02( Gus Asad)

750 74 9
                                        

Yeaahh
Kembali........

Jangan lupa vote and coment

Happy reading
______________________

Di sela-sela kegiatan mereka yang sedang mendekor panggung, seorang kang santri datang menghampiri.

"Maaf kang, kang Mus di timbali Abah Yai di ndalem," ucapnya.

"Oh baik kang, terimakasih."

Gus Asad segera beranjak menuju ndalem. Tepat du depan pintu ndalem, terdengar orang tengah mengobrol di ruang tamu ndalem.

"Duduklah Cha!"

Terdengar seseorang mempersilakan lawan bicaranya untuk duduk.

"Baik Ning, ada apa?" terdengar lagi jawaban dari orang di dalam.

Sebenarnya Gus Asad ragu untuk masuk, takut mengganggu mereka yang tengah mengobrol. Tapi panggilan sang kyai juga penting baginya.

Dengan bismillah Gus Asad melangkahkan kakinya memasuki ndalem.

"Assalamualaikum."

Seketika salam Gus Asad menghentikan obrolan dua orang di ruang tamu tersebut.

"Waalaikum salam," jawab kedua orang tersebut serempak namun tanpa ada yang menoleh begitu juga dengan Gus Asad yang menundukan kepala setelah tadi melirik siapa yang ada disana.

Dan rupanya ada Ning Nabila dan entah siapa mba santri yang masih setia menundukan wajahnya itu.

"Maaf Ning, Abahnya ada?" tanya Gus Asad dengan tetap menunduk.

"Ada kang didalam masuk saja," jawab Ning Nabila.

Perlahan Gus Asad bergerak masuk meninggalkan dua orang yang masih di ruang tamu. Ntah apa yang di bicarakan tapi sepertinya sangat penting.

"Assalamualaikum Abah," salam Gus Asad kemudian mencium takdim punggung tangan Abah yai yang sudah tidak muda lagi itu.

"Waalaikum salam Nak, mari duduk."

Gus Asad menurut dan duduk tepat di samping Abah yai dengan jarak kira-kira 1 meter.

"Kemarilah nak, mendekat!" ujar Abah yai melambaikan tangan agar Gus Asad mendekat lagi.

"Nggih Bah." Gus Asad mendekat dan duduk tepat di samping kanan Abah yai.

"Nak, benarkah kau akan pulang setelah khotmil qur'an?" tanya Abah yai memastikan.

"Nggih Abah, nanti insya allah selesai acara Asad pamit pulang , mohon doa restu dan ridlonya Abah."

"Kenapa? Apa sudah tidak betah disini? Atau ada yang menganggu?" tanya Abah penasaran.

"Mboten Abah, bukan begitu, tapi memang Abah di rumah sudah memanggil untuk di bantu," Jawab Gus Asad dengan sedikit takut.

Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Abah yai nampak tak merelakan sepenuhnya kepulangannya ini.

"Baiklah jika itu keputusan mu nak, Abah ridloi, semoga ilmu yang kau dapat bermanfaat," tutur Beliau dan Gus Asad meng-amini dalam hati.

"Ambilah ini nak, sebagai bekal hidupmu kelak," ujar Abah yai seraya menyerahkan kitab tebal pada Gus Asad.

Ihya ulumuddin

Gus Asad membaca nama kitab tersebut dan tersenyum.

"Matursuwun Abah," ucap Gus Asad seraya menerima kitab tersebut.

Tabarrukan (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang