REZA memarkirkan mobil milik Regan di depan halaman rumah Mei. Reza memapahnya menuju pintu lalu memencet bel rumah. Seorang wanita membukakan pintu, Reza tebak umurnya kisaran 25 tahun.
"Ya ampun, Mei kenapa?"
"Maaf, tan. Saya antar dede eh maksud saya Mei karen—"
"Cantika, siapa yang datang?"
"Astaga, sayang!" Seorang wanita yang baru saja keluar langsung memeluk Mei dan memeriksa seluruh tubuhnya.
"Mei kenapa, sayang? Mei drop lagi? Kan udah mommy bilang home schooling aja."
"Mei cuma kecapekan, mom." Bantah Mei tidak terima.
"Tapi, obatnya udah diminum, kan?"
Mei membalas pertanyaan ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah-olah ia mengatakan untuk tidak membahas hal itu di sini. Nica yang mengerti pun langsung mengalihkan pandangannya pada seorang laki-laki yang berdiri canggung di sana. Apakah dia laki-laki yang bernama Revan itu?
"Ayo masuk dulu."
Skip
"Jadi, Reza ini kakak kelasnya Mei?" Tanya seorang perempuan yang Reza ketahui bernama Selly yang sedang memangku bayi laki-laki yang teramat lucu.
Ruang tamu di rumah Mei saat ini sedang ramai. terdengar canda tawa dan celotehan balita yang sibuk berlarian sana-sini. Bryan dan Nica sedang reuni dengan teman lamanya. Selly merupakan sahabat Nica semasa SMA yang kebetulan sekali menikah dengan abang sepupu Nica, Rendi. Mereka dikaruniai dua orang anak, anak pertamanya bernama Zaza yang berumur delapan tahun dan sang adik Bernama Varo yang baru berumur delapan bulan. Reuni kali ini juga dihadiri oleh Alvin, partner Bryan dalam organisasi semasa SMA yang memiliki caffe yang cabangnya tersebar di mana-mana. Dulu Alvin sempat terjebak cinta segitiga antara Bryan dan Nica, namun siapa sangka kini ia menikah dengan sahabat Nica yang bernama Wita. Mereka memiliki anak kembar, yaitu Gilang dan Galang yang berumur lima tahun. Yang terakhir adalah Bima sahabat Bryan yang dijuluki si perjaka tua.
"Hm bisa dibilang begitu, tante."
"Loh kok kayak ragu gitu." Tanya seorang yang dipanggil Cantika oleh Nica tadi, ia adalah adik dari Nica.
"Karena Reza nggak percaya si bocil ini udah SMA, tan." celutuk Reza yang lagi-lagi mengundang tawa.
"Ish, kak Eja nyebelin!"
Bertepatan dengan itu, Nica datang dari arah dapur dengan membawa brownis diiringi oleh Wita yang membawa jus dengan nampan.
"Mommy, tante-tante sama kak Eja bully Mei terus." Adu Mei pada mommynya, namun sebelumnya ia mengambil sepotong brownis dan melahapnya membuat semua orang yang berada di sana geleng-geleng kepala.
"Mei, kalau makan duduk!"
"Mana pangeran Mei itu? Katanya dia orang yang baik dan pengertian, tapi kenapa bukan dia yang antar Mei pulang?"
"Kak Epan sibuk, dad." Jawab Mei cepat tanpa menoleh pada daddynya.
"Kejar terus jangan kasih kendor, Mei!"
Jangan ditanya itu suara siapa, tentu saja Bima sang pakar cinta namun belum menemukan tambatan hati hingga saat ini.
"Pasti si Revan itu ganteng sampai Mei jatuh cinta banget." Goda Cantika yang membuat Mei menglum senyum dengan menautkan kedua tangannya di atas paha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Teen FictionSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
