Yang gabut mana???
Yok usir gabut, ramaikan lapakk author.
Jangan lupa tinggalkan jejak kawan
Vote komen
Happy reading
***
Pagi ini, seluruh keluarga ndalem sudah bersiap untuk berkunjung mendatangi resepsi pernikahan Ning Nabila.
Sejak selesai tahajjud, Ning Mila sudah heboh sendiri hingga Khadijah merasakan pusing dibuatnya. Sementara Ning Sabrina hanya tersenyum saat membantu Ning Mila. Melihat tingkah heboh iparnya seperti itu memang sudah biasa bagi Ning Sabrina.
"Semua sudah siap, kan?" tanya Gus Hakeem saat semua sudah keluar dari rumah.
"Sudah, Mas," jawab Ning Mila antusias.
"Ya sudah. Ayo berangkat, perjalanan lumayan jauh, jadi kita harus sampai tepat waktu." Gus Serkan menegaskan.
Semua memasuki mobil masing-masing. Mereka berangkat dengan 2 mobil, yang masing-masing di isi 4 orang ketambahan si kecil Zafran. Sedangkan bagasinya penuh dengan berbagai hadiah untuk pengantin serta beberapa barang yang akan di bawa untuk sowan ke ndalem.
Khadijah satu mobil dengan Abah, Umi dan Gus Asad sebagai supir. Sedangkan di mobil lain, ada Gus Hakeem, Ning Mila, Ning Sabrina dan Zafran, serta Gus Serkan sebagai supir.
*****
Tepat pukul 10 pagi, mobil berhenti di pelataran pesantren yang sudah di sulap sedemikian rupa untuk menyambut para tamu undangan.
Setelah menempuh perjalanan panjang dan rasa lelah yang mengiringi. Kini keluarga Abah Zaid di sambut ramah oleh para tuan rumah. Sungguh jamuan yang memuaskan.
Setelah bercengkrama beberapa saat, kini tiba saatnya untuk mengucapkan selamat pada mempelai yang tengah berdiri gagah di singgasana pelaminannya.
Sungguh, Ning Nabila terlihat sangat cantik. Wajah bahagianya sangat kentara tergambar di sana. Sementara sang mempelai pria juga tak kalah menawan.
Wait, bukannya itu salah satu kang santri Al-Amin sendiri?? Benarkah kalau Ning Nabila menikah dengan kang santrinya sendiri? Bukankah dulu, katanya calon suaminya itu Gus salah satu pesantren di dekat Malang?
Memikirkan semua itu membuat Khadijah tidak sadar kalau kini gilirannya telah tiba. Tepat di depannya ada Ning Mila yang kini sudah hampir berlalu dari hadapan Ning Nabila. Sedangkan di belakangnya, ada Gus Asad yang memang berdiri di baris terakhir.
Khadijah menagkupkan tangannya di depan dada saat memberi ucapan pada mempelai pria. Sedangkan saat tepat di depan Ning Nabila, Khadijah mengulurkan tangannya. Namun, tanpa di duga, Ning Nabila menepis tangan Khadijah. Kemudian meraih tubuhnya untuk di peluk erat.
Khadijah masih mematung mendapat respon mengejutkan dari Ningnya itu. Sampai beberapa detik berikutnya, Khadijah tersadar saat mendengar pekikan Ning Nabila.
"Ichaaa, sungguh, aku sangat merindukanmu."
Khadijah hanya tersenyum tak enak mendengar penuturan Ning Nabila. Khadijah menatap sekilas pada suami Ningnya itu, berharap pengertiannya.
Sang suami balas tersenyum pada Khadijah, berusaha memaklumi tingkah istrinya itu.
"Jangan rindu Icha, Ning. Berat, Icha tidak kuat. Lebih baik, Ning rinduian suami saja."
Balasan Khadijah sukses membuat rona merah di wajah Ning Nabila bertambah jelas. Bahkan terlihat seperti make up itu tambah merona.
"Ish, kau ini." Ning Nabila mengeplak pelan bahu Khadijah. Sementara Suaminya dan Gus Asad hanya terkekeh mendengar ucapan kedua wanita di depannya.
"Ini, Ning. Maaf jika kurang suka." Khadijah menyerahkan kotak persegi pada Ning Nabila.
Dengan senang hati Ning Nabila menerimanya. Dan dengan gerakan cepat pula, Ning Nabila membuka kotak tersebut.
"Cha, ini beneran??" Pekik Ning Nabila saat di lihatnya isi kado tersebut. Sebuah desain interior kamar lengkap dengan kamar bayinya.
"Iya, Ning. Maaf, hanya itu dari icha.'' Khadijah mengangguk kemudian tersenyum.
"Aaa, Cha. Ini ... ini sungguh luar biasa. Bahkan kau tau apa yang aku inginkan, kau sungguh sangat berbakat." Ning Nabila terus membolak-balikkan desain itu. Berharap bahwa ini nyata bukan mimpi.
Sementara Suaminya hanya menatap takjub pada wanita cantik di depan istrinya itu. Begitu juga dengan Gus Asad yang merasa tambah yakin dengan pilihannya.
Khadijah berlalu setelah beberapa saat mengucapkan selamat pada dua mempelai. Kini tinggallah Gus Asad yang masih setia berbincang dengan Gus Fawaz.
"Ternyata ini, toh. Ning yang istimewa?" goda Gus Asad pada Gus Fawaz yang kini hanya tersenyum polos.
Selama ini, Gus Fawaz hanya mengatakan akan menikahi Ning yang sangat istimewa dalam hidupnya. Semua teman-temannya begitu penasaran dengan sosok Ning tersebut. Dan hari ini terjawab sudah semuanya.
Ning Nabila, Ning cantik dengan segudang prestasinya. Khafidzah yang sangat di idamkan banyak pria. Dan hari ini, keduanya tengah bersanding di pelaminan dengan penuh kebahagiaan.
*****
Khadijah menatap kagum pada Ning Nabila yang tengah berdiri anggun di pelaminannya. Sangat cantik, itulah yang ada dalam pikiran Khadijah.
"Ehemm." Ning Mila berdehem tepat di sebelah Khadijah.
"Kenapa, Ning?" tanya Khadijah dengan tampang polosnya.
"Mbak, kapan kayak gitu?" Ning Mila menaik turunkan alisnya.
"Kalem, Ning. Nanti, kalo sudah ada yang mau berdiri di samping, Icha. Baru deh, Icha kayak gitu." Khadijah menunjuk ke arah Ning Nabila dengan dagunya.
"Hummm, sekarang sudah ada calon belum, Mbak?" tanya Ning Mila sukses membuat Khadijah menatapnya, kemudian menggeleng lemah.
Ning Mila hanya geleng-geleng kepala mendapat jawaban dari Khadijah. Sungguh menggemaskan sekali santriwati bergamis pink ini. Sangat manis dalam pandangan siapa pun.
"Kenapa kang santri itu lama sekali di sana?" batin Khadijah saat melihat Gus Asad masih setia mengobrol dengan dua mempelai.
"Mbak, kita kesana yuk, kita makan dulu." Ning Mila menarik pergelangan tangan Khadijah, membawa santriwatinya ke tempat di mana banyak sekali makanan yang terhidang. Sementara Khadijah, hanya bisa pasrah mengikuti kemana Ningnya membawa.
*****
Setelah bercengkrama dengan pengantin, kini Gus Asad memutuskan untuk menengok ke kamar para santri. Tujuan utamanya adalah kamar di mana di dulu dia tempati.
"Assalamualaikum," salam Gus Asad saat memasuki kamar. Nampak para santri tengah beristirahat karena kelelahan membantu acara.
"Waalaikum salam," serempak mereka yang ada di sana menjawab.
"Ehhh, Kang Mus." Kang Karim, teman terdekatnya menyapa dan langsung beranjak dari duduknya. Sebuah pelukan hangat di terima Gus Asad dari kawan karibnya itu.
"Bagaimana kabarmu, Kang?" tanya Kang Ujang seraya bersalaman dengan Gus Asad.
"Alhamdulillah, baik, Kang," jawab Gus Asad.
Gus Asad menyalami semua yang ada, bergilir kesana-kemari kemudian duduk tepat di samping Kang Karim.
"Ada apa, kang?" tanya Kang Karim saat melihat wajah resah Gus Asad.
"Aku butuh bantuanmu, Kang," jawab Gus Asad dengan berbisik. Kang Karim mengangguk kemudian berdiri.
"Semua, kami permisi dulu, ada urusan," ucap Kang Karim pada semua orang yang ada di sana.
"Kemana, Kang?" tanya Kang Ujang saat Gus Asad juga turut berdiri.
"Ada hal penting, Kang. Kami permisi dulu, Assalamualaikum." jawab Gus Asad.
Gus Asad dan Kang Karim beranjak dari sana setelah semuanya menjawab salam keduanya.
Kini, kedua sejoli itu bergegas menuju tempat di mana dulu sering dijadikan sebagai tempat ternyaman untuk berbagi rasa
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabarrukan (On Going)
RomanceJudul asal CEO DARI PESANTREN Khadijah Malika Aslan, gadis manja dengan sejuta pesona tersembunyi. Di balik kesederhanaannya yang ternyata putri Sultan. As'ad Musthafa Rahman, kang santri tampan lulusan Kairo Yang berjuang di jalan para ulama. Penca...
