7- Melodi Pagi

34 9 7
                                        

"WIH, DEDE MEMES COSPLAY JADI LIU YIFEI?" Riko menyahut kegirangan, yang emang pada dasarnya sangat menggemari drachin itu.

"Mei, please ganti." Entah sejak kapan, Reza sudah bersujud di depan Mei.

"Eh, kak Eja kenapa gitu, ih" Mei merasa tidak enak karena Reza benar-benar hampir menyium kakinya.

"Wo ai ni...Wo ai ni..."

"Mei, liat tuh liat, penyakit edan-nya kambuh!" Reza bersorak khawatir sambil menggoyang-goyangkan tangan Mei, layaknya anak kecil yang meminta dibelikan es krim.

"Kak Reza, edan itu apa?" Tanya Mei ikut khawatir.

"Pokoknya gawat! Ayo Memei ganti bahasanya!" Buruh Reza, karena Riko sekarang sudah menari tidak jelas di depan kelas sambil mengucapkan kata wo ai ni...

"Eumm bahasa apa yaa..." Memei memaksa otaknya agar berfikir cepat. Takut-takut hal buruk terjadi pada Riko.

"Aha! Ana uhibuka ya akhi" Seketika goyangan Riko berenti, ia berjalan menuju Memei dengan memberenggut kesal.

"Udah bagus yang tadi elahh, Demes." Riko berucap sememelas mungkin.

"Lanjut, Mei pipiww." Ucap Reza yang merasa puas melihat tingkah aneh Riko usai.

"Hal tuhibbu aidon ma'i?" Memei mengucapkan kalimat tanya, yang tentu kalimat itu menanyai bagaimana hati Revan terhadapnya.

"Mwei, translate nya dwong." Sahut salah seorang murid yang bertubuh bak sumo, tampak sedang memakan roti di meja paling depan.

"Iya, ayo dong, Mei." Sahut yang lainnya.

"Kalian ini bego banget elahh, itu artinya Memei nanya sama Revan." Itu suara berat Rion.

"Wah! Assalamualaikum, ustaz. Nggak nyangka gue, Yon. Ternyata lo punya bakat terpendam." Ucap Reza sok bangga. Memang tidak ada yang terlihat murni setiap ekspresi yang terpampang di wajah Reza. Semuanya terlihat...konyol.

"Emang apa artinya?" Rion ikut penasaran dengan bakat terpendam temannya itu. Sepertinya ia sudah melupakan tentang drachinnya yang kebanyakan micin itu.

"Yo ndak tau, kok tanya saya." Ucap Rion dengan cengiran bodohnya, membuat Reza, dan Riko merasa bodoh telah mengagumi Rion meski sesaat.

"Gue nggak tau artinya dan nggak mau tau, jawaban gue nggak!" Begitulah Revan menjawab pertanyaan Mei setiap harinya, seolah ia sudah sangat tau akan arti dari kalimat asing yang Mei lontarkan setiap harinya.

"Laba'sa kak Epan, eum yumkin kafaitu huna kalami. Saazhabu ila fasli, ila liqo' jami'an!" Mei keluar kelas sambil melambaikan tangan dengan senyum manis yang menjadi ciri khasnya. Sementara semua orang mencengo, apa yang dia katakana, sih?

"Kira-kira besok Demes pakai bahasa apa lagi, ya?" Reza menerawang ke atas.

"Bahasa Jawa, mungkin." Ucap Rion ngasal.

"Yakali, Yon. Bahasa luar aja ditolak Revan, apalagi bahasa daerah." Sahut Riko.

"Eitss jangan salah lo, Ko. Kita itu harus mencintai budaya Indonesia yang ragam akan bahasa. Mana tau bisa membuka hati Revan yang digembok tujuh kunci, ya nggak, Van?" Jelas Riko dan meminta persetujuan orang yang bersangkutan. Dan yang pasti jawabannya...

"Nggak!" Nah, lihat sendirikan. Segala hal tentang Mei, Revan hanya punya satu kosa kata itu. Em, bukan hanya Mei saja, tapi seluruh makhluk yang disebut perempuan.

Bel pertanda jam pelajaran pertama usai telah berbunyi, itu artinya waktu untuk para siswa memberi makan cacing-cacing yang sudah meronta ingin diberi makan. Rata-rata para siswa memang lebih memilih makan di kantin dibanding makan di rumah sendiri. Selain karena tidak biasa sarapan pagi-pagi sekali, juga karena nasi goreng mbak Ayu yang tiada duanya. Garis bawahi untuk laki-laki, tentu karena penjualnya yang bahenol dan begitu ayu seperti namanya.

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang