🌌Ontmoeting

140 27 91
                                    

"Susah ya emang kalau mau ketemu orang sibuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Susah ya emang kalau mau ketemu orang sibuk."

Bukan sapaan melainkan cibiran terbuka yang sengaja Pratama layangkan begitu melihat kedatangan Giandra.

Perempuan itu tertawa saja. Sambil menarik kursi dan duduk di seberang si pemuda, Gia segera membuka buku menu yang di sodorkan Pratama. Tidak ada salahnya sih jika Tama sedikit ngambek, melihat fakta jika pemuda itu mengajaknya bertemu di hari rabu dan dua hari kemudian Gia baru bisa menyambut tawarannya jelas bukan yang lelaki itu harapkan. Tapi mau bagaimana lagi, Giandra kan bukan seseorang yang punya banyak waktu luang untuk di habiskan hanya untuk bermain. Biasalah, kehidupan manusia dewasa dan segala kegiatan sok sibuk mereka.

"Kayak lo sendiri nggak sibuk." Balasnya kemudian melambai memanggil pelayan. Menyebutkan pesanannya dan Tama, lalu beringsut mengembalikan buku menu, "Dan namanya mint choco, bukan rasa odol."

"Rasanya sama aja." Tama memutar bola mata.

"Beda ya!" Giandra selaku salah satu dari sekumpulan manusia pecinta mint choco segera protes, "Lidah lo konslet kali."

"Lidah lo tuh yang aneh! Cuma psikopat yang doyan minum mint choco."

Pertengkaran mereka kembali berlanjut. Giandra yang tidak terima dengan ledekan Tama kembali menyanggah, lantas sebaliknya, Tama yang tak setuju dengan pendapat Gia kembali protes. Sesi debat keduanya berlangsung cukup alot mengingat topik yang sedang di bahas juga sedikit abu-abu. Maksudnya, di dunia ini kan mint choco memang selalu jadi bahan perdebatan yang sengit. Maka tidak heran, baru ketika makanan pesanan mereka sampai, baik Giandra maupun Pratama baru berkenan menutup mulut.

"Serius deh, gue masih heran kenapa lo doyan minuman rasa odol." Tama kembali mencibir. Tak tahan melihat Gia yang kini tengah menikmati segelas mint choco pesanannya.

"Nggak usah mulai lagi." Gia melepas ujung sedotan dari mulutnya. Perempuan itu mulai fokus pada makanannya, "Ngomong-ngomong kok gue nggak lihat Mbak Wendy sih?"

Tama yang baru selesai menelan roti bakarnya menyahut, "Lagi ngikut suaminya trip ke Malang."

"Bused, jauh amat."

"Nggak tau tuh, mau camping katanya."

"Yaelah, Cibubur kan juga ada."

"Bos gue emang gitu." Pratama Setraruri tertawa, "Kadang suka sinting."

"Gapapa sinting asal ganteng."

"Dan kaya." Tama melanjutkan namun dengan nada meledek, "Dasar lo manusia serakah. Udah kaya masih aja nyari yang banyak duitnya." Katanya mendapatkan tawa dari Gia.

"Soalnya gue nggak bisa kalau cuma di suruh makan cinta." Katanya seakan-akan ledekan Tama bukanlah apa-apa, "Gue nggak mau hidup dengan naif. Ketika gue mau mencari laki-laki entah itu pacar atau suami, selain mencintai gue, gue juga perlu memastikan kalau laki-laki itu harus mampu dan mapan secara finansial supaya bisa mengimbangi pola hidup gue. Gue nggak bilang harus kaya, yang penting cukup aja. You know, ukuran cukupnya orang kan beda-beda, Tam."

Be Your Violet ㅡBBHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang