Masih penasaran???
Yokkk lanjut.
Jangan lupa tinggalkan jejak
Vote komen
Happy reading
***
Selesai dari sawah, Gus Asad bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran shower, mencoba merilekskan pikiran. Namun, bukannya rileks, justru bayangan seseorang berkelibat di pikirannya.
Gus Asad menggelengkan kepalanya. Mencoba menepis gambaran bayangan yang semakin lama terlihat semakin jelas. Merasa sudah cukup bermain air, Gus Asad segera mengambil air wudhu kemudian mengenakan pakaiannya.
Menunaikan sholat ashar, di lanjutkan dengan murojaah hafalannya. Setelah dirasa cukup, kemudian murojaah kitab kajiannya. Saat tangannya hampir menyentuh kitab Fathul Mu'in, yang menjelaskan tentang ilmu fiqih. Gus Asad tanpa sengaja melirik kitab Qurotul Uyun yang tergeletak di sampingnya.
Sekelibat bayangan mimpinya kembali hadir. Sosok cantik nan anggun itu kembali memenuhi pikirannya. Gus Asad terus menggelengkan kepalanya, berusaha kembali menepis bayangan itu.
Gus Asad sadar, dirinya hanya manusia biasa yang juga punya hawa nafsu. Sehebat apapun dia jika dalam hal mengendalikan nafsunya saja tidak bisa, maka sama saja dia lebih lemah dari para kaum duafa.
"Aku memang harus segera bertindak," gumam Gus Asad yang mengurungkan niatnya untuk murojaah.
Gus Asad bergegas keluar kamar untuk menemui Abahnya. Meminta pendapat Abahnya untuk mengambil langkah kedepannya.
Saat sampai di ruang tamu, nampak Gus Hakeem dan Ning Sabrina juga ada di sana.
"Sad, sini gabung." Ucap Gus Hakeem seraya melambaikan tangan.
Gus Asad mengangguk kemudian menghampiri kakak tertuanya dan kakak iparnya itu.
"Assalamualaikum, Mas." ucap Gus Asad seraya mencium punggung tangan Gus Hakeem.
"Ck, masih tau sopan santun rupanya," Gus Hakeem mendengus.
"Kau kakak TERTUA ku, Mas," ujar Gus Asad dengan menekan kata 'tertua'.
"Yahh, setidaknya kau masih bisa menyambut kedatangan kita, tidak seperti kulkas itu." Gus Hakeem melirik ke arah Gus Serkan yang baru saja bergabung dengan yang lainnya.
"Ck, kau ini," Gus Serkan mendengus mendengar sindiran kakaknya itu.
Memang benar adanya, jika Gus Serkan di juluki KULKAS. Karena memang dirinya yang irit bicara dan enggan untuk bergabung dengan yang lainnya jika itu bukan hal yang menurutnya penting.
"Assalamualaikum, Mas." Gus Serkan turut mencium punggung tangan Gus Hakeem kemudian menagkupkan tangannya di depan dada pada Ning Sabrina.
"Kalian hanya berdua, dimana Zafran??" tanya Umi Sakinah setelah jengah melihat tingkah anak-anaknya.
"Mas Hakeem!!!" Terdengar pekikan nyaring dari arah kamar Ning Mila.
"Dasar anak ini," gumam Gus Hakeem saat mendapati adik perempuannya itu mulai berjalan mendekatinya.
"Ck, kau ajarkan apa pada anak itu hah!" Ning Mila langsung meluapkan unek-uneknya pada kakak tertuanya itu sesaat setelah berdiri tepat di depannya.
"Kau ini, Mas datang bukannya di sambut dengan ramah justru di semprot, Mil." Gus Hakeem tidak kalah geramnya dengan tingkah adiknya itu. Sementara Ning Sabrina hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabarrukan (On Going)
RomanceJudul asal CEO DARI PESANTREN Khadijah Malika Aslan, gadis manja dengan sejuta pesona tersembunyi. Di balik kesederhanaannya yang ternyata putri Sultan. As'ad Musthafa Rahman, kang santri tampan lulusan Kairo Yang berjuang di jalan para ulama. Penca...
