Loh loh loh.
Thor, kok dari bab 20 sekarang 25??
Hehehe, iya. Sengaja di loncat, kalo mau tau perjalanan dari bab 21-24nya bagaimana, yok cari selengkapnya di KBM app.
Judul masih sama kok, cover juga sama, apalagi nama pena.
____________
Baru saja bergerak sekitar 5 meter, terdengar teriakan memekik dari arah belakang dua gadis pesantren itu. Keduanya kompak menolehkan kepalanya.
Nampak Amaira yang tengah berebut tas selempangnya dengan dua orang berpakaian urak-urakan. Melihat sahabatnya kesusahan, Khadijah bergegas menghampiri.
"Wah, wah, wah. Cantik, mau ngapain, nih?" Salah satu pria tersebut bergerak mendekat ke arah Khadijah. Menatap intens dari atas sampai bawah. Sementara Khadijah, gadis bermata hazel itu mengucap istighfar dengan suara cukup untuk di dengar pria itu.
"Istighfar lagi! Neng, minggir deh, tempatmu bukan di sini. Atau, kau ikut saja aku ke kamar?" Pria itu terkekeh dan mulai berjalan mendekati Khadijah.
Khadijah menepis tangan pria itu saat ekor matanya menangkap sebuah pergerakan. Adu jotos pun tak dapat terhindarkan lagi.
Khadijah yang bersabuk hijau badge hitam dari bela diri Pagar Nusa, dengan lihai membalas setiap serangan abal-abal dari pria hidung belang di depannya itu. Bahkan, kini pria yang tadinya mengganggu Amaira pun turut menyerangnya.
"Icha! Awas!" Teriakan nyaring Amaira terdengar jelas saat satu pria di belakang Khadijah bersiap menodongkan belati tajam di punggung gadis itu.
Dengan sigap, Khadijah menangkis serangan tersebut dengan benda yang sama. Belati kesayangannya yang selalu dia bawa.
"Hentikan!" Suara interupsi dari petugas polisi menghentikan aksi tersebut.
Semua orang mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya, begitu juga dengan Khadijah. Dua anggota polisi dengan sigap membereskan kedua biang kerok itu. Karena saat kejadian tadi, ada warga yang dengan segera menghubungi pihak kepolisian.
"Kau tidak apa?" Amaira memutar tubuh Khadijah dengan penuh kekhawatiran.
"Ck, kenapa kau jadi lembek sekali? Harusnya ini tugasmu, kau yang seharusnya mematahkan tulang pria bodoh itu!" Khadijah geram sendiri dengan sahabatnya itu.
Sebenarnya, Amaira sama dengan Khadijah. Keduanya sama-sama sabuk hijau badge hitam dari perguruan Pagar Nusa. Tapi entah mengapa, tindakan Amaira kali ini begitu konyol. Seakan pasrah dengan keadaan.
"Maaf, Cha. Aku tadi loading," gumam Amaira.
"Huh, baiklah. Lain kali jangan diulangi."
"Ayo, Ning. Kita kembali," ajak Khadijah pada Ning Mila yang masih diam tak berkedip saat disuguhi pertunjukan menakjubkan seperti tadi.
Bagaimana tidak, dia baru pertama kali melihat seorang gadis yang selalu terlihat kalem didepannya, kini begitu beringas saat dihadapkan dengan musuh. Satu poin bertambah lagi. Kini hatinya benar-benar mantap untuk menjadikan gadis bermata hazel itu sebagai kakak ipar.
"Eh, iya, Mbak. Ayo pulang." Ning Mila tersentak saat Khadijah menyentuh tangannya.
"Kita pulang, Mai. Kau hati-hati disini sendiri," tutur Khadijah saat hendak melangkah.
*****
"Mbak." Ning Mila menepuk pelan Khadijah yang kini tengah mengendarai motor matic. Setelah kejadian tadi, keduanya memutuskan untuk kembali ke pesantren. Lagi pula, hari sudah siang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabarrukan (On Going)
RomanceJudul asal CEO DARI PESANTREN Khadijah Malika Aslan, gadis manja dengan sejuta pesona tersembunyi. Di balik kesederhanaannya yang ternyata putri Sultan. As'ad Musthafa Rahman, kang santri tampan lulusan Kairo Yang berjuang di jalan para ulama. Penca...
