Bab 10 (ada apa Mas?)

464 40 0
                                        


Yukkk ramaikan lapakk

Jangan lupa tinggalkan jejak

Vote komen

Happy reading
***

Gus Asad berjalan agak tergesa-gesa menuju sawah. Karena kecerobohannya tadi di pasar, mengakibatkan Gus Asad sedikit terlambat.

Sampai di sawah, keadaan sudah ramai dengan beberapa warga desa yang turut membantu prosesi panen padi. Nampak Abah dan Umi juga ada di sana tengah memantau berjalannya proses panen.
"Assalamualaikum, Abah. Ini yang Abah minta." Gus Asad menyerahkan tikar kepada Abah Zaid.

"Waalaikum salam. Sad kenapa lama sekali, Nak?" Abah Zaid merasa bingung, kenapa Gus Asad datang terlambat.

"Maaf Bah," ucap Gus Asad seraya menundukkan kepala tak berani menatap manik Gus Asad.

Gus Asad sadar akan kesalahannya. Tanpa di beri tahu pun Abah Zaid pasti akan tahu apa yang terjadi pada anak-anaknya. Mungkin, itulah karomah seorang Kyai alim.

"Jangan diulangi lagi. Bukankah kau sudah tau, dengan apa yang kau lakukan? Kemana ilmu yang kau dapatkan jauh-jauh dari Kairo??" Tanya Abah Zaid dengan tenang. Namun, tersimpan kekecewaan pada putra keduanya itu.

"Maaf, Abah. As'ad tidak akan mengulanginya lagi." Gus Asad masih saja menunduk.

"Jika kau memang tertarik padanya, maka tempuhlah jalan halal, Sad." Ucap Abah Zaid tersenyum, menasihati putranya.

"Insyaallah, jika Asad sudah mantap, Asad sendiri yang akan meminta pada orang tuanya." Gus Asad berusaha meyakinkan Abahnya.

"Abah tunggu kabar itu."

"Nggih, Bah." Gus Asad merasa lega karena Abahnya tak memperpanjang masalah ini.

*****

Setelah bercakap-cakap dengan Abahnya, Gus Asad akhirnya turun tangan untuk membantu Gus Asad yang tengah memasukkan padi yang telah di guling kedalam karung. Sementara Abah dan Umi tengah duduk santai di tikar yang tadi dibawa Gus Asad.

"Assalamualaikum semuaaa." Terdengar teriakan nyaring Ning Mila yang baru saja datang.

Sejenak Gus Asad melirik kedatangan adiknya itu. Namun, bukan Ning Mila yang jadi tujuan pandangannya, melainkan gadis yang ikut di belakang Ning Mila. Gus Asad menatap lekat ke arah kedatangannya. Beberapa detik kemudian, Gus Asad memalingkan wajahnya dan beristighfar.

Ingat dengan pengawasan Abahnya. Ingat dengan dosa dari perbuatannya membuat Gus Asad menghela nafas berat. Rasanya ada sesuatu yang ingin dikeluarkan, tapi entah apa itu, Gus Asad pun tak tau.

Pandangan Gus Asad kembali melirik ke arah gadis itu. Nampak dia begitu akrab dengan Abah dan Umi. Sekelibat bayangan menyelinap di pikirannya. Sungguh indah jika ikatan mereka bukan antara santri dan kyai, melainkan menantu dan mertua.

Gus Asad menggelengkan kepalanya, berusaha menghapus angan-angan itu dan mengembalikan kesadarannya.

"Mas, ada apa? Kayak resah gitu?" Tepukan di bahu dari Gus Serkan sukses mengejutkan Gus Asad.

"Eh, tidak apa-apa, kau lanjut saja, Mas mau pergi dulu," jawab Gus Asad seraya beranjak berusaha menghindari adiknya.

"Eitsss tidak bisa begitu, Mas. Enak saja, kau mau pergi begitu saja, meninggalkan semua pekerjaan ini." Gus Serkan mencengkeram pergelangan tangan Gus Asad.

"Kan, mas mohon. Mas ada urusan, Mas tinggal dulu ya." Gus Asad berusaha membujuk adiknya yang satu ini.

"Urusan apa sih Mas?? Penting banget??" tanya Gus Serkan merasa tak percaya dengan alasan kakaknya.

Tabarrukan (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang