18- Melodi Pagi

5 0 0
                                        

"PULU pulu? Pulu pulu pulu!"

"Awowoo pulu pulu!"

Riko berteriak dengan menepuk tangannya di mulut hingga mengeluarkan suara aneh itu. jika ada kategori manusia tergila di SCTV Awards, mungkin Riko akan masuk nominasi. Jangankan masuk nominasi, Riko dijamin menang tanpa seleksi!

"Lo bisa diam nggak?! Malu-maluin." Revan ikut malu rasanya memiliki teman jebolan RSJ itu.

"Oh tentu tidack bisa manizz."

Lalu, tiba-tiba Reza menangis tersungkur di samping meja Revan.

"Oh Reza! Kenapa kau sungguh tega padaku? Kau bolos tanpa mengajakku hiks." Riko menjeda dramanya merasa ada yang kurang.

"Cuih." Ia mengoleskan ludahnya ke pipi.

"Ew!" Sahut Aurora si ratu gosip Giorgino.

"Apa? Ini Namanya akting dengan totalitas." Sahut Riko dengan menepuk dadanya bangga.

Bruk!

"Jigong lo bau."

Riko mengaduh. Sepertinya dramanya harus segera diakhiri karena kakanda Regan sudah angkat buku. Iya, Regan menimpuk Riko dengan buku tebalnya.

"Maaf semua, dramanya saya akhiri sampai di sini. Jangan kecewa, esok drama akan berlanjut pada waktu dan tempat yang sama." Riko berdiri hendak menuju ke kursinya seketika terhenti ketika mendapati Mei di depan pintu.

"Halo, dede Memes! Sini masuk."

Semua yang berada di kelas itu mengalihkan pandangan ke arah Mei. Nah, kalau kisah nyata yang satu ini mereka tidak pernah bosan menonton tayangan yang sama setiap harinya.

"Tumben nggak bawa kotak bekal, Mei?" Celutuk Rion.

"Hehe, Mei nggak sempat buat tadi." Ucap Mei menggaruk lehernya yang tak gatal.

"Lo diam aja deh, Yon. Dede Memes capek tiap pagi harus masak terus. Hari ini Mei nembak dor dor nya pakai note, ya? Pakai bahasa apa kali ini, nanti translate ya, Mei." Riko nyerocos sok tahu.

"Em...kak Reza mana?" Tanya Mei pelan.

Hening. Tidak ada yang menjawab. bingung sekaligus heran. Bukannya mengajak Revan pacaran seperti biasanya, Mei malah mencari keberadaan Reza.

"Reza sakit." Itu suara Regan.

"Serius? Kak Reza sakit apa? Kemaren sore masih baik-baik aja." Mei khawatir. Hal itu justru membuat hati seseorang yang berada di samping Regan memanas.

"Nanti pulang sekolah kita mau jenguk, dede Memes mau ikut, nggak?" Tentu saja Mei tidak akan berpikir dua kali untuk mengiyakan. Reza sudah begitu baik kepadanya selama ini.

"Mau mau! Nanti Mei minta bang Langit buat antar ke rumah kak Reza, eh Mei boleh minta alamatnya kak Reza? Takutnya nanti bang Langit lama jemputnya jadi nggak bisa barengan perginya."

"Hmm." Riko pura-pura berpikir keras. Padahal isi kepalanya kosong saja.

"Gimana kalau Mei bareng Revan aja. WAH IYA BRILIAN! Otak cerdas gue memang nggak perlu diragukan."

"Em boleh?" Tanya Mei entah pada siapa.

Sejujurnya Revan ingin menolak ide tidak berguna Riko itu. Tapi...melihat Mei yang begitu mengkhawatirkan Reza saja sudah membuat ia gerah, apalagi jika nanti Mei datang bersama Langit.

Revan mengangguk pelan lalu ia menyibukkan dirinya dengan menulis apapun yang bisa ia tulis, bahkan ia tidak tahu buku apa yang sedang ia buka saat ini. Riko tersenyum mengejek, dasar gengsian! Sudah jelas sekali jika Revan cemburu. Terus saja menolak cinta Mei. Kalau dia tidak suka kepada Mei jadi cemburu itu namanya apa? Pisang rebus? Rebus saja tuh hati biar makin panas!

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang