COMPLETED
Ini hanya tentang Sunoo, seorang lelaki bak matahari tenggelam yang bersinar indah dibalik ketidaksempurnaannya.
Start : July 6, 2021
⚠️ BL Story
⚠️ Homophobic jangan salah lapak!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
----------------------- Garis Senja --------------------------------
“Ya, Tuhan! Kim Sunoo!”
Seisi kelas serempak menoleh ke arah pintu yang menampilkan sosok lelaki manis yang sangat urak-urakan. Kedua tangannya pun diperban oleh kain kasa. Sementara lelaki manis yang dimaksud dengan santainya berjalan memasuki kelas tanpa mengindahkan tatapan mata puluhan orang yang kini memandangnya.
Ya, hari ini Kim Sunoo malah menginjakkan kaki di sekolah. Dia tidak peduli dengan peringatan Bu Seulgi yang menyuruhnya untuk mengambil absen hari ini. Sunoo hanya ingin menyibukkan diri agar ia tidak terus memikirkan Jungwon yang malah membuatnya semakin berdarah.
“Ada apa dengan Sunoo?” bisik teman sekelasnya yang masih dapat Sunoo dengar. Namun lelaki manis itu hanya diam sambil menatap kosong meja di hadapannya.
Di sisi lain, Sunghoon yang melihat itu langsung bangkit dari duduknya dan berlari keluar kelas menyisakan tatapan bingung dari ketiga sahabatnya.
“Kenapa Sunghoon pergi?” tanya Jake tanpa memalingkan wajahnya. Sementara Heeseung dan Jay memilih diam mengacuhkan pertanyaan Jake.
Tak berselang lama, Wonyoung yang melihat keadaan Sunoo yang jauh dari kata baik-baik saja langsung berjalan menghampirinya. Ia memandang Sunoo remeh lalu berkata, “Malang sekali dirimu, Kim Sunoo.”
Mendengar itu, Sunoo hanya melirik sekilas ke arah Wonyoung lalu menundukkan kepalanya. Kembali menatap kosong meja di hadapannya yang sepertinya sangat menarik.
“K-kak, permisi.” Seorang lelaki berkacamata bulat tebal berdiri di belakang Wonyoung. Tangan lelaki yang bahkan Sunoo tidak ketahui namanya itu membawa sebuah kotak P3K.
“Siapa kau? Kenapa kemari?” Wonyoung berucap dengan nada ketus. Entahlah perempuan ini mewarisi sifat buruk dari siapa.
“S-saya—”
“Sudahlah Wonyoung, lebih baik kau kembali ke tempatmu!”
Itu suara Jay. Lelaki itu berucap tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang kini ia genggam.
Wonyoung berdecih sesaat, lalu menatap Jay dengan tatapan menantang. “Ya! Kau berani menyuruhku?”
Mendengar nada gelud dari suara Wonyoung, Jay menjatuhkan ponselnya dengan kasar di meja lalu menatap Wonyoung dengan tatapan elangnya. Oh, gosh! Siapa pun akan bergedik ngeri melihat tatapan tajam Jay yang satu ini.
Wonyoung menelan salivanya dengan susah payah. Perempuan itu memutar bola matanya malas lalu pergi menjauh diikuti dua antek-anteknya.
“Kak, boleh saya membuka perbannya?” kata lelaki itu sambil membenahi letak kacamatanya.
Sunoo mengangguk kecil. Detik selanjutnya ia mengulurkan kedua tangannya.
“Maaf kalau sakit,” katanya seraya membuka perban yang melilit di tangan Sunoo.