Warning! 21+
Pria berkuasa itu tak pernah mengira bahwa dirinya akan tersedot kedalam lubang terdalam pada diri gadis lemah didepannya. Sekuat apapun ia menjauh, tetap saja tarikannya sangat kuat hingga ia harus tersungkur tunduk dihadapannya. Apa...
Dalton merapikan jasnya dan masih berdiri didepan kamar Easy. Ia ragu antara mengetuk atau meninggalkannya begitu saja. Pasalnya sejak dari resort kemarin susana hati gadis itu tak begitu baik. Dan Dalton tidak tahu betul apa kesalahannya.
Dalton mencoba mengetuk pintu namun tak ada sahutan dari dalam kamar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dalton tersenyum kecut. Ia seperti seorang suami yang berusaha merayu istrinya yang baru merajuk. Dan itu sangat tidak nyaman sekali.
Akhirnya ia memutar handle pintu.
Dalton memindai kamar Easy yang sepi. Ia mulai waspada dengan keberadaan gadis itu. Aisshhh! Don't run from me now! Jangan melarikan diri sekarang sayang! Aku belum bisa mengurusmu. Rusia baru membutuhkanku. Bisik Dalton cemas sambil memindai setiap bagian dari kamar Easy.
Kamar mandi sepi, balkon sepi. Akh... Dalton mulai frustasi. Ia kembali kekamar. Walk in closet! Itu harapan terakhirnya dikamar ini. Maka ia segera menggeser pintu menuju ruangan itu. Dan benar....
Easy terlihat kaget sambil berusaha menutupi tubuhnya. Ia baru akan berganti pakaian. Dan Dalton mengejutkannya tiba-tiba.
Mereka saling menatap.
Dalton membeku.
Tadi ia sudah mempersiapkan banyak kata. Namun tiba-tiba hilang semua. Ia tak tahu kata perpisahan yang tepat untuk diucapkan. Wajah tak bersahabat Easy membuatnya canggung.
"Aku akan segera berangkat. Maukah kau menungguku pulang? " Akhirnya rangkaian kata itu yang terucap. Semoga ia tak salah ucap lagi pikir Dalton.
"Sebagai bitch yang merindukan tuannya? " jawab Easy sarkastik. Ia juga tak tahu mendapat keberanian darimana mengucapkan kata itu untuk melawan Dalton. Tapi pria itu sudah tak semenakutkan dulu.
"Dengar... Aku tak pernah menganggapmu seperti itu, sayang."
"Lalu kau menganggapku apa? " Easy berharap sebuah jawaban...
"Bagian terpenting dalam hidupku. "
Easy masih kesal. Bukan itu jawaban yang diinginkannya. Bukankah pemuas nafsu juga bagian terpenting dari seorang pria?
Ia berbalik menghadap rak. Berusaha mencari baju untuk segera menutup tubuhnya. Namun Dalton segera membalik dan menghimpit tubuhnya antara rak dan tubuh Dalton. Pria itu menatap lekat manik gadis didepannya. Ia juga ingin tahu jawaban seperti apa yang diinginkan gadis itu. Karena Dalton tak ingin pergi dengan sebuah kegundahan.
"Lalu... hubungan seperti apa yang kau inginkan? " Bibir Dalton memindai kulit mulus yang terpampang didepan matanya. Ia menahan sekuat tenaga untuk tidak mencecap tubuh didepannya. Pesawatnya sudah menunggu. Dan ia tak punya banyak waktu untuk melakukannya.
"Mungkinkah untuk kita menikah dan bersama selamanya? "
Kini Easy yang membeku. Ia tak mengira Dalton akan mengatakan itu.