"Many fall for you. I fall for you. But you fall for another who doesn't look you in the same way"
". . .:
"But it's okay. After all, I will make sure that in the end, only I will become your violet."
Kisah tentang skema hubungan percintaan dan hat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kediaman Adiprama tidak pernah sekalipun kelihatan tidak tenang, apalagi ketika pagi menyambut. Aroma kopi hangat yang kental menyeruak ke seluruh penjuru ruang makan, terasa begitu menangkan. Berhubung Ajeng lebih suka sarapan roti, Dirja selaku suami yang pengertian memilih menurut saja pada sang istri. Dia tidak menuntut. Baginya jika sang istri tidak ingin memasak, maka Ajeng tidak harus melakukannya.
"Kopinya kok tiga?"
Alis laki-laki setengah baya itu menyatu bingung. Biasanya hanya ada dua cangkir kopi yang terhidang di atas meja semenjak kedua putranya memilih keluar dari rumah.
"Harris pulang." Sahut Ajeng ringan sambil mendudukan diri di samping suaminya.
"Pulang kapan?"
"Semalam, Pa."
Yang di bicarakan muncul. Dengan penampilan rapi dan wajah berseri, Harris segera mengambil duduk dan menikmati kopinya. Tersenyum sekilas sambil memberikan pujian pada Ajeng tentang bagaimana mamanya itu selalu berhasil membuatnya bahagia dengan kopi pagi buatan perempuan itu.
"Tumben pulang." Soedirja nyeletuk. Masih ada koran di tangan kanannya.
Ajeng protes, "Anaknya pulang kok malah di tumbenin sih, Pa."
"Ya nggak biasanya aja, Ma."
"Lagi kangen masakan mama, makanya pulang." Harris membalas tenang. Sambil mengambil setangkup roti dari atas piring, obrolannya dengan sang papa kembali berlanjut.
"Perasaan mama-mu baru nganterin makanan beberapa hari lalu. Kok udah kangen aja?"
"Namanya juga kangen , Pa." Harris kembali menggigit rotinya, "Kangen tuh mana ada yang direncanakan?"
Soedirja tertawa kecil sebelum kembali menekuni korannya, sedangkan Ajeng yang sebelumnya sudah menyelesaikan sarapan memilih pamit untuk merawat kebun mawarnya. Menyisakan sepasang ayah dan anak yang sibuk dengan urusan masing-masing. Harris yang fokus dengan ponsel, dan Dirja yang khusuk dengan koran.
"Oh iya." Sesuatu yang melintas di kepala Soedirja sontak membuat lelaki itu menutup lembaran korannya dengan cepat, "Mumpung kamu lagi di rumah, papa mau ngomong sesuatu."
"Hm?" Harris mengangkat sebelah alisnya, "Soal apa?"
"Pernikahan kamu."
Albiru Harris meletakkan cangkirnya setelah menandaskan sisa kopi miliknya. Rautnya tampak tenang, tidak terkejut juga tidak penasaran. Biasa saja, seakan yang akan papanya bahas sekarang bukanlah hal yang penting-penting amat. Padahal raut datar si bungsu justru membuat papa-nya sedikit keheranan.
"Pernikahan aku kenapa?"
"Papa sama Om Pram berniat memajukan pernikahan kamu dengan Gia." Dirja berdeham, sepenuhnya fokus pada Harris, "Menurut kamu gimana?"