Rintik hujan turun untuk menyegarkan hati yang telah lama gersang.
°°°
Cuaca hari ini sepertinya sedang galau, karena dari pagi langit hanya menampakkan mendung. Hal itu membuat Melda malas untuk berangkat ke kampus, hanya satu alasan sih. Mager aja.
"Berangkat jam berapa, Mel?" Tiba-tiba Bayu datang dari arah dapur.
Ketika hendak menjawab pertanyaan sang ayah, klakson Rendi terdengar. Melda menatap ayahnya dan menunjuk-nunjuk ke arah luar. "Berangkat dulu, Yah."
Dia pun menghampiri Bayu dan memberikan salam. "Hati-hati." Melda menangguk.
Ketika sedang menunggu, Rendi merapikan pakaian dan rambutnya.
"Skuyy ah," seru Melda yang sedang berjalan mendekati Rendi.
Rendi yang mendengarnya kemudian tersenyum. "Mana bapa lo? Mau pamit,"
"Pamit? Kek youtubers aja pake acara pamit-pamitan. Biasanya juga langsung cus."
"Lo mah nggak peka," sinis Rendi seraya mendecih.
"Bodo amat."
Sesampainya di kelas yang sudah banyak orang, Melda sudah biasa melihat kerumunan ini. "Ini ada bangke apa gimana dah? Kok banyak lalat," dia mengucapkan hal itu ketika melewati kerumunan.
"Kok ada aja ya tikus yang sirik, oh iya tikus 'kan makanannya bangke." Ujar seseorang yang menjadi fokus kerumunan itu.
Langkah Melda berhenti dan kemudian berbalik. "Ih serem, ada bangke yang masih bisa ngomong." Ucapnya bergidik ngeri.
"Di sini ada tikus? Kok ngomongnya cicit-cicit doang?"
Mereka yang melihat kedua orang yang kini tengah adu mulut itu hanya bisa melihat keduanya secara bergantian.
"Tikus di mana pun maneh berada, tolong ya kalau ngomong itu yang jelas dan nggak usah ngomongin di belakang." Cemooh Ali dengan menatap tajam ke arah mata Melda langsung.
Dan entah kenapa tubuh Melda menegang, dia merasakan tekanan yang begitu kuat tatapan dari mahasiswa cupu itu. Seolah kaca mata yang terpasang itu akan pecah dengan sinar laser tak kasat mata yang berasal dari mata Ali.
Melihat objek yang ditatapnya tidak bisa berbuat apapun, Ali menyeringai. Dia berjalan mendekati Melda yang tengah mematung, tidak tahu saja kalau kini jantung Melda seolah sedang lari maraton.
Tubuh mereka bertemu cukup dekat, lalu Ali membisikkan sesuatu yang membuat Melda tambah berkeringat dingin.
Rendi yang kebetulan baru masuk, dia terlihat kebingungan karena aura kelas ini sungguh berbeda dari biasanya.
Sunyi dan mencekam.
Gua nggak lagi syuting film horor 'kan? Batinnya.
•••
Aseqqq malam minggunya hujan gays😂 alhamdulillah jadi adem wkwk. Selamat malam gays!
Safsafcho💛
25/01/20
KAMU SEDANG MEMBACA
Classmate GALAK [ON GOING]
Ficção AdolescenteAli si Mahasiswa pindahan. Dan Melda si Mahasiswi tomboi. Sepasang manusia dengan omongan sepedas cabai Pepper X, salah satu cabai terpedas di dunia yang kini hadir dengan kearifan lokal. Bagaimana jadinya ketika mereka berada dalam satu kelas yang...
![Classmate GALAK [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/186639241-64-k952353.jpg)