29- Melodi Pagi

2 0 0
                                        

RUMAH sakit Giorgino. Di sinilah Revan sekarang, rumah sakit di mana Mei pernah di rawat waktu itu. Revan segera berlari masuk, menuju ruangan tempat rawat inap Mei, ruangan khusus anggota keluarga Giorgino. Namun, belum sampai di sana, Revan terkejut melihat Nica yang menangis tergugu dengan ditemani Bryan di depan ruang operasi. Perlahan Revan mendekat.

"Om, tan." Revan berucap pelan.

"Doakan yang terbaik untuk Mei."

"Sebenarnya Mei sakit apa, om?" Revan tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya, tapi ia butuh jawaban.

"Jantung...koroner."

Satu kata singkat Bryan membuat tulang Revan melemas, tangannya menggapai dinding untuk menopang tubuhnya yang perlahan luruh ke lantai.

"Mei..." Lirihnya. Revan menangis.

Hingga dini hari, Revan tak beranjak barang seinci pun dari duduknya. Ia ingin menunggu Mei. Ia ingin berada di sana untuk menemani Mei hingga transplantasi jantung itu selesai dengan keberhasilan. Yang Revan tahu, ring jantung yang sebelumnya telah di pasang ternyata tak lagi mampu membuka pembuluh darah yang menyempit sehingga menyebabkan aliran darah tersumbat, yang menyebabkan Mei mengalami nyeri dada yang begitu parah sampai terjadi henti detak jantung dan dirawat di ICU sebelumnya. Hal itulah yang membuat orang tua Mei segera melangsungkan operasi tersebut dengan didatangkan dokter ahli jantung dari negara tetangga. Jangan tanyakan bagaimana Mei mendapat donor jantung itu dengan cepat, reputasi keluarga Giorgino tidak bisa diremehkan.

Skip

Operasi berhasil dijalankan, saat ini dokter masih melakukan pemantauan untuk memastikan tubuh Mei tidak menolak keberadaan organ baru itu. Bryan dan Nica menunggui Mei dari dalam ruangan meski masih terpisahkan oleh dinding kaca, sedangkan Revan duduk di kursi tunggu, ia tidak akan pulang sebelum mengetahui bahwa Mei baik-baik saja.

"Van." Revan tersentak ketika seseorang menepuk pundaknya. Ia mendongak ketika menyadari siapa yang datang.

"Kusut banget, nggak pulang dari kapan lo?" Reza duduk di samping Revan

Revan hanya menggeleng. Ia memang belum mandi dari kemaren sore, ia hanya sempat berganti baju saat pulang ke rumah untuk membaca surat Mei kemaren. Dan sekarang sudah pukul 12 siang.

"Bolos, lo?" Tanya Revan melihat Reza yang masih lengkap dengan seragam batiknya.

"Enak aja, lo tuh yang bolos, gue mah masuk tapi karna kelamaan nunggu sore, jadinya gue cabut ke sini." Ucap Reza nyengir. Ia berucap santai seolah pertengkaran mereka beberapa hari lalu tidak pernah terjadi.

"Maaf." Revan berucap pelan. Tidak tahu untuk apa, tapi ia merasa perlu mengatakan itu pada Reza.

Mendengar itu Reza menghela napas pelan. "Gue tersulut emosi, harusnya gue bisa jelasin secara baik-baik kemarin, gue yang minta maaf."

Keduanya kembali hening.

"Lo...udah baca surat itu dengan benar, ya?"

Revan mengangguk. "Gue terlambat."

"Seharusnya gue dengerin ucapan lo waktu itu, seharusnya gue nggak ngeremehin perasaan Mei, karena manusia memiliki batas." Revan berucap lirih.

"Tasya udah balik ke rumah?" Revan mengernyit, kenapa Reza tiba-tiba membahas Tasya.

"Lo bilang kemaren mau fokus sama kesembuhan Tasya dulu." Reza menjelaskan.

"Gue paham lo waktu itu senang dengan Tasya yang perlahan pulih. Tapi, gue nggak suka lo yang ngabaikan Mei padahal lo sendiri sebenernya udah mulai suka sama Mei, beranggapan Mei nggak akan marah, tapi lo nggak ngerti kondisi Mei saat itu gimana."

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang