6- Melodi Pagi

18 7 9
                                        

SASKIA dan Putri duduk berdampingan di kursi ke dua dari depan dan di depan mereka ada Mei dan seorang gadis yang berkaca mata besar, namanya Pelangi. Pelangi seorang gadis pendiam di kelas mereka, sangat berbanding terbalik dengan Mei yang berisik dan ceria. Tapi, mereka sama-sama pintar, oleh karena itu mereka berdua disatukan, agar tidak terjadi kecurangan bagi yang memanfaatkan salah satu dari keduanya. Pelangi sendiri bukanlah dari keluarga yang mampu, di Giorgino higth school sendiri hanya ada dua jalur untuk masuk, jika tidak pintar ya harus kaya. Tentu Pelangi menggunakan opsi pertama hingga ia mendapat beasiswa.

Mei juga selalu menjadikannya motivasi untuk mendapatkan Revan. Logika orang normal akan mengatakan bahwa tidak ada hubungannya sama sekali. Tapi, bagi Mei ini adalah dua hal yang sama. Perjuangan Pelangi untuk sekolah di Giorgino higth school harus Mei terapkan juga dalam perjuangan mengejar cinta Revan, never give up!

Setelah meletakkan tasnya, Mei memutar kursinya 180 derajat untuk melanjutkan acara rumpi mereka di pagi hari yang mendung ini.

"Jadi kenapa Mei dianter, kak Langit?" Tanya Saskia mengulang pertanyaannya yang belum sempat Mei jawab tadi.

"Daddy yang minta." Jawab Mei tanpa memberi alasan yang jelas atas pinta daddynya itu dengan berusaha mengontrol ekspresinya dan mempertahankan senyum manis yang sudah menjadi karakter dari dirinya.

"Sama kak Langit aja, cowok banci kayak Revan nggak guna." Saran Putri, seperti biasa dengan nada sinismenya.

Putri yang memang kurang suka dengan obsesi akan Revan dan juga Revan yang tidak bisa menghargai perempuan sedikitpun. Lain halnya dengan Saskia yang amat men-support Mei dengan kakak kelas plus ketua basket putra sekolah mereka itu. Saskia sebagai pembaca novel-novel romance, ia sangat mempercayai bahwa cerita yang terjadi di dunia oren, pasti adanya di real life.

Tidak mungkin seorang penulis berimajinasi tanpa inspirasi dunia nyata!

Kalimat itu yang selalu Saskia katakan.

Saskia juga sangat amat yakin bahwa nanti perjuangan Mei pasti akan berhasil. Kisah cinta sahabatnya itu pasti akan happy end, Saskia sangat meyakini itu. Saskia juga sering berkhayal, suatu saat nanti ada pangeran berkuda putih dengan baju besinya membawa Saskia ke sebuah kerajaan yang sangat besar untuk menjadi permaisuri. Okay! Sepertinya fantasi Saskia sudah sangat berlebihan. Dasar Saskia korban Wattpad!

"Ih Putri kok gitu ngomongnya? Kak Epan bukan—" Kalimat Mei terhenti saat ia teringat sesuatu yang... "KAK EPAN!" Teramat penting. Mei berteriak lalu bangkit dari duduknya mengundang pasang mata untuk melihatnya.

"Me-mei, jangan teriak dulu, ya? Pelangi lagi hapalin rumus fisika." Cicit seorang gadis yang berkaca mata besar yang duduk di samping Memei.

"Hehe maapin Mei ya, Pelangi." Ucap Mei cengengesan, lalu dengan tergesa ia mengambil kotak bekal di dalam tasnya, dan segera berlalu menuju kelas sang pujaan hati.

"MEI, MAU KEMANA?" Putri refleks menutup telinganya karena suara cempreng yang keluar dari mulut makhluk di sampingnya saat ini.

Mei menaiki tangga dengan tergesa, ia merutuki dirinya yang melupakan hal penting ini. Meski pagi ini banyak yang berubah, namun tidak dengan yang satu ini. Mei masih membuat nasi goreng untuk Revan walau bekal yang ia buat tak pernah dihargai sama sekali. Sedikit ada percekcokan antara Mei dan daddynya yang disebabkan sebuah nasi goreng. Namun, apa boleh buat, jika Mei sudah menginginkan sesuatu, maka Bryan akan sulit untuk menolaknya.

Apakah bentuknya masih utuh?

Itu yang Mei pertanyakan sedari tadi, mengingat ia menaruhnya di dalam tas. Mei tidak enak jika bekalnya ia pegang seperti biasanya karena yang mengantarkannya ke sekolah adalah Langit, rasanya tidak etis sekali jika Mei membawa nasi goreng untuk Revan tapi tidak membuatkan juga untuk Langit. Mei yakin, pasti simbol love yang ia gambar menggunakan saos tomat tadi sudah tak karuan bentuknya. Mulai besok, Mei harus membuat dua porsi nasi goreng.

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang