24- Melodi Pagi

1 0 0
                                        

ALUNAN lagu mengalun indah perjalanan pulang Mei dan Revan. Sesekali terdengar Mei yang ikut bernyanyi meski liriknya putus-putus sebab ia tak benar-benar hapal lagu itu. hanya karena sering lewat di beranda tiktok ia jadi hapal beberapa reff lagu-lagu yang viral.

Ku tak pernah ikat rambutku lagi semenjak kau bilang
rambutku indah bila terurai panjang...

Mata Mei berbinar mendengar lirik lagu itu. Mei tidak tahu apa judulnya pun Mei belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Tapi lirik itu...sangat relate dengan kisahnya. Ingatkan Mei untuk menambahkan lagu ini ke playlist Spotify-nya nanti.

"Mei, udah sampai, ayo turun." Suara Revan menyadarkan Mei yang terlena dengan alunan musik itu.

"Eh ayo?"

"Gue udah ajak anak gadis orang jalan keluar sampai gelap tapi belum izin sama orang tuanya." Revan membuka safebelt-nya. Kemudian bersiap untuk ke luar. Mei segera menyusul.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Mei ya aampun ditelponin dari tadi, kenapa nggak ngabarin dulu kalau mau jalan?"

"Maaf tan-"

"Kamu bawa ke mana anak saya?" Bryan menatap tajam Revan.

"Maaf, om. Saya-"

"Tadi Mei sama kak Epan main pancing-pancingan dulu. Habisnya daddy sama mommy sibuk terus, udah lama banget kita nggak jalan."

"Ya udah, kalau gitu kita makan bareng, Mei ajak Revan sekalian." Nica menyela sebelum Bryan kembali mengangkat bicara.

Revan duduk dengan canggung di ruang makan Fernando itu. Ini adalah hal baru baginya. Hal baru dalam segala sudut pandang, makan malam bersama keluarga. Keluarga yang hangat bercanda tawa di meja makan dengan menceritakan harinya masing-masing. Sesekali Revan menjawab dengan anggukan ketika Nica menanyakan kebenaran dari cerita Mei. Dan lihatlah! Sekarang mulut Mei yang penuh dengan nasi sudah monyong-monyong saat menceritakan anak kecil yang mencuri ikannya. Nica lagi-lagi bertanya pada Revan yang kali ini Revan jawab dengan gelengan. Benarkan? Anak kecil itu tidak mencuri, lebih tepatnya anak itu lebih handal dalam memancing.

Demi melihat gelengan dari Revan, Mei semakin memberengut kesal. "Kak Epan nggak boleh bohong! Bocil itu beneran curi ikan lucu Mei."

"Dia dapat dari kolam, Mei."

"Tetap aja ikan itu kan Mei yang lihat duluan."

Nica menggeleng heran. "Itu tandanya Mei yang nggak pintar mancing."

"Mei memang nggak bisa mancing, makanya tadi kak Epan yang mancing, tapi tetap aja cuma dapat ikan satu." Revan meringis mendengar lirihan Mei.

"Lain kali kamu harus tanding mancing ikan beneran sama saya. Baru bisa ajak Mei jalan."

Revan mengangguk kaku. Kalau memancing ikan hidup Revan jagonya.

Selepas makan malam Bryan mengajak Revan duduk berdua di ruang tamu. Mei was-was takut-takut daddynya memarahi Revan.

"Makasih om, makan malamnya. Ini yang pertama buat saya."

Demi mendengar nada sendu itu. Bryan mengendurkan rahangnya yang menggeram. "Kamu..."

"Saya nggak pernah mengenal sosok ibu."

"Yang membuat kamu benci pada perempuan dan tak acuh sama Mei, right?" Bryan langsung menarik kesimpulan dari cerita singkat Revan.

Revan tertegun. Tak menyangka Bryan bisa menebak dengan tepat.

"Dulu saya juga menutup diri dari perempuan, sebelum mengenal istri saya, Nica."

"Jangan pernah percaya lebih dari 80 persen pada seseorang, sekalipun orang tuamu sendiri. Meminimalisir rasa sakit dan rasa kecewa. Kamu masih remaja, berdamai dengan luka itu, bukan karena Mei, tapi demi diri kamu sendiri." Setelah mengatakan itu Bryan segera beranjak setelah menepuk pelan pundak Revan. Bryan memang tidak ingin memarahi Revan, justru ia melihat dirinya yang dulu di dalam diri Revan saat ini.

Skip

Setelah mengantar Revan ke depan Rumah, Mei segera ke kamarnya dan meraih obat-obatan di dalam tas sekolahnya. Ia menahan sakit di dadanya sedari makan malam tadi. Ia diam saja karena tidak ingin merusak suasana makan malam itu. Rasa sakit di kepala dan dada Mei tak kunjung reda.

Ukhuk! Ukhuk!

Mei menatap tangannya, darah. Tidak pernah seperti ini sebelumnya.

"Aws..." Mei meremas kepalanya yang terasa dihantam setiap ia terbatuk. Mei meraba nakas berniat ingin meraih air minum. Namun, na'as, gelas dan tempat obat Mei jatuh berceceran di lantai. Tubuh Mei luruh ke lantai, dengan satu tangan meremas dada dan kepalanya secara bergantian, mata Mei kunang-kunang, ia kembali meraba obat yang berserakan. Mengambil asal tiga buah tablet lalu menelannya tanpa air, rasa pahit itu tak sebanding dengan nyeri di dadanya.

Skip

"Tante, Tasya di dalam?"

"Iya, lagi sibuk ngerangkai bunga Tulip. Bella kita udah lama nggak ketemu, tante kangen."

"Iya tante, maaf nggak pernah datang jenguk Tasya selama ini. Maaf juga soal keja-"

"Nggak apa-apa, kamu pasti butuh waktu untuk menenangkan diri setelah kejadian itu. Langsung masuk aja, pasti Tasya senang kamu datang."

"Ayo, Bel."

Ketika memasuki ruangan 2×3 meter itu ia mendapati Tasya yang sedang duduk di ranjangnya sembari memegang tiga Tulip yang sudah dirangkai. Jangan lupakan senyum yang terukir di wajahnya, rasanya sudah lama sekali Revan tidak melihat senyum itu.

"Ca, lihat gue datang sama siapa."

Tasya yang baru saja mendongakkan kepalanya seketika mematung saat mendpati kehadiran Bella di sana.

"Maaf gue ke luar aj-"

Ucapan Bella seketika terhenti ketika ia merasakan tubuhnya terdorong karena pelukan tiba-tiba.

"Maafin gue Bel, gu-gue pengecut, lo boleh marah sama gue, pukul gue, maaf..." Tasya terisak di pelukan Bella.

Bella yang masih berusaha membaca situasi pun hanya mematung sembari mengusap punggung Tasya perlahan.

"Seharusnya gue cari bantuan, seharusnya gue cari pertolongan waktu itu, gue egois, gue lebih mentingin diri gue sendiri, gue khawatirin diri sendiri, gue cuma bisa nangis dan biarin teriakan lo gitu aja, gue biarin preman-preman itu bawa lo gitu aja, maaf...maaf..." Tasya benar-benar menyesal. Seharusnya dia meminta Revan untuk menolong Bella terlebih dahulu saat itu.

"Sttt itu semua udah lama berlalu dan gue baik-baik aja."

"Gue nggak diajak pelukan, nih." Revan angkat bicara berusaha mencairkan suasana.

"Huh lo nggak guna, masa lo marah sama Bella waktu itu." Tasya melepas pelukannya, ia menatap tajam Revan dengan bersedekap dada.

Tasya lega. Akhirnya semua kesalahpahaman ini bisa ia hadapi. Semua ini...tidak akan serumit ini jika ia lebih berani dari awal. Berani mengungkapkan semuanya.

"Nah, sekarang semuanya udah baik-baik aja. Sini peluk adik-adik kecil Revan." Revan merentangkan kedua tangannya, ia memakai panggilan kecil mereka.

"Nggak mau takut baper lagi!" Jawab kedua perempuan itu kompak.

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang