REZA baru saja pulang dari rumah Mei pukul 17.00, setelah pulang ke rumah untuk bersih-bersih, Reza berniat ke rumah Riko untuk mengembalikan mobil Regan karena tadi teman-temannya memberi tahu bahwa mereka sedang berkumpul di rumah Riko seperti biasa. Sesampainya di rumah Riko, Reza disambut ramah oleh ibu Riko yang biasa mereka panggil Bunda. Bunda Riko tidak bekerja, katanya ia lebih senang mengerjakan pekerjaan rumah dan menjadi istri yang berbakti juga ibu yang baik hati. Sedangkan, ayah Riko adalah seorang dokter umum yang sangat perhatian terhadap keluarganya sesibuk apapun dirinya. Keluarga Riko yang harmonis membuat Reza iri karenanya.
"Riko di mana, Bun?" Tanya Reza setelah menyalami Lia yang tak lain adalah bunda Riko.
"Di atas sama yang lain juga, kamu dari mana aja kok baru datang?" Tepat seperti dugaan Reza. Lia sudah menganggap Reza dan yang lainnya seprti anak sendiri.
"Tadi ada urusan sebentar, Bun." Jawab Reza sekenanya. "Reza langsung naik ya, Bun."
Sesampainya di depan pintu kamar Riko, Reza langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Begitulah teman yang sudah menganggap rumah temannya sebagai rumah sendiri.
"Dari mana aja lo, Bro?"
Reza melempar kunci mobil yang ia pegaang pada Regan yang sedang bermain PS dengan Revan, setelahnya ia duduk di samping Riko, "dari rumah dede Memes." Jawabnya sembari mencomot kentang goreng di atas meja.
"Yang bener aja lo jam segini baru pulang, bukannya lo antar dari pagi?"
"Kenapa emangnya? Masih sore ini."
"Lo nggak ada niat nikung Revan kan, Za?" Tanya Riko menyelidik.
"Revan kan nggak suka sama dede Memes, jadi boleh-boleh aja dong gue pepet dede Memes." Sahut Reza tak acuh.
"ANJING!"
"Hayoloh, Za. Revan ngamuk." Ucap Riko menakut-nakuti.
"You a loser." Ucap Regan sembari bangkit dari duduknya dan bergabung bersama Reza dan Riko. Regan dan revan baru saja menyelesaikan permainan mereka.
"Ups ada yang panas."
"Tapi, Za, lo nggak beneran suka dede Memes, kan?" Tanya Riko yang belum puas memanas-manasi Revan.
Reza terdiam sebentar, dia menatap Revan yang belum beranjak dari duduknya.
"Cowok bodoh mana sih, yang nggak suka sama Mei." Ucap Reza tidak lagi memakai panggilan sakralnya yang menandakan bahwa dia memang sedang serius.
Skip
Awalnya Revan tak acuh dengan ucapan Reza. Akan tetapi, siang ini di kantin sekolah Revan merasa sangat gerah. Gerahnya melebihi rasa gerah saat berdesakan mengantre nasi goreng mbak Ayu. Tiga meter dari tempatnya saat ini, ia bisa melihat gadis kecil yang sedang duduk bersama temna-temannya. Yah, gadis itu adalah Mei, seorang adik kelas yang Revan anggap sebagai pengganggu. Namun, bukan itu masalahnya. Baru lima menit Revan duduk di sini, sudah tak terhitung berapa laki-laki yang bersiul dan modus mendekati Mei. Apa sih, yang mereka suka dari gadis itu? Kan masih banyak perempuan lain, kenapa harus Mei?! Eh maksudnya...entahlah Revan juga tidak tahu kenapa batinnya berkata begitu.
"HAREUDANG HAREUDANG PANAS PANAS PANAS..." Riko bernyanyi dengan suara ala kadarnya.
"Lo nggak ada hak buat marah." Ucapan Regan membuat Revan tersadar bahwa ia terlalu memerhatikan Mei sedari tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Fiksi RemajaSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
