Marathon up pokoknya.
Awas aja nih para readers gak ada yang marathon vote!!!
Hahhai becanda....
Jangan lupa tinggalkan jejak kawan
Vote komen
Happy reading
***
"Mbak, di timbali Umi." Terdengar teriakan nyaring Ning Mila dari ruangan lain.
Khadijah yang baru selesai melaksanakan shalat duha 2 rokaat di pun bergegas menghampirinya. Nampak Ning Mila yang tengah menyetrika pakaian.
"Umi di mana, Ning?" tanya Khadijah saat tepat di depan Ning Mila.
''Di dapur, Mbak," jawab Ning Mila masih dengan fokusnya pada setrika.
"Maaf, Ning. Icha tidak bisa membantu." lirih Khadijah merasa tidak enak.
Jujur, tadi setelah selesai sima'an dengan umi ba'da subuh. Khadijah memilih murojaah sendiri sembari menunggu waktu duha.
"Ck, sudahlah. Lebih baik, Mbak menghadap Umi saja. Daripada di sini gak ada guna." Ning Mila menatap sinis ke arah Khadijah hingga membuat Khadijah semakin menunduk.
"Hahaha, Mbak ini. Kayak sama siapa aja sih." Ning Mila tertawa renyah melihat wajah pasi Khadijah.
"Ish, kau ini, Ning," gerutu Khadijah saat menyadari kalau dirinya tengah di kerjai.
Khadijah bergegas menuju dapur untuk menghadap Umi Sakinah yang tadi memanggilnya. Nampak Umi Sakinah yang tengah membereskan beberapa alat dapur yang berantakan.
"Assalamualaikum, Umi," salam Khadijah saat berada di belakang Umi Sakinah.
"Waalaikum salam, eh, Mbak Icha." Umi Sakinah tersenyum saat mendapati Khadijah ada di sana.
"Mbak, tolong nanti ajak Mila ke kebun. Tolong petik beberapa sayur untuk sahur besok pagi." Umi Sakinah menyerahkan pisau dan jingjingan pada Khadijah.
Ya, mulai besok memang sudah memasuki bulan suci Ramadhan. Dan memang sudah biasa, jika persediaan bahan makanan di dapur mulai habis, maka akan memetiknya di kebun jika memang ada. Jika tidak ada maka akan belanja di pasar.
"Nggeh, Umi." jawab Khadijah menunduk.
"Mbak, tolong buatkan teh dua, di depan ada tamu." Ning Mila tersenyum menunjukan deretan gigi putihnya. Keduanya tangannya membawa setumpuk pakaian yang telah di setrika.
"Nggeh, Ning." Khadijah beranjak mencari cangkir.
Setelah teh siap, Khadijah bergegas menyuguhkannya pada tamu yang katanya berada di ruang tamu. Khadijah berjalan dengan lututnya saat dirasa sudah hampir menampakan diri.
Samar-samar terdengar suara dua orang tengah berbincang serius. Sepertinya membahas tentang seorang mbak santri.
"Monggo di sambi." Khadijah mendongak guna mempersilahkan.
Khadijah memaku saat manik indahnya bertemu dengan manik meneduhkan kang santri di depannya. Nampak pernah menatapnya tapi ntah di mana.
Pandangan Khadijah beralih pada kang santri lainnya yang duduk di sebelah. Seperti kenal tapi lupa.
"Bukankah itu kang Karim, salah satu santri Al-Amin," gumam Khadijah sembari berlalu. Namun, tepat tak jauh dari sana, saat Khadijah mulai berdiri. Sebuah nama yang terucap sukses membuat Khadijah mematung di tempatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabarrukan (On Going)
CintaJudul asal CEO DARI PESANTREN Khadijah Malika Aslan, gadis manja dengan sejuta pesona tersembunyi. Di balik kesederhanaannya yang ternyata putri Sultan. As'ad Musthafa Rahman, kang santri tampan lulusan Kairo Yang berjuang di jalan para ulama. Penca...
