COMPLETED
Ini hanya tentang Sunoo, seorang lelaki bak matahari tenggelam yang bersinar indah dibalik ketidaksempurnaannya.
Start : July 6, 2021
⚠️ BL Story
⚠️ Homophobic jangan salah lapak!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
------------------------- Garis Senja -----------------------------------
Sunoo lagi-lagi pergi ke rooftop—tempat favoritnya. Lelaki manis itu lalu mendudukkan diri di tempat paling pojok di samping tumpukan bangku kayu yang sudah tak layak pakai. Sesekali dia memejamkan mata untuk menahan perih di wajahnya.
Wonyoung. Nama itu benar-benar membuat Sunoo kesal hari ini. Bagaimana tidak? Uang yang kemarin baru saja dikirim oleh ayahnya sudah ludes karena Wonyoung dan antek-anteknya. Tidak tahukah seberapa berharga nominal uang itu untuk Sunoo? Hei, itu jatah Sunoo sebulan. Ck, bagaimana dia bisa makan nanti?
“Ah, aku sudah menduga kau pasti di sini, Sunoo.”
Itu Jungwon. Ia nampak mengatur napasnya sesaat sebelum mendekatinya lalu duduk di sebelahnya.
“Bagaimana rasanya? Apa ini sangat sakit?” tanya Jungwon sambil mengamati wajah Sunoo yang lebam.
“Tidak.”
“Katakan sejujurnya, Sunoo!” ucap Jungwon, “Aku tahu ini sangat sakit. Aku hanya ingin kau berkata jujur padaku tentang ini. Aku sahabatmu.”
Sunoo tersenyum memandang sahabatnya yang tengah merajuk.
“Kau benar, Jungwon. Ini sangat sakit. Sakit sekali.” Sunoo jujur pada akhirnya. Hal itu membuat Jungwon tercekat. Air mata mulai mengaburkan pandangannya. Bibirnya terkatup rapat. Ia enggan untuk berbicara karena takut yang keluar malah isakan.
Jungwon kemudian menyibukkan diri dengan kotak P3K yang dia ambil di UKS sebelum mencari Sunoo. Sementara Sunoo sendiri hanya diam sambil menatap Jungwon.
Tidak tahan, akhirnya Sunoo memegang pundak Jungwon hingga lelaki mungil itu menolehkan pandangan padanya. “Jangan menangis, Jungwonie.”
Mulut Sunoo bergerak lembut. Senyum cerah secerah matahari mulai terlukis di wajah manisnya dengan mata yang ikut melengkung indah khas seorang Kim Sunoo.
Alih-alih menuruti perkataan Sunoo, air mata Jungwon malah jatuh semakin deras. Kini lelaki itu benar-benar menangis dengan isakan yang semakin membuat Sunoo merasa bersalah.
“Maaf.” Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Jungwon, membuat Sunoo dengan refleks menggeleng. “Maaf aku tidak becus melindungimu, Sunoo. Aku telah gagal menjadi sahabatmu. S-seharusnya aku di sana membantumu. Seharusnya aku tidak membiarkanmu melawan mereka sendirian. Hiks… maafkan aku, Sunoo.”
Sunoo menggeleng tegas. Tidak, ini bukan salah Jungwon. Jungwon tidak bersalah dan tidak seharusnya meminta maaf seperti ini.
Sunoo mengangkat wajah Jungwon supaya menatapnya. “Jungwonie, kau tidak perlu merasa bersalah. Aku bisa melawan mereka sendiri. Kau bilang aku manusia yang kuat, bukan? Lalu kenapa sekarang kau menangis?”