Pukul 06.15
Mei bersama lima R sudah berada di sekolah. Mereka berniat untuk menemui Bella hari ini. Mereka sengaja datang lebih awal mengingat Bella yang memang selalu datang lebih pagi dan pulang lebih lama.
Mereka bisa mendengar langkah kaki yang menaiki tangga. Mereka memandangi ujung tangga itu lekat-lekat...akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bella mematung menyadari ada banyak orang di sana, harusnya sepagi ini belum ada siswa yang di sekolah.
"Eh sorry." Bella segera berbalik badan namun suara bariton itu mengintrupsi langkahnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Itu adalah suara Revan. Bella tertegun mendengar nada lembut itu. Suara lembut yang kembali menyapanya setelah satu tahun berlalu.
"Di taman belakang."
Bella mengangguk, menggeser sedikit tubuhnya agar Revan dan teman-temannya berjalan lebih dulu.
"Kalian jalan dulu aja, nanti gue nyusul."
Mei maju melangkah lalu ia menggandeng tangan Bella dan membawanya jalan lebih dulu diikuti oleh Revan dan teman-temannya.
Mei dan Bella duduk di kursi taman sedangkan kelima laki-laki itu berdiri melingkari keduanya. Bella yang merasa terintimidasi pun hanya menundukkan kepalanya.
"Lo masih virgin?" Pertanyaan Revan sukses membuat semua orang yang berada di sana kaget. Mereka tidak menyangka Revan akan bertanya sefrontal itu.
"Maksud lo apa nanya kayak gitu!" Jawab Bella ketus memalingkan wajahnya. Bagaimana pun Revan itu laki-laki ditambah lagi teman-temannya yang lain juga di sana.
"Iya atau enggak!" Revan menuntut jawaban.
"Virgin atau enggaknya gue nggak ada urusannya sama lo!" Bella memberanikan diri membalas tatapan tajam Revan.
"Tentu itu ada hubungannya sama gue! Lo sahabat gue, Bel!"
Bella tertegun. Revan menyebut dirinya sebagai sahabat? Jika boleh jujur, Bella merindukan sahabatnya itu. Tapi semua itu hanya masa lalu, Bella segera berdiri yang diikuti oleh Mei.
"Ya. Gue memang sahabat lo. sebelum gue jadi penghianat yang menjijikkan." Bella segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
"Oh ya, untuk pertanyaan lo, perempuan murahan kayak gue nggak mungkin masih virgin, kan?" Ucapnya terkekeh. Siapapun yang mendengarnya jelas sekali terdapat getaran lirih di dalamnya.
"Siapa yang bilang lo murahan!" Suara Regan berhasil menghentikan langkah Bella.
"Bel, walaupun kita nggak dekat sama lo, tapi kita tahu seberapa dekat lo, Revan, dan Ta-"
"Sebenarnya kalian mau apa?!" Bentak Bella sebelum Reza melengkapi kalimatnya.
"Kita mau lo jelasin apa maksud ini." Revan berjalan mendekat hingga ia berdiri berhadapan dengan Bella.
"Iya dua gadis yang memiliki tubuh sangat indah. Tapi gadis yang bernama Bella itu memohon agar temannya dibebaskan padahal temannya sudah bugil. Tapi dia berjanji akan menjadi budak pemuas nafsu kami jika kami mau membebaskan temannya, tapi-"
Pause. Tubuh Bella mematung mendengar audio itu. Wajahnya pias.
"KENAPA SELAMA INI LO DIAM AJA? KENAPA LO BIARIN ORANG-ORANG HINA LO?!" Revan mencengkram pundak Bella.
"Kenapa lo biarin sahabat lo ini salah paham?"
"Gue bahkan nggak yakin apa gue masih pantas disebut sahabat." Lirih Revan tertunduk.
Bella meneguk ludah, ia mendongakkan kepalanya tak ingin melihat Revan yang putus asa juga agar air matanya tidak luruh. Dengan tenaga yang tersisa Bella menepis tangan Revan dari pundaknya.
"Kenapa lo mudah banget percaya sama audio itu. Bisa aja itu editan atau tipuan. Mana mungkin gue ngorbanin diri cuma demi Tasya." Bella membuang muka.
"Cukup! Udah cukup lo bohongin kita selama ini, Bel!" Revan kembali teriak.
Mei dan teman-temannya yang lain hanya diam. Mereka membiarkan Revan dan Bella menyelesaikan kesalahpahaman antara mereka.
Akhirnya air mata itu luruh. Bella terisak pelan.
"Siapa yang nolongin lo waktu itu?"
Skip
Tidak ada yang tahu bagaimana Tuhan menulis skenario kehidupan, bukan? Sejauh apapun kaki berlari. Takdir Tuhan sudah ditetapkan, sudah pasti tak bisa terelakkan.
Kini Bella, Memei, dan lima R duduk melingkar di bawah pohon beringin di belakang sekolah.
"Gue nggak sadarkan diri setelah kejadian itu." Bella mencoba mempertahankan senyumnya mengingat masa lalu suram itu.
Semua kaget mendengar penuturan Bella. Gadis di depan mereka ini, gadis yang selalu mendapat hinaan dari orang-orang karena suatu hal yang sebenarnya tidak ia lakukan, ternyata ia menyimpan luka begitu dalam.
"Ketika gue sadar, nggak ada siapa-siapa lagi di sana. Gue nggak bisa ngapa-ngapain, tubuh gue kaku waktu itu. Seminggu gue nggak masuk sekolah." Ia perlahan menatap Revan.
"Waktu itu bukan gue nggak mendengar tentang Tasya, gue juga sama gilanya. Meskipun gue sendiri yang menyerahkan diri waktu itu, rasanya tetap berat buat nerima semuanya." Mei menggenggam tangan Bella pelan.
"Gue minta maaf." Bella menoleh ke samping kanannya di mana Revan berada. Ia mengukir senyum tipis.
"Nggak papa. Lagian salah gue juga sampai suka sama lo dulu yang bikin kesalahpahaman ini semakin besar. Em... tapi Tasya sekarang baik-baik aja, kan? Gue berusaha cari tahu, tapi gue nggak punya nyali untuk sekadar bertanya ke kalian ataupun orang tua Tasya. Tasya masih...masih..." Bella ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ia takut dengan segala kemungkinan buruk itu.
"Masih, ketika diperiksa dokter, ternyata Tasya masih virgin. Dokter menduga tasya mengalami depresi karena hampir dilecehkan." Bella akhirnya bernapas lega mendengarnya.
"Syukurlah."
"Tapi kondisi Tasya sampai sekarang belum membaik juga. Yang bikin gue heran Tasya selalu bergumam kata maaf dan takut beriringan."
"Apa gue boleh jenguk Tasya?" Tanya Bella ragu.
"Tentu. Tapi lo harus kembali jadi sahabat gue yang ceria." Ucap Revan mengacungkan tangannya untuk bersalaman.
"Deal."
"Salah paham udah selesai. Pelet dah tu si Bella, Gan." Celutuk Reza yang memang tidak ada akhlak itu yang mendapat tatapan tajam dari Regan.
"Pepet woi pepet bukan pelet." Sahut Riko menoyor kepala Reza.
"Ah Regan nggak asik, sama aja kayak Revan si gede gengsi." Riko bersedekap dada, merasa paling benar saja.
Revan yang mendengar namanya dibawa-bawa pun ikut memelototi dua sejoli itu tajam.
"Tarik dah tuh, slogan lo. Nggak semua cewek egois juga kali." Reza menyelonjorkan kakinya sembari merangkul bahu Riko.
Mei tersenyum. Dua misinya selesai sekaligus. Akhirnya kesalahpahaman itu usai. Namun, tiba-tiba ia menekan dadanya yang terasa sesak.
"Mei, kenapa? Dadanya sakit?" Pertanyaan Bella membuat atensi mereka teralihkan kepada Mei.
Mei berusaha mengukir senyumnya. "Me-Mei nggak papa, Mei mau ke toilet dulu." Mei segera berdiri dan berlalu pergi sebelum semuanya curiga. Reza yang sudah mengetahui penyakit Mei itupun ikut berdiri dan mengejar Mei membuat orang-orang yang tersisa di sana kebingungan.
"Gue rasa Reza suka sama Mei." Celutuk Riko. Sengaja.
"Walaupun agak gesrek tapi Reza perhatian banget sampai mau nganterin Mei ke toilet." Rion ikut memanasi melihat wajah Revan yang sudah memerah.
"Kalau beneran ada cinta segitiga nanti gue support Meza." Sahut Riko lagi.
"Apaan tuh?" Rion tahu tapi ia tetap bertanya dengan senyum menjengkelkan.
"MEI REZA DONG." Ucap Riko kemudian bertos ria bersama Rion.
"Kalo mereka jadian lo nggak boleh marah loh, Van. Lo kan bukan siapa-siapanya Mei." Kini Bella ikut nimbrung merundung Revan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Fiksi RemajaSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
