SEMILIAR angin menerpa wajah Mei dengan lembut. Udara malam ini begitu menenangkan untuk Mei yang sedang sendu. Mei kembali memandangi gawainya yang masih menyala. Di sana terpampang roomchat-nya bersama Revan. Jangankan mendapat balasan, tanda centang biru saja Revan matikan, Mei tidak tahu pesannya sudah di baca laki-laki itu atau belum. Sudah beberapa hari ini Mei terus mencoba mengirim pesan, ia tidak bisa bertemu Revan langsung. Semenjak malam itu, Bryan meminta Mei untuk belajar di rumah sampai tubuhnya benar-benar fit. Ia takut jika nantinya Mei drop di sekolah dan tidak ditangani dengan segera akan memperburuk kondisi Mei, ditambah lagi batuk Mei yang mengeluarkan darah. Kuasa si pemilik sekolah, guru yang akan datang ke rumah Mei setiap harinya.
Merasa bosan berdiam diri di sana, Mei pun segera beranjak menemui mommy dan daddynya. Ritual sebelum tidur.
"Mommy, daddy, Mei pengen deh, punya adek kayak Putri. Adeknya Putri lucu banget tahu, nggak nakal kayak Galang dan Gilang. Pipinya tembam pengen Mei cubit tapi takut adeknya nangis, dia juga suka ajak Mei main lego bareng padahal umurnya masih tiga tahun, adeknya Putri cowok, Mei mau adek cowok."
Bryan dan Nica mengernyit heran. Ini adalah rutinitas Mei, menghampiri mereka setelah selesai makan malam atau menjelang tidur seperti ini. Biasanya Mei akan berbicara dengan tangan berkacak pinggang dengan nada memperingati bahwa ia tidak ingin memiliki adik.
"Kenapa tiba-tiba pengen adek, hm?" Bryan berucap sembari mengelus kepala Mei pelan.
"Biar rumah nggak sepi." Ujar Mei pelan.
"Mei merasa kesepian. Maaf ya, mommy sama daddy janji akan berusaha meluangkan waktu untuk kita liburan bertiga." Nica teringat ucapan Mei beberapa hari lalu yang mengatakan bahwa mereka sudah jarang pergi ke taman bermain. Mungkin Mei merasa tak diacuhkan, meski jarang sekali Mei bersikap seperti ini.
Mei mengangguk lalu sedetik kemudian menggeleng. Tentu bukan sepi itu yang ia maksud. Meskipun memiliki pekerjaan yang super padat, kedua orang tuanya tidak pernah lupa memperhatikannya. Mei hanya ingin ada seseorang yang menggantikannya nanti jika ia telah pergi. Tentu Mei tidak mungkin mengatakan hal itu kepada mommy dan daddynya.
"Bukan soal liburan, Mei hanya ingin punya adek yang menggemaskan, bisa diajak bermain." Ujar Mei dengan senyum manisnya yang mampu membuat siapapun terpesona melihatnya.
"Mei mau adek laki-laki, punya pipi chuby, ganteng, dan yang paling penting tidak menyebalkan. Mommy dan daddy bisa kan, buatkan adek untuk Mei? Bisa, kan?"
Bryan dan Nica tercengang mendengar ucapan Mei, Mei kira membuat anak seperti membuat nasi goreng apa, ya?
"Mommy, daddy janji dulu!" Ucap Mei menuntut ketika kedua orang tuanya tak kunjung membuka suara.
"Iya nanti daddy usaha dulu, ya."
"Yang cepat ya, dad. Mei nggak mau lama-lama. Nih, Mei bantu tutup pintu kamarnya." Ujar Mei melenggang ke luar dari kamar orang tuanya.
Nica menatap Mei tak percaya, sedangkan Bryan memasang senyum yang...menyeramkan di mata Nica.
"Kamu dengar kan, Mei bilang apa. Nggak pakai lama. Jadi kita harus bekerja keras malam ini."
Skip
Reza mengangkat sebelah alisnya, ia malas bicara saat ini.
"Nggak ada surat dari Mei?" Sudah beberapa hari ini, tepatnya sejak kedatangan Mei yang mencari Reza waktu itu, Mei tidak lagi menghampirinya ke kelas, itu artinya juga tidak ada nasi goreng buatan Mei lagi. Revan selalu menerima surat itu. Membacanya sekilas, hanya satu kalimat, em...sebenarnya dia tak benar-benar membaca. Seperti biasanya isinya bahasa asing. Yang Revan yakini seratus persen itu adalah ungkapan cinta yang ke sekian kalinya.
Reza menggeleng, lalu segera memasukkan kepalanya ke dalam tas di atas meja.
"Lo kenapa?" Revan memutar duduknya mengarah meja belakang, tepatnya ke arah Reza.
Reza tidak menjawab.
"Lo yakin Mei nggak ada titip surat." Revan bertanya lagi, kali ini sukses membuat Reza mengangkat kepalanya.
"Apa peduli lo?! Nggak pernah lo baca juga kan, surat-surat dari Mei." Reza sedikit meninggikan suaranya, ia menatap Revan sinis.
"Weits kenapa lo sensi banget? Gue selalu baca surat Mei, jangan sok tahu." Revan jadi ikut sensi, apa-apaan Reza itu masih pagi sudah marah-marah. Apa benar yang Riko katakan kalau Reza juga menyukai Mei? Reza cemburu kepadanya? Diam-diam Revan merasa bangga karena dia yang menjadi pemenang hati Mei.
"Emangnya kenapa? Gue harus kaget Mei ngungkapin cintanya lagi? Bukannya setiap hari selalu begitu?"
"Kenapa lo seyakin itu?"
"Emang apa lagi isi suratnya selain itu?"
Reza menggeram kesal. Ia kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam tas. Ia malas menanggapi Revan.
Revan yang merasa diacuhkan pun kembali memutar posisi untuk menghadap depan. Ia kemudian mengambil gawai yang berada di saku celananya dan membuka aplikasi Whatsup. Ada belasan pesan dari satu nomor yang tidak ia simpan 7199, Mei. Revan sampai hapal 12 angka itu.
ͯ ͯ ͯ ͯ ͯ ͯ ͯ ͯ 7199
Halo, kak Epan!
Dibaca ya, suratnya.
Halo, kak Epan!
Hari ini Mei titip surat lagi.
Halo, kak Epan!
Sudah baca surat hari ini?
Eum Mei boleh minta waktu kak Epan seharian weekend nanti?
Sekali ini aja, boleh ya?
Halo, kak Epan!
Pesan Mei nggak dibalas, berarti ngga boleh ya?
Mei titip surat lagi, janji ini yang terakhir.
Terima kasih 99 kesempatannya.
Have a good life ya, kak.
Pesan terakhir itu dikirim di hari Jumat, itu artinya tiga hari yang lalu. Ternyata Mei benar-benar menepati janjinya, ia kira itu hanyalah bualan semata. Revan mengabaikan pesan Mei bukan tanpa alasan, seminggu belakangan ini dia menghabiskan waktunya di salter untuk bertemu dengan Tasya yang tentunya juga dihadiri Bella. Mereka bertiga kembali berkumpul bersama membalas satu tahun yang berlalu dengan begitu menyakitkan. Revan ingin fokus terlebih dahulu terhadap kesembuhan Tasya hingga nanti gadis itu benar-benar dianggap pulih dan bisa kembali ke rumah.
Revan selalu membaca pesan yang Mei kirimkan. Ia sengaja tidak membalas ajakan Mei yang ingin bertemu saat weekend, Revan akan mengajak Mei di lain waktu nantinya. Mungkin gadis itu kesal karena pesannya tidak Revan balas, tapi Mei tidak akan pernah mampu menolak ajakannya, kan? Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Fiksi RemajaSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
