DUA PULUH

131 7 0
                                        

Kalau tangan nyentuh uap yang panas, pasti langsung merah-merah. Tapi kalau kamu nyentuh hati aku, pasti langsung kena tampol.

°°°

Setelah memanggil dokter dan cimolnya sudah hampir habis, Melda dan Rendi tidak langsung menemui Ali yang masih menutup matanya. Mereka masih asik mabar, walau endingnya pasti "Defeat".

"Mel,"

"Hm,"

"Meeelll,"

"Hm,"

"Meeel,"

"Apasih?"

"Itu, eung... Si Ali kenapa bisa ada disini?" Matanya tetap fokus ke layar ponsel.

Tanpa mengalihkan pandangannya, jari Melda masih lincah menekan tombol secara acak. "Gatau juga sih, kemarin malem tiba-tiba dia nubruk tong sampah tetangga. Untungnya nggak penyok tuh tong, gue sampe kaget."

Refleks Rendi langsung menatap Melda penuh selidik. "Lah Ren, lo kenapa malah diem disitu? Itu mati woy!" Melda yang kesal langsung membanting ponselnya dan melihat ke arah Rendi.

"Kenapa?"

Rendi hanya menggelengkan kepalanya. "Gue heran aja sih, ternyata lo bisa care juga sama orang lain. Terlebih dia si Ali, orang yang selalu bikin lo emosi 'kan?"

Melda hanya memutar mata. "Yaelah gue kira apaan, mungkin dia lagi hoki makanya gue bantuin."

"Hmm iya kali," ujar Rendi malas.

"Tapi kalau nanti gue yang diposisi Ali, lo bakalan nolongin gue nggak?" Matanya fokus menatap Melda.

"Tergantung, kalau gue lagi baik ya pastinya gue tolongin. Tapi-..."

Rendi mengerutkan dahinya. "Tapi kenapa anjir? Jangan gantung dong."

"Tapi kalau gue lagi nggak baik, mungkin bisa dipertimbangkan." Sambungnya dengan cengiran yang menampilkan giginya yang rapi.

"Ah, lo mah-..."

"Selamat siang, permisi. Apakah benar ini rumahnya pak Bayu?"

Seseorang dengan jas hitam rapi muncul mengganggu interaksi mereka, hal itu membuat Melda kembali harus berpikir keras. Padahal tinggal jawab aja iya, napa harus mikir sih. Batin Rendi.

"Selamat datang, iya betul ini rumah Bayu. Silahkan lewat sini," tiba-tiba ayahnya Melda langsung menyambut dua orang yang menghampiri rumahnya.

Melda melirik ayahnya, dan hanya dibalas dengan anggukan ringan.

Syukurlah nggak harus ngaterin dia. Batin Melda.

Setelah acara basa-basi diantara orang dewasa, dua orang tadi membawa pulang Ali.

"Ayah, kok mereka bisa-..."

"Mel, lain kali kalau ada orang yang nyungsep terus kebetulan orangnya anak yang kemarin malem. Kamu jangan bantuin dia yah, cukup panggil ambulans aja."

Rendi dan Melda terdiam mendengar ucapan Bayu, kenapa orang yang selalu hangat dan ramah pada orang lain ini tiba-tiba menjadi acuh hanya kepada satu orang.

"Kena-..."

"Jangan tanya, cukup dengerin aja ya."

Lagi-lagi ucapannya terpotong.

"Ren, ikut bantuin juga yah kalau Melda lagi repot."

Rendi hanya mengangguk paham, lalu menatap Melda seolah meminta penjelasan. Gadis yang bingung itu hanya mengangkat bahunya.


Apa Om Bayu punya masalah sama Ali? Batin Rendi.

•••

Classmate GALAK [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang