GARIS SENJA
------
6 tahun kemudian…
Siapa yang tidak mengenal Park Sunghoon? Dokter muda yang banyak dielu-elukan orang di sekitarnya berkat ketampanan serta ketulusan hatinya dalam melayani pasien. Seorang Dokter yang sukses menyandang gelar Magister di usianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun dengan jabatan Residen Emergency Medis di Rumah Sakit yang ia tangani.
Ah, siapa pun pasti mengenalnya. Karena Sunghoon begitu bersinar dengan berjuta ton cahaya yang mengiringi langkahnya.
Tapi nyatanya, dia tidak seperti itu. Sunghoon hanyalah makhluk munafik yang bersedekap dalam bayang-bayang masa lalu. Menggunakan kekuatan cahaya untuk mengelabui orang di sekitar yang tak mengetahui fakta bahwa sebenarnya Sunghoon diliputi oleh kegelapan. Kebahagian Sunghoon itu palsu.
Sebenarnya, keberhasilannya kini tak jauh dari kata peralihan hati dan pikiran. Belajar dan menyibukkan diri menjadi satu-satunya cara untuk melupakan si manis yang mengisi hatinya enam tahun lalu. Ah, ralat. Masih mengisi hatinya dari enam tahun lalu.
Sialnya, semua berujung sia-sia. Sunghoon tidak dapat melupakan si manis. Bahkan perasaan Sunghoon terhadap si manis masih sama. Tak ada yang berubah. Sunghoon masih amat mencintainya.
Biarlah dunia yang mereka pijaki kini berbeda. Karena pada dasarnya, perasaan itu tak dapat dihapus semudah membalikkan telapak tangan.
Kini, Sunghoon tengah melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit. Meninggalkan tatapan-tatapan memuja dari para manusia yang dilewatinya.
“Pak Sunghoon!” sapa beberapa anak koas padanya.
Sunghoon sedikit menganggukkan kepalanya, membalas sapaan tersebut. Setelahnya, Sunghoon mengembuskan napas berat saat mendengar pekikan anak koas yang tadi menegurnya.
“Doktel Sunghoon!”
Sunghoon menoleh dan mendapati seorang bocah lelaki tengah berlarian ke arahnya. Tentu Sunghoon mengenalnya, dia adalah Seo Woojin. Bocah enam tahun yang ayahnya kecelakaan beberapa minggu yang lalu.
“Halo, Woojin!” sapa Sunghoon sambil menurunkan tubuhnya, sejajar dengan Woojin.
“Halo, Paman Doktel,” balas Woojin menyapa, “Paman Doktel, ayah Woojin sudah baikan. Telima kasih sudah merawat ayah,” ucapnya dengan logat anak kecil yang masih kental.
Sunghoon terkekeh gemas lalu mencubit pelan pipi Woojin. “Bilang terima kasihnya sama Tuhan. Paman hanya perantara Tuhan untuk menyelamatkan ayah kamu.”
Woojin mengangguk lucu. Kepalanya langsung mendongak ke atas. “Telima kasih, Tuhan.”
Sunghoon tersenyum lembut. Tangannya beralih mengusak puncak kepala Woojin. “Anak pintar.”
Woojin tersenyum malu. Dia kemudian memandang Sunghoon dengan tatapan menelisik. “Paman Doktel, kenapa tidak memakai baju putih sepelti kemalin?” tanyanya.
“Paman ingin keluar. Sekarang sudah jam istirahat.”
“Oh, jadi Paman Doktel tidak pakai baju Doktel yang cakep itu?” tanya Woojin lagi yang langsung di-iyakan oleh Sunghoon.
“Paman Doktel, ingin makan, ya? Maaf, Paman Doktel, Woojin ganggu.”
Sunghoon terkekeh gemas. “Tidak masalah. Oh iya, Woojin ingin makan bersama paman?”
Mata Woojin mengerjap lucu. “Woojin mau, Paman Doktel. Tapi Woojin halus menjaga ayah kalena Ibu pulang mengambil baju Woojin. Kapan-kapan saja, ya, Paman Doktel?”
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Garis Senja || Sungsun
FanfictionCOMPLETED Ini hanya tentang Sunoo, seorang lelaki bak matahari tenggelam yang bersinar indah dibalik ketidaksempurnaannya. Start : July 6, 2021 ⚠️ BL Story ⚠️ Homophobic jangan salah lapak!!
![[END] Garis Senja || Sungsun](https://img.wattpad.com/cover/276360111-64-k562753.jpg)