dia, Jack? "
Tanya Dalton terlihat cemas membuat Jack meninggikan alisnya. Seakan mengejek tingkah aneh Dalton.
"Kau mulai mencemaskannya? "
"Jawab saja pertanyaanku, brengsek! " Dalton tak mau dipermalukan.
"Hai..! Siapa yang brengsek disini kawan? Aku, orang yang mengobati wanita pingsan. Atau kau! Orang yang membuatnya pingsan?! hemmm? " jawab Jack yang semakin membuat Dalton kesal.
Dan Jack semakin bangga bisa membuat pria didepannya ini kesal dan penasaran.
"Sudah kukatakan dari awal, berhentilah sebelum menyesal...."
Tambah Jack
"Kalau masih penasaran lihat saja sendiri kedalam. Aku pergi dulu. "
Jack bersiap untuk pergi tanpa peduli sebesar apa rasa kesal yang ditahan Dalton saat ini. Dan saat Jack sudah sampai dipintu, ia berbalik lagi.
" Jangan lupa setelah siuman ingatkan ia dengan obatnya....juga.. Jangan sering menyerangnya. Ia tak sekuat dirimu teman! "
Pesannya sambil mengedipkan satu mata menggoda dan dibalas dengan lemparan bantal sofa oleh Dalton.
Jack memang dokter pribadi Dalton. Namun sejatinya mereka adalah sahabat sejak kecil. Ayah Jack yang memiliki banyak rumah sakit besar di Amerika memang mengkandidatkan Jack sebagai anak satu-satunya untuk melanjutkan bisnis ayahnya. Maka sejak awal dia memang diarahkan ke bidang itu. Dan jangan salah, walau Jakc hanya sebelas dua belas brengseknya dengan Dalton namun ia merupakan pria yang cerdas. Bahkan dengan umur semuda itu ia sudah mendapatkan gelar MD (Doctor of Medicine) di Dallas beberapa tahun lalu. Keren bukan?
Dalton berjalan menuju kamar. Ia membuka pintu pelan. Easy masih memejamkan mata. Deru nafasnya terdengar sangat halus sekali. Hati-hati Dalton mendekat ke sisi bed. Ia terus memandang wajah cantik yang pucat pasi itu. Dan ia merasa bersalah.
Dalton memang egois. Ia sendiri yang tak bisa menangani kekacauan perasaanya, tapi selalu Easy yang jadi pelampiasan. Kini... Hatinya serasa dicabik-cabik.
Hehhhh.....terhembus aura penyesalan di helaan nafas Dalton.
Dengan hati-hati diraihnya jari-jari Easy yang tidak terpasangi selang infus. Diciumnya dengan lembut jari lentik itu penuh perasaan luka. Sekarang Dalton benar-benar menyadari. Bahwa dia memang menyukai gadis itu. Dan luka ini berasal dari perasaan itu. Hanya saja..... Ia ingin menampik perasaannya pada Easy. Ia tak mau perasaan itu keluar dan berkembang. Namun semakin ia menekannya, semakin membuat perasaannya kacau.
Akhh........
Dalton masih menciumi jari Easy dengan penuh perasaan sayang. Ia memejamkan mata menahan buliran air mata yang tanpa diundang sudah berkumpul disana.
Tidak!
Dia tidak selemah itu. Tak ada dalam kamusnya air mata. Dan itu sudah diajarkan ayahnya sejak kecil. Pria tak boleh mengeluarkan airmata sebesar apapun masalahnya. Dan ayahnya adalah contoh nyata dari semua itu. Hanya ketegasan dan kebengisan yang dimiliki ayahnya. Itulah yang dipelajari Dalton sejak kecil. Ia tak pernah mengenal ibunya yang konon meninggal saat melahirkannya. Iapun tak pernah tahu siapa sebenarnya ayahnya. Ia hanya tahu bahwa Mr. Bone adalah ayah angkatnya. Karena itu yang selalu ditekankan ayah angkat padanya. Namun anehnya, pria itu menyayangi dan menjaga Dalton melebihi nyawanya sendiri....
=============
Ayo.....penasaran lanjutnya nggak? Vote dulu yukkk🌟😍
Ini nulisnya sambil kerja lho guess, tak bela-belain biar para readers puas. He.. He.. Vote yakk?!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Rine-X (END)
RomanceWarning! 21+ Pria berkuasa itu tak pernah mengira bahwa dirinya akan tersedot kedalam lubang terdalam pada diri gadis lemah didepannya. Sekuat apapun ia menjauh, tetap saja tarikannya sangat kuat hingga ia harus tersungkur tunduk dihadapannya. Apa...
