Pagi baru, pagi yang indah, pagi yang begitu cerah. Tidak ada alasan, hanya satu nama penyebabnya, Revan. Mimpi singkat yang berdurasi kisaran dua menit itu menimbulkan semangat yang membara pada diri Mei. Menimbulkan harapan yang sedikit lebih besar dari sebelumnya. Yah, hanya sedikit harapan. Karena bagi Mei, setiap patah hati itu bukan karena cinta yang teramat dalam tapi harapan yang terlampau mengeram. Semakin besar harapan maka akan semakin besar pula frekuensi rasa kecewa itu. namun, bukankah banyak orang sangat suka menaruh harapan pada sesuatu yang belum tentu adanya. Hal itulah yang ingin Mei tahan sekuat mungkin. Jangan sampai harapan itu terus tumbuh, lagi semakin besar, dan beranak-pinak yang akan siap mencampakkan sebuah perasaan pada kekecewaan dan kehampaan.
Hari ini Mei akan mencoba peruntungannya lagi. Tidak peduli jika nanti dicampakkan (lagi), tak diacuhkan, bahkan tak dianggap ada, Mei akan tetap berjuang. Tak peduli seberapa tajam duri yang menembus kulitnya, tak peduli dengan banyak jumlah liter racun yang ia minum, Mei tidak peduli. Yang Mei inginkan saat ini hanyalah berjuang tanpa henti, berjuang tanpa kenal lelah, berusaha menuju puncak kemenangan. Tidak ada kata 'putus asa' dalam kamus seorang Merisa Clauria Rameyza. Ia akan berjuang layak pahlawan yang bertumpah darah demi kemerdekaan. Pagi ini Mei akan mengungkapkannya sekali lagi.
Bahasa asing yang entah dari belahan dunia mana kembali terlontas dari mulut manis Mei. Semua siswa kelas XII MIPA 4 terdiam, mereka menatap Revan lekat-lekat seolah Revan seorang tawanan. Tak satupun dari mereka yang mengetahui artinya, yang jelas itu ungkapan cinta dan ditujukan pada Revan. Tentang cinta Mei yang sedalam dan seluas samudra itu dan akan di akhiri dengan kalimat ajakan untuk berpacaran. Mei memang tidak pernah menerjemahkan kalimat yang ia ucapkan, Mei hanya akan mengungkapkan bahasa yang ia pakai itu dari negara sebelah mana.
"Udah?" ucap Revan jengah mendengar bahasa aneh setiap harinya.
"Gue udah terima nasi gorengnya dan cukup muak mendengar kata-kata sampah lo," Revan menjedanya sebentar untuk meneguk air, kerongkongannya mendadak kering. "Jawabannya tetap sama dan silakan pergi."
Mei terdiam sebentar untuk mencerna kata-kata itu, sampai satu kata melintas di kepalanya, 'ditolak'. Namun meski begitu, Mei tetap tersenyum tipis, lalu mengangguk, mengucapkan terima kasih masih dengan bahasa yang ia pakai sebelumnya.
Apa Mei tidak sakit hati?
Tentu! Sakit. Sakit sekali rasanya. Tapi batin Mei seolah terlatih untuk itu. pernah mendengar suatu istilah, sesuatu yang terbiasa kita lakukan akan menjadi sebuah hobi. Ditolak oleh Revan merupakan hal yang sudah ia normalisasi dalam hidupnya.
Di perjalanan menuju kelasnya, tepat di koridor di samping kelas Revan, Mei menghela nafas, memandang tangan kirinya yang terdapat tulisan angka 82. Sudah sejauh ini ia bertahan, tidak mungkin ia menyerah begitu saja. Kembali menghela nafas, mengambil pena dari saku seragamnya, menghapus angka yang mulai memudar itu, lalu menuliskan angka berikutnya di sana. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas tak lupa dengan senyum manis dan lesung pipinya yang terukir indah di wajahnya.
Skip
Panas. Satu kata yang menggambarkan siang ini. Panas yang terasa menembus kulit, mengeringkan tenggorokan, mengeluarkan cairan keringat yang lengket bagi kelas XII MIPA 4 yang baru saja selesai berolahraga.
Ketika bel istirahat berbunyi, tidak seperti biasanya, Mei tidak menghampiri Revan sama sekali. Ia langsung berlari ke surganya para siswa, kantin. Ia tak ingin mengantre berlama-lama saat suhu naik 30 derajat itu. tak butuh waktu lama, semangkok bakso dan segelas jus jeruk berhasil Mei dapatkan. Mei tersenyum sumringah saat menemukan meja sang pujaan hati, tapi senyum itu Kembali memudar ketika ia melihat Revan sedang melahap nasi goreng mbak Ayu. Bibirnya maju beberapa senti, ia menggeram kesal. Apa-apaan mbak Ayu itu! dibandingkan nasi goreng buatan Mei juga kalah jauh. Lalu mata Mei menyipit untuk melihat lebih jeli, tidak ada minuman di meja Revan, itu artinya ia masih punya kesempatan untuk modus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Novela JuvenilSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
