Bab 30 (Khitbah)

576 30 1
                                        

Thor, kok babnya loncat?

Bab 26-29 mana???

Hehehe yang kehilangan bab 26-29 silahkan mampir ke lapak ane di KBM app.

Disana lengkap Yo. Semua bab loncat ada di sana semua.

Lengkap.

_____________

Happy reading

CDP_30 khitbah

Malam ini malam terakhir bagi semua penghuni Ar-rahman.  Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Semua santri tengah bersiap untuk menghadiri acara muwada'ah. Acara perpisahan di pesantren ini.

Begitu juga dengan Khadijah yang baru selesai melaksanakan shalat isya. Karena sedari tadi dia ikut membantu mbak-mbak pengurus dalam menertibkan semua santriwati.

"Mbak, ponselnya berdering." Mendengar penuturan mbak Safira, Khadijah segera mencari benda pipih kesayangannya.

Ayah, itulah nama yang tertera di layar ponselnya.

"Assalamualaikum, Yah." Khadijah berucap salam dengan bahagianya. Melupakan semua orang yang ada.

'waalaikum salam, putri ayah.'

"Ada apa, Yah. Tidak biasanya telpon malam-malam?" Khadijah merasa bingung dengan ayahnya yang tiba-tiba menelponnya.

'sayang, tolong dengarkan ayah baik-baik. Nak, ada seseorang yang mengkhitbahmu. Dia pemuda yang baik agama, keturunan dan finansial.'

Khadijah tertegun mendengar penuturan ayahnya. Ingatannya kembali pada  kejadian saat dulu di pesantren lamanya. Dimana dia yang polos merasakan jatuh cinta pada putra pertama Kyainya.

Namun, semuanya kandas karena perbedaan antara keduanya. Dia yang putri kerajaan bisnis dan sang pujangga yang juga putra pesantren.

Khadijah menghela napas berat, ini yang dia takutkan.

"Maaf, Yah. Icha masih dalam keputusan yang sama. Jika dia mau memenuhi syarat yang Icha berikan, maka Icha setuju dengan hubungan ini. Jika tidak, Icha juga mundur. Semua keputusan ada ditangannya, Yah." Khadijah merasa lega karena telah mengungkapkan isi hatinya.

Di seberang sana, Ayah Khumed mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan putrinya.

'Baiklah, Ayah akan coba berbicara dengan keluarga mereka. Ayah hanya berharap yang terbaik, Sayang. Ayah tutup dulu telponnya, assalamualaikum.'

"Waalaikum salam." Panggilan terputus. Khadijah menagkupkan kedua tangannya di wajah.

Sungguh, ini keputusan yang berat. Bagaimana jika pemuda itu bersedia? Lalu, bagaimana jika pemuda itu justru menolak? Semua hal itu seakan menarik diatas kepalanya.

"Ehem, yang lagi dikhitbah." Ucapan Mbak Safira sukses membuat Khadijah tegang.

"Mbak, dengar semuanya?" tanya Khadijah penuh kekhawatiran.

"Maaf, Mbak. Bukan maksud menguping, hanya saja tadi aku tak sengaja mendengar," sesal Mbak Safira karena merasa tak enak hati pada Khadijah.

"Tidak apa, Mbak. Hanya saja, aku takut jika kabar ini tersebar sebelum adanya kepastian." Khadijah menggenggam tangan Mbak Safira, seakan mengatakan bahwa dia tidak masalah.

Mbak Safira mengangguk, dia senang karena Khadijah tidak mudah tersinggung. Dia merasa beruntung karena dapat mengenal seorang Khadijah. Santriwati baru tapi pengalamannya sangat membantunya dalam beberapa permasalahan di pesantren.

Tabarrukan (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang