Hmmm
Happy reading
_______________________
Khadijah kembali merenung sendiri sehabis sholat subuh tadi. Setelah acara khotmil maka seluruh santri di bebaskan dari kegiatan biasanya karena sudah memasuki waktu liburan.
Bahkan tak sedikit yang memilih langsung pulang untuk menikmati liburan ini panjang di rumah.
Dan untuk saat ini hanya tinggal sekitar 20 orang yang masih berada di pondok. Sebagian karena orang tuanya yang telat menjemput, sebagian karena memang giliran jaga di pondok.
"Maaf, mba Khadijah di timbali Ning Nabila di ndalem," ucap seorang santriwati dengan terengah-engah. Khadijah hanya mengangguk meng-iyakan.
Dilihatnya dia kembali berlalu menuju ndalem, sepertinya dia sedang menemui orang tuanya juga di ndalem.
Khadijah bergegas melipat mukenanya dan beranjak menuju ndalem. Tak lupa juga merapikan penampilannya.
"Assalamualaikum," salam Khadijah saat tiba di ndalem.
"Waalaikum salam," jawab mereka yang tengah duduk berbincang di ruang tamu.
Rupanya ada Abah Yai, Ning Nabila dan seorang paruh baya yang sangan dirindukan Khadijah.
"Ayah..!!" pekik Khadijah berhambur memeluknya saat netranya menangkap keberadaan sang Ayah.
"Maafkan Ayah sayang, baru bisa kemari dan tak sempat menghadiri khataman mu kemarin," ucap Ayah Humed sendu.
Humed Malik Aslan. Ayah dari Khadijah, seorang pengusaha sukses di daerahnya.
"Tidak apa ayah, hari ini ayah datang saja Icha senang banget."
"Ya sudah, pamit dulu sama Abah setelah itu kita pulang," ucap Humed dan Khadijah hanya mengangguk.
"Abah, Ning, Icha pamit pulang dulu, mohon restu dan ridlonya " ucap Icha sendu seraya mencium punggung tangan Abah yai.
Sekuat hati dia mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah. Namun nihil, semuanya lolos begitu saja saat bayangan kenangan indahnya di pesantren ini berkelabat di fikirannya.
Apalagi melihat wajah sendu Nong Nabila seakan tak rela dengan kepergian Khadijah.
Sejak awal kedatangan Khadijah, Ning Nabila begitu antusias berteman dengannya hingga terasa seperti saudara sendiri.
"Abah merestui kepergian mu nak, Abah juga meridloi setiap langkahmu, berjuanglah dijalan Allah," tutur Abah yai sendu menatap santriwatinya itu.
Khadijah beralih menghadap Ning Nabila yang juga tengah menatapnya. Air mata masih membanjiri wajah teduhnya.
Baru saja Khadijah mengulurkan tangan hendak bersalaman, Ning Nabila buru-buru menepisnya dan berhambur ke pelukannya.
"Sering-seringlah berkunjung cha, sungguh, aku tak rela berpisah denganmu saudara ku," ucapnya sesenggukan menangis pilu.
"Insyaallah Icha akan sering berkunjung, jangan terlalu memikirkan Icha Ning, nanti sang Gus akan cemburu karena di duakan calon istrinya ini," balas Khadijah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabarrukan (On Going)
RomanceJudul asal CEO DARI PESANTREN Khadijah Malika Aslan, gadis manja dengan sejuta pesona tersembunyi. Di balik kesederhanaannya yang ternyata putri Sultan. As'ad Musthafa Rahman, kang santri tampan lulusan Kairo Yang berjuang di jalan para ulama. Penca...
