DI LAIN tempat, Revan menatap gawainya dengan bingung. Tidak ada satu notifikasi pun dari nomor Mei. Meski nomor gadis itu tidak Revan simpan, tapi ia sudah sangat hafal dengan ujung nomor Mei, 7199. Tiba-tiba layar gawainya menampilankam panggilan masuk.
"Halo?"
Terdengar suara panik dari seberang sana. "Van! Sumpah. Gue nggak mikir panjang tadi, gue kasih tahu aja alamatnya, gue kira dia cuma mau tahu aja. Tapi sekarang malah nggak bisa dihubungi, orang tuanya juga nggak tahu dia ke mana." Reza langsung berbicara tanpa henti ketika panggilan tersambung.
"Ngomong yang jelas." Revan kesal. Ia sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menanggapi ucapan Reza yang tidak penting.
"Mei, Van! Mei hilang." Jantung Revan bertalu. Mei hilang?
"Alamat apa?" Revan memejamkan mata. Berusaha menghalau pikiran buruknya. Namun, jawaban Reza membuat jantung Revan seakan berhenti.
Revan meraih kunci motornya. Kali ini jangan lagi, kali ini Revan tidak akan terlambat. Revan melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. jantung Revan berdetak kian kencang seiring jarak rumah tua itu semakin dekat. Dejavu! Dulu, persis sore menjelang senja seperti ini. Revan juga mendatangi rumah tua itu dengan perasaan khawatir yang membuncah. Revan bisa melihat Reza yang baru saja memarkirkan motornya di depan rumah itu. Revan tidak ingin membuang waktu, ia segera berlari masuk ke dalam rumah itu tanpa memperdulikan motornya yang jatuh karena belum terparkir dengan benar.
Sepi. Tidak ada seorang pun di sana. pandangan Revan tertuju pada satu-satunya ruangan di sana. Pintu kayu itu. dengan langkah seribu ia segera menendang pintu itu. Dia tidak mungkin terlambat, kan?
Brak!
Revan yang sedang kalut memikirkan segala kemungkinan buruk yang terjadi, justru dibuat kaget ketika mendapati Mei yang sedang duduk nyaman di atas pangkuan salah satu preman. Sedangkan preman yang satunya mengelus pelan kulit putih Mei. Tiga pasang mata yang berada di ruangan itu dibuat terkejut dengan kedatangan Revan.
"Kak Revan kok bisa di sini?"
Revan berdecih. "Orang-orang khawatir dan ternyata lo lagi enak-enakan main sama om-om."
"Kak—" Ucapan Mei seketiga terhenti ketika mendengar suara Reza yang mendekat.
"Iya tan, Reza sama Revan juga lagi cari Mei, nanti Reza kabarin tante kalau Mei udah ketemu."
"..."
"Waalaikumsalam, tan."
Revan terkekeh sinis. "Gue rasa kita buang-buang waktu ke sini. Bilang ke tante Nica, kalau anak kesayangannya ini udah besar, bahkan udah bisa main sama om-om." Revan balik badan. Ia ingin segera pergi dari tempat menjijikan itu.
Reza menatap Mei dan tubuh Revan yang perlahan menjauh. Ia tidak paham apa yang sedang terjadi saat ini. Ia berjalan cepat menahan Revan.
"Van, kenapa Mei ditinggal?"
"Dia baik-baik aja." Jawab Revan tanpa menghentikan langkahnya.
"Kalau preman itu macam-macam sama Mei, gimana?"
Revan mengangkat pundaknya tak acuh. "Dianya aja suka."
"VAN LO GILA!" Reza menarik kera baju Revan hingga laki-laki itu tersentak.
"DIA YANG GILA SAMPAI BERANI JUAL DIRI!
Skip
Mei hendak berdiri untuk mengejar Revan, tapi tangannya dengan segera dicekal preman itu hingga membuat Mei terduduk di pangkuannya lagi.
"Eits mau ke mana, sih? Kami sudah ceritakan semuanya. Kamu harus menepati janjimu gadis manis." Bisik Preman itu tepat di telinganya.
"Lepasin. Mei nggak mau disentuh-sentuh om."
"Wow...mana sikap manis beberapa menit lalu?"
"Bos, bocah tadi bukannya yang jebolin kita ke penjara waktu itu? Kalau dia telpon polisi lagi gimana?"
"Oh jadi gadis manis kita ini kerja sama dengan bocah bajingan itu?"
"Kak Revan nggak bajingan! Om yang bajingan!" Teriak Mei berontak berusaha melepaskan diri.
"Oh yah, kau benar sayang, akan kami perlihatkan bagaimana bajingan itu." Preman yang memangku Mei itu mendekatkan wajahnya hendak mencium Mei. Mei memalingkan wajahnya menghindar.
"DIAM KALAU KAU TIDAK MAU KAMI KASAR!" Teriakan itu seketika membuat Mei menciut.
Preman yang bertubuh kurus turut mendekat dengan senyum smriknya. Ia merobek baju yang Mei kenakan dengan menariknya paksa.
BUK! BUK! BUK!
Revan memukul preman yang baru saja dengan kurang ajarnya merobek baju Mei. Perkelahian dua lawan satu terjadi. Mei yang ketakutan beranjak ke sudut ruangan. Revan menarik kera preman berbadan kurus itu lalu menghempaskannya ke lantai. Buk! Satu pukulan mengenai pelipisnya. Ia kembali memasang kuda-kuda untuk berhadapan dengan kepala preman ini. Bertepatan dengan itu Reza datang dengan memberi kode, Revan menganggukkan kepalanya. Ia sudah menelpon polisi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Novela JuvenilSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
