REVAN dan Mei sekarang berada di sebuah restoran seafood ekhem kalau kata Mei sih, ini lagi nge-date. Akhir-akhir ini Revan merasakan ada yang aneh dari dirinya. Ia menyukai Mei yang cerewet padanya, ia merasa nyaman saat menghabiskan waktu bersama Mei.
Jangan tanyakan mengapa Revan dengan suka rela melakukan semua ini. Ini adalah ide Reza, tentu saja saat itu Revan tolak mentah-mentah. Tapi, Reza malah mengancamnya akan memberitahukan tingkah konyolnya yang ingin mengelus punggung Mei waktu itu. Dan yah, di sinilah dia sekarang. Duduk berdua bersama gadis cerewet yang belum mengeluarkan suara sedari tadi.
Revan memandang Mei yang tampak gelisah di hadapannya. Ia menelisik penampilan Mei, gadis itu memakai gaun merah muda selutut tanpa lengan dengan rambut yang digerai indah. Oh jangan lupakan bibir pink alami milik gadis itu. Revan tak bisa berbohong, Mei benar-benar manis sekali.
"Gugup?" Tanya Revan yang dibalas anggukan patah-patah oleh Mei
"Kenapa?" Tanya Revan lagi. Ia berpikir tidak ada salahnya ia membuka obrolan terlebih dahulu.
"Ini pertama kalinya Mei jalan sama kak E-em maksud Mei kak Revan. Mei gugup, Mei takut buat kak Revan nggak nyaman." Revan tertegun. Gadis itu...benar-benar merubah panggilannya. Entah kenapa Revan merasa tidak suka dengan hal itu padahal dia sendiri yang memintanya.
Melihat Revan hanya diam, Mei kembali membuka suara. "Kak Revan beneran nggak nyaman, ya?"
Revan mengukir senyum menenangkan. "Bersikap kayak biasanya aja." Ucapnya sembari mengelus pelan tangan Mei yang berada di atas meja. Hanya sekilas, Revan kembali menarik tangannya, tapi senyum itu tetap bertahan di bibirnya. Sebagaimana halnya Mei, ia juga ingin mencoba membuat Mei nyaman bersamanya. Ia merasa bersalah melihat raut ketakutan di mata Mei.
Mei jatuh. Mei lagi-lagi jatuh hati hanya karena senyum itu. Senyum yang untuk pertama kalinya diperlihatkan untuknya. Mei tahu, sebenarnya Revan merupakan sosok yang humble dan easy going. Hanya saja dengan lawan jenis Revan sedikit menutup diri sehingga terkesan dingin.
"Kak Revan nggak risih kalau Mei bersikap kayak biasanya? Mei bukan bermaksud bikin kak Revan nggak nyaman, Mei cuma mau nunjukin kalau Mei suka kak Revan sungguh-sungguh. Meski rasanya mustahil untuk disukai kak Revan." Mei mengucapkan kalimat itu dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Revan terdiam. Gadis ini...benar-benar tulus mencintainya. Jujur saja Revan sudah mulai terbiasa dengan segala perhatian Mei padanya, ia juga merasa kehilangan saat Mei merubah beberapa hal kecil seperti tidak membawakan bekal misalnya. Ia paham betul bahwa dirinya sudah memiliki ketertarikan kepada Mei. Tapi, apa ia sudah benar-benar selesai dengan masa lalunya?
"Nggak ada yang mustahil di dunia ini." Revan akhirnya membuka suara.
Baru saja Mei ingin menjawab, makanan mereka dihidangkan. Keduanya menikmati makanan masing-masing dengan hening.
Kini keduanya berada di dalam mobil.
"Em kak Revan, Mei minta maaf udah lancang nanya-nanya tentang masa lalu kak Revan ke kak Reza." Sedari tadi Mei ingin mengungkapkan ini, namun ia tahan karena takut membuat mood Revan buruk saat makan.
"Udah gue lupain, tapi jangan diulangi." Revan menjawab dengan pandangan fokus ke jalanan.
"Kak Revan nggak marah?"
"Marah." Jawaban Revan membuat Mei semakin menundukkan kepalanya dengan tangan yang meremas dressnya.
"Kalau pengen tahu lebih baik tanya orangnya langsung." Ucap Revan menoleh sepenuhnya ke arah Mei ketika mereka berhenti di lampu merah.
Kepala Mei terangkat dengan cepat. "Boleh? Kak Revan bakal jawab emangnya?"
"Tergantung."
"Tergantung?" Mei mengernyit bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Novela JuvenilSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
