26- Melodi Pagi

2 0 0
                                        

"MOM, dad, adeknya udah jadi?"

Bryan dan Nica saling pandang, kemudian keduanya menggeleng. Nica mengelus tangan Mei pelan.

"Kenapa nggak ambil cuti aja dan pergi liburan untuk buat adeknya?"

"Sayang, Mei sembuh dulu ya, setelah itu bebas Mei mau liburan ke mana pun, daddy dan mommy akan temani." Bryan mengelus pelan surai Mei.

"Ish bukan. Yang pergi liburan mommy dan daddy aja, masa Mei ikut, Mei nggak mau ya jadi nyamuk!" Mei saat ini tengah terbaring di brankar rumah sakit, lagi. Kondisi Mei semakin memburuk.

Nica menggeleng. "Mommy mau di sini temani Mei sampai sembuh, nggak mau pergi-pergi."

"Mei bisa ditemani Bi Ira, kok. Kalau mommy dan daddy di sini terus adeknya kapan jadinya. Itu wishlist Mei sebelum pergi tahu, jalan sama kak Epan nggak terwujud, jangan sampai adek Mei nggak jadi juga." Mei menundukkan kepalanya pelan.

Nica terdiam.

"Mei harus sembuh! Jangan bicara aneh-aneh!" Bryan berucap tegas, ia tidak suka jika Mei sudah membahas hal seperti ini. Selain memang karena permintaan Mei yang tentu saja tidak bisa dikabulkan sekejap mata, ia tak menyangka Mei yang tiba-tiba berubah pikiran ingin memiliki adik ternyata ada sangkut-pautnya dengan penyakit Mei.

"Me-Mei cuma ingin adek yang gemas, yang bisa jaga mommy dan daddy nantinya." Cicit Mei pelan.

"Mommy dan daddy punya Mei, Mei bisa jaga kami, nggak perlu adek lagi." Nica berucap pelan, berusaha menahan sesak di dadanya.

"Sekarang Mei bobo, sudah malam." Nica menarik selimut hingga menutupi dada Mei. Ia mengecup dahi Mei lama, matanya terpejam, air mata itu luruh, ia tidak akan pernah sanggup membayangkan jika Mei pergi dari sisinya.

Skip

Menjadi pelanggan setia nasi goreng mbak Ayu, lima R tak perlu lagi antri berlama-lama. Mbak Ayu yang akan mengantarkan langsung pesanan mereka, mereka hanya perlu mengantri minuman saja, dan hari ini adalah jadwal Regan si wajah datar yang mengantre.

"Gue jadi kangen nasi goreng dede Memes, ya nggak, Za?" Riko berucap setelah mengunyah suapan pertama nasi gorengnya.

Reza memandang sinis ke arah Revan sekilas, lalu ia menganggukkan kepalanya. "Revan udah kecanduan nasi gorengnya Mei, jadi dia nggak mau bagi kita-kita lagi." Sahut Rion dengan senyum menggoda Revan.

Riko tertawa. "Nyesel kan lo, Van, selama ini selalu biarin kita makan nasi gorengnya." Sedang yang ditanya hanya mendengus.

"Eh tapi kenapa ya, Mei udah nggak pernah ke kelas lagi, cuma nitipin surat ke Reza, itu juga kita nggak tahu isinya, gue yakin Revannya sendiri juga kaga ngerti itu apa artinya." Ucap Rion yang lagi-lagi membuat Riko tertawa.

"Apa jangan-jangan dede Memes sakit lagi kayak waktu itu, ya?"

" Diem bae lo, Za. Biasanya paling semangat kalau bahas dede Memes." Riko menyenggol lengan Reza yang tampak memakan nasi goreng dengan malas-malasan.

"Mulut lo nggak bisa diam?!"

"Jangan marah-marah, dong." Ucap Riko sambil mengangkat kedua tangannya lalu berucap dengan mengikuti nada Abe si bocil Tiktok yang menggemaskan.

"Lo nggak cocok pendiam gitu, Za. Cukup Regan Dinato aja yang irit ngomong." Riko memelankan suaranya ketika melihat Regan dengan wajah datarnya mendekat dengan membawa nampan berisi es teh.

Reza mendengus, kembali melanjutkan makannya.

"Eh gimana keadaan ibu lo, Yon?" Merasa Reza tidak dalam mood yang bagus, Riko mengalihkan topik pembicaraan mereka.

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang