21- Melodi Pagi

5 0 0
                                        

KINI Revan dan Mei duduk di salah satu cafe tak jauh dari sekolahnya. Jaket Revan tersampir di bahu Mei demi menutupi bajunya yang robek. Mei menunduk. Takut memandang wajah Revan yang tak hentinya menatapnya tajam. Matanya bahkan sudah bengkak karena tidak berhenti menangis sedari tadi.

"Nih bajunya, ganti dulu di toilet." Mei mendongakkan kepalanya saat mendengar kedatangan Reza. Ia mengangguk pelan sembari mengusap ingus dengan ujung lengan jaket Revan. Ia segera beranjak menuju toilet.

"Jangan pelototin Mei terus." Tegur Reza setelah duduk di kursi yang sebelumnya Mei duduki.

"Gue nggak habis pikir sama kelakuan dia." Revan menyandarkan punggungnya yang terasa pegal, ia memijit pelipisnya pusing.

"Makanya lo diam dulu, biar Mei tenang dan bisa certain apa tujuan dia ke sana." Jawab Reza sembari menyeruput Dalgona Coffe di atas meja yang entah milik siapa. Mereka hanya asal pesan.

"Tante Nica tadi minta tolong anterin Mei pulang sebelum jam 9, gue jadi nggak enak bohongin tante Nica." Reza mengalihkan pembicaraan.

"Emangnya lo bilang apa?" Tidak mungkin kan, Reza mengatakan kejadian tadi kepada tante Nica.

"Mei ada kerja kelompok makanya HP nya nggak aktif, terus diajak jalan sama Revan dulu sebelum pulang, gitu." Jawaban santai Reza sukses membuat Revan melotot tajam.

"Nanti kalau tante Nic—"

"Ekhem." Deheman Mei tersebut berhasil mengalihkan dua atensi laki-laki itu. Mei sudah berganti baju dengan sweater yang dibelikan Reza.

"Duduk!" Titah Revan segera.

Mei yang merasa terintimidasi pun segera duduk di samping Reza, ia tidak berani dekat-dekat Revan saat ini.

"Mei, sekarang bisa certain kenapa Mei ke sana?" Reza lebih dulu membuka suara sebelum Revan angkat bicara. Ia juga mengelus kepala Mei agar ia merasa lebih tenang.

"Me-Mei Cuma—"

"Nggak usah ngurusin hidup orang bisa?"

"Van! Bisa nggak lo nggah usah pakai bentak begitu." Sahut Reza yang membuat Revan menghela napas. Ia memandang tajam tangan Reza yang berada di kepala Mei. Reza tentu sadar ditatap seperti itu, ia tidak peduli, biarkan saja, dasar gengsi gede!

"Ngapain lo main pangku-pangkuan sama om-om tua itu?!" Tanya Revan menyelidik.

"Biar om nya nggak macam-macam." Cicit Mei pelan.

Revan mengusap wajahnya kasar. "Justru dengan lo kayak gitu bakal bikin laki-laki brengsek itu mudah buat pegang-pegang!" Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Mei.

"Mei tadi kayak gitu karena...oh ya!" Mei meraih ponsel di saku celananya.

Mei menepuk dahinya pelan. "Ya ampun belum dimatiin." Sedangkan Revan dan Reza mengerutkan dahi tak mengerti.

"Nih." Mei menyodorkan ponselnya di tengah-tengah Meja.

"Tadi Mei sempat rekam, semoga suaranya jelas." Kemudian Mei memencet ikon play pada audio tersebut.

Selang beberapa detik sejak audio itu di mulai, terdengar suara laki-laki hidung belang itu.

"Kita harus segera susun renca—wah wah wah kelinci masuk perangkap dengan sendirinya."

Setelah itu Revan dan Reza bisa mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat.

"Ha-hai, om."

Reza cengo mendengar sapaan Mei terhadap preman itu. Reza bisa jamin Mei pasti juga menampilkan senyum manis dengan lesung pipinya itu.

"Apa kau tersesat gadis manis?"

"Om nanti boleh ngapain aja. Tapi, kita duduk dulu yok, ada minuman, kan? Mei haus."

Kini tidak hanya Reza, Revan juga ikut geleng-geleng kepala dengan kelakuan ajaib Mei.

"Jangan main-main, bocah!"

Suara itu Revan yakin adalah si kepala preman itu.

"Siapa yang main-main. Mei serius banget ini. Nanti setelah ngobrol-ngobrol om boleh pegang-pegang, Mei ini wanita dewasa tahu, dua tahun lagi tujuh belas. Tapi, sebelum itu om harus certain dulu yang om-om omongin tadi, yang buat om-om ini dipenjara, habis itu nanti kita main peluk-cium peluk-cium, gimana?"

Revan dan Reza yang mendengar itu spontan melirik tajam ke arah Mei. Tatapan keduanya seolah mengatakan: Jelaskan ini nanti! Mei meringkis pelan.

"Wah dia menyerahkan diri dengan senang hati. Permainan kali ini pasti bakal lebih mantap."

Ceklek!

Revan dan Reza menebak, mereka pasti masuk ke ruangan dengan sofa usang tadi. Pasalnya hanya itu satu-satunya ruangan di rumah tua itu.

"Kenapa duduk di situ, duduk di pangkuan om, manis."

Revan mengepalkan tangannya mendengar itu. Ia menatap Mei semakin tajam.

"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?"

"Apa...apa kalian sudah bebas?"

"Haha tentu saja belum, kami kabur."

"Lalu, apa yang menyebabkan om dipenjara?"

"Karena seorang laki-laki yang datang seperti pahlawan menyelamatkan dua gadis itu."

"Dua?"

"Iya dua gadis yang memiliki tubuh sangat indah. Tapi gadis yang bernama Bella itu memohon agar temannya dibebaskan padahal temannya sudah bugil. Tapi dia berjanji akan menjadi budak pemuas nafsu kami jika kami mau membebaskan temannya, tapi ternyata diam-diam dia menghubungi polisi."

Revan dan Reza mematung kaget mendengar fakta itu. Keduanya menatap Mei yang sudah menangis.

"Be-bella?"

Revan dan Reza bisa mendengar suara Mei yang bergetar di audio itu.

"Iya. Akhirnya cuma dia yang kami bawa ke ruangan ini, temannya kami tinggal di luar."

"AHAHAHAHA tapi kami tidak menyesal, gadis itu sangat penurut dan sangat nikmat. Kalau begitu mari kita mulai gadis manis, kami sudah tidak sabar."

Brak!

"Kak Revan kok bisa di sini?"

"Cih! Orang-orang khawatir dan ternyata lo lagi enak-ena—"

Reza mematikan audio itu. Mereka sudah tahu apa yang terjadi setelahnya, audio itu masih tersisa 40 menit lagi, sepertinya Mei baru mematikan ketika ia ingin menunjukkan audio itu tadi.

Semuanya terdiam. Hanya isak tangis Mei yang terdengar.

"Jadi...korban pelecehan itu sebenarnya Bella?" Reza bertanya lirih entah pada siapa.

Revan menggeleng tegas. "Nggak! Nggak mungkin! Lo tahu kan, gimana frustasinya Tasya waktu itu, bahkan...sampai saat ini."

"Van, lo nggak lihat Bella saat kejadian? Polisi nggak periksa semua ruangan?"

Revan mengacak rambutnya kasar. "Gue-gue nggak tahu! Gue terlalu kalut lihat Tasya yang nangis minta tolong"

"Bella dilecehin lima preman dan fakta itu baru kita ketahui setelah satu tahun lamanya. Lo nggak mungkin lupa kan, Van? Beberapa hari setelah kejadian Bella nggak muncul-muncul. Bisa jadi hal itu bukan karena dia nggak peduli dengan Tasya, tapi Bella juga trauma dengan kejadian itu dan bahkan kita nggak tahu gimana kondisinya di sana saat itu. Bella tinggal sendirian di kota ini kalau lo lupa."

Revan terdiam. Ia menundukkan kepalanya. "Apa gue selama ini—"

"Kita harus tanya sama Bella."

Skip

Dear kak Tasya..

Ini surat kedua,

Ketakutan itu belum tentu menyakitkan. Aku yakin kak Tasya bisa melewatinya. Jangan biarkan diammu menjadi salah paham. Jangan biarkan kesalahpahaman itu menimbulkan masalah baru. Semuanya akan baik-baik saja.

- Bunga Tulip

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang