Tinggalkan jejak kawan
Vote komen
Happy reading
***
Khadijah baru saja selesai dengan ritual mandinya. Kemudian mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil melangkah mendekati Ning Mila yang tengah berbaring di ranjang.
"Bagaimana Mbak, pengalaman ke sawah?" Ning Mila menaikkan alisnya.
"Cukup menyenangkan, Ning. Hanya saja, kau lihat sendiri, kan? Bagaimana keadaan ku?" Khadijah masih saja berusaha mengeringkan rambutnya.
Bagaimana tidak. Saat pulang, Ning Mila mengajak Khadijah untuk menangkap ikan di tempat irigasi yang airnya cukup deras.
Karena Khadijah yang memakai sarung dan tidak terbiasa melakukannya. Alhasil, jadilah Khadijah basah kuyup tercebur ke sungai.
"Ck, itu salah kau sendiri mbak. Bukankah sudah Mila peringatkan, jangan memakai pakaian itu saat pergi ke sawah tapi kau masih saja keras kepala." Ning Mila merasa gemas dengan tingkah santriwati ini.
"Maaf Ning. Icha kira, Ning tidak akan mengajak Icha menangkap ikan." Khadijah jadi merasa lucu sendiri mengingat kejadian itu.
Ingin rasanya Khadijah tertawa. Tapi masih ada rasa malu untuk melakukannya di depan putri sang kyai.
Ning Mila beranjak dari posisinya. Melangkah menuju lemari dan membukanya. Setelah beberapa saat, Ning Mila kembali dengan sebuah kotak di tangannya.
Khadijah masih diam memperhatikan Ning Mila yang kembali mendekati ranjang. Ning Mila kemudian duduk tepat di samping Khadijah.
"Menurut mbak, bagaimana?" tanya Ning Mila saat membuka kotak itu dan nampak sebuah tas cantik berwarna maroon. Tas itu nampak begitu cantik.
"Cantik Ning," jawab Khadijah jujur.
"Ini untuk Ning Nabila, menurut mbak bagaimana?" Ning Mila mengeluarkan tas tersebut dari kotak.
"Cocok Ning," jawab Khadijah seadanya.
Khadijah membayangkan wajah cantik Ning Nabila mengenakan tas tersebut. Sungguh, nampak elegan sekali.
"Tapi Mila ragu mbak, takutnya Ning Nabila tidak suka." Ning Mila memandang tas tersebut dengan tatapan sendu.
Khadijah menyentuh bahu Ning Mila. Mencoba meyakinkannya.
"Jangan seperti itu Ning, Ning Nabila tak pernah memandang nominal kok." Khadijah mengingat bagaimana tabiat seorang Ning Nabila yang begitu menghargai setiap pemberian.
"Benarkah??" Ning Mila berbinar mendengar ucapan Khadijah.
Khadijah mengangguk dan tersenyum.
"Kalo begitu, bantu Mila membungkusnya ya mbak."
Ning Mila begitu antusias menyiapkan kadonya. Dia bergegas mencari kardus, plester, gunting dan kertas kado.
''tunggu-tunggu, mbak Icha tidak memberi kado pada Ning Nabila??" tanya Ning Mila penuh selidik.
"Ada, tapi nanti saja Ning. Lagipula, kado Icha sudah di bungkus," jawab Khadijah tanpa menoleh kearah Ning Mila yang tengah memandangnya dengan tatapan serius.
"Ohh baiklah," jawab Ning Mila pasrah.
Setelah selesai membungkusnya, kini Ning Mila beralih pada pakaian yang akan di kenakan besok di acara pernikahan Ning Nabila.
"Sungguh rempong Ningnya satu ini," pikir Khadijah.
"Mbak, kalo menurut mbak, ini pas tidak jika dipadukan dengan kerudung yang ini?" Ning Mila menunjukkan satu set gamis berwarna maroon dengan hijab corak senada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabarrukan (On Going)
RomanceJudul asal CEO DARI PESANTREN Khadijah Malika Aslan, gadis manja dengan sejuta pesona tersembunyi. Di balik kesederhanaannya yang ternyata putri Sultan. As'ad Musthafa Rahman, kang santri tampan lulusan Kairo Yang berjuang di jalan para ulama. Penca...
