28- Melodi Pagi

2 0 0
                                        

KELAS XII MIPA 4 ribut dikarenakan tidak ada guru. Guru piket yang biasanya selalu menggantikan pun tidak ada, bahkan Pak Syamsul si galak juga tidak terlihat batang hidungnya.

"Za, mulut lo apa nggak kering diam mulu?" Riko mencolek-colek lengan Reza dengan bibir di monyong-monyongkan, membuat Aurora yang memang duduk di kursi samping mereka mendadak mual. Tapi, meski begitu ia tetap memasang kamera gawainya untuk merekam drama Riko dan Reza. Lumayan bahan gosip dengan higligth 'Dua badut XII MIPA 4 ternyata homo!'

"Kemaren gue lihat lo di rumah sakit, siapa yang sakit, Za?" Pertanyaan Rion sontak menarik atensi Revan.

"Gue nggak ke rumah sakit." Reza menjawab tanpa membalas tatapan Rion.

"Masa, sih? Gue yakin banget itu lo."

"Lo salah lihat."

"Lo suka sama Mei?"

Pertanyaan yang Revan lontarkan itu sukses membuat Riko dan Rion terkejut.

Reza mengangkat sebelah alisnya, "Peduli apa lo?"

"Gue tanya lo suka sama Mei?" Revan kembali mengulang pertanyaannya, menuntut jawaban.

"Kalau iya kenapa?" Tanya Reza menantang.

Revan terkekeh sinis. "Cuma karna cewek lo jadi berubah gini?"

Brak! Reza memukul meja dan berdiri dari duduknya, napasnya memburu, ia tersulut emosi. Sudah cukup dia diam selama ini.

"Lo seharusnya bersyukur dicintai cewek setulus Mei!"

"Mei nggak nuntut lo buat balas perasaannya, Mei cuma minta waktu lo sebentar, sebentar aja, dan lo dengan teganya tak acuh! Jangan menyesal kalau setelah ini lo nggak akan pernah lihat Mei lagi."

Buk! Reza melayangkan pukulan terakhirnya yang kali ini Revan pasrah tanpa pertahanan, tubuhnya luruh ke lantai. Bagaimana Reza tahu Mei memintanya untuk bertemu? Ia tahu ia sudah keterlalun, tapi ia kira itu hanya ajakan Mei seperti biasanya yang jika ia tak acuh atau bahkan menolaknya dengan gamblang Mei akan kembali luluh jika ia mengajak Mei ke luar lain hari. Mei tidak pernah marah padanya, kan? Revan juga tidak menyangka pesan yang di kirimkan oleh Mei waktu itu menjadi pesan terakhirnya hingga hari ini, bahkan sudah seminggu ini Revan tidak melihat Mei di sekolah.

"Mei di mana?"

"Lo nggak perlu tahu di mana Mei sekarang!"

"Kalau lo nggak mau kasih tahu, biar gue yang cari tahu sendiri!" Revan berlalu meninggalkan kelas.

Bel tanda istirahat baru saja berbunyi. Siswa-siswi Giorgino berbondong menuju kantin untuk memberi makan cacing-cacing yang sudah meronta mengaduk lambung. Begitupun dengan Saskia dan Putri yang dengan segera ke luar dari kelas, mereka tidak mau antre di kantin. Namun, langkah keduanya terhenti ketika sosok laki-laki jangkung menghadang jalannya.

"Mei nggak masuk?"

Saskia mendengus sedangkan Putri menatapnya tajam. Keduanya berbalik arah, lebih baik memilih jalan memutar dari pada meladani Revan.

"Gue cuma mau tahu Mei di mana?" Revan kembali bersuara mengintrupsi langkah keduanya.

Putri menggeram, ia berbalik, menunjuk Revan tepat di depan wajahnya. "Lo, bukan siapa-siapa untuk berhak tahu di mana Mei saat ini."

"Gue pengen ketemu, Mei. Tolong kasih tahu gue di mana dia sekarang? Kenapa dia nggak ke sekolah?"

"Udah seminggu lebih Mei nggak sekolah dan kak Revan baru nanya sekarang Mei di mana?" Saskia ikut bersuara, ia hilang respect dengan kakak kelas di depannya ini.

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang