🌌Broken Shoes

129 27 120
                                    

Sebagain insan ibukota yang waktunya lebih banyak tersita untuk bekerja di biro dan bersantai di apartemen, jumat malam bukan termasuk dalam waktu spesial dimana Harris harus keluar dan bersenang-senang bersama teman-temannya menikmati malam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebagain insan ibukota yang waktunya lebih banyak tersita untuk bekerja di biro dan bersantai di apartemen, jumat malam bukan termasuk dalam waktu spesial dimana Harris harus keluar dan bersenang-senang bersama teman-temannya menikmati malam. Baginya yang lebih suka duduk di depan televisi, menonton netflix sambil mengunyah stroberi, keluar di malam jumat hanya untuk sekedar pergi ke pusat perbelanjaan dan menghabiskan uang terdengar merepotkan. 

Oh ya, tentu saja merepotkan andai Harris tidak ingat jika dia punya janji temu dengan Giandra malam ini.

Tidak seperti biasanya, malam ini tepat sebelum pukul tujuh pemuda itu sudah rela berbaur dengan para pengguna jalanan guna menjemput Gia yang minta di temani belanja baju. Harris sih tidak keberatan, mengingat alasan perempuan itu minta di temani juga demi kepentingannya. Pasalnya kemarin ketika Giandra Ivory bertanya apakah ada dresscode khusus yang perlu dia pakai untuk menemani Harris ke acara reuni, lelaki itu baru ingat jika tema acara yang akan di adakan bersifat semi-formal.

"Ayah, Mamah, aku berangkat dulu."

Mobilnya baru terparkir di kediaman keluarga Jatiadi saat suara nyaring Gia terdengar dari arah pintu utama. Karena sudah melihat sosok Gia telah berjalan lebih dulu kearahnya, Harris jadi batal turun dari mobil dan memilih menunggu sampai perempuan itu masuk dan selesai dengan urusan sabuk pengaman. 

"Saya nggak perlu turun?" Tanyanya memastikan. Takut di anggap tidak sopan sebab dia belum sempat pamitan pada Pramono maupun Ardhiona.

"Nggak usah. Kalau turun yang ada nanti kita batal pergi."

"Kenapa?"

Pemuda itu sudah sibuk memutar kemudi saat Gia menyahut dengan setengah jengkel, "Karena ayah bakal ngeledekin saya terus sampai besok pagi."

"Hm?" Harris mengerutkan keningnya.

"Perkara saya melukin kamu tempo hari, sama ayah tuh di bahas terus." Dari nadanya, Harris bisa menebak jika Gia benar-benar kesal, tapi Harris justru merasa geli sendiri, "Katanya karena udah kelonan bareng, jadi kalau bisa nikahnya di percepat aja."

Kontan Harris meledak dalam tawa. Matanya bahkan hanya tinggal tersisa segaris ketika Giandra meliriknya dengan tatapan protes.

"Kok kamu malah ketawa?!"

"Soalnya lucu." Tawanya masih belum mereda.

"Apanya yang lucu sih, Mas Harris?"

"Kamu."

"Kok saya?"

"Coba kalau waktu itu kamu nggak minta di peluk pas tidur, pasti kamu juga nggak akan jadi bahan ledekan Om Pram."

"Ya saya mana tau, namanya juga lagi sakit." Gia sontak bersungut tak terima, "Kalau saya waktu itu lagi waras, saya nggak akan seberani itu minta peluk kamu walaupun harus saya akui sih, tidur di pelukan kamu tuh rasanya nyaman banget."

Be Your Violet ㅡBBHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang