DI UKS Mei sedang mengompres pipi Bella yang memar, sedangkan Bella masih setia dengan isakannya. Mei ingin sekali menanyakan apa yang terjadi sebenarnya, tapi urung saat melihat kondisi Bella yang sangat kacau.
"Gue salah, gue pengecut, penghianat."
"Kak Bella tenang." Mei menarik Bella ke dalam pelukannya.
Skip
Seorang gadis yang terkulai lemah di sebuah ruangan terkutuk dengan bercak merah di mana-mana. Pelipisnya mengalir darah segar. Tubuhnya juga dipenuhi baret. Gadis itu terisak dengan terus menggumamkan kata tolong.
Suara gelak tawa terdengar dari ruangan lainnya.
"Mangsa kali ini mantap, bro."
"Ahahaha masih anak sekolahan dia."
"Harusnya temannya tadi juga kita ajak. Pasti nggak kalah enak."
Revan menggeram. Ia terlambat. "Jl. Bahana, di belakang Giorgino High School, Pelecehan seksual."
Brak! Ia menendang pintu kayu itu hingga terbuka. Revan segera menghampiri perempuannya, ia menutupi tubuh polos gadis itu dengan jaketnya.
"ARGHH!" Revan kalut. Ia menambah laju mobil yang sedang ia kendarai. Setelah dipanggil ke ruang Kesiswaan dan mendapat surat panggilan orang tua, Revan segera cabut dari sekolah. Persetan dengan ancaman pak Syamsul, pikiran Revan tak lagi di sekolah.
Langkah Revan terasa berat untuk memasuki gedung satu lantai dengan halaman yang luas itu. Ia menghela napas panjang, ia kembali melanjutkan langkahnya hingga tiba di kamar 'Mawar 117'.
Terlihat pasangan paruh baya ke luar dengan sang istri yang menangis tersedu. Wajah keduanya yang mulai terdapat kerutan itu jelas sekali tersirat keputusasaan.
"Om, tante."
"Revan, mau jenguk?" Tanya laki-laki paruh baya itu.
"Revan boleh masuk, om?"
Laki-laki paruh baya itu mengangguk. "Tentu."
Revan kembali menghela napas. Entah sudah berapa kali ia menghela napas hari ini. Setelah masuk ke ruangan itu, ia memastikan terlebih dahulu apakah pintunya sudah tertutup dengan rapat.
Isakan, lirihan, dan teriakan. Itulah yang menyambut kedatangan Revan.
"JANGAN! JANGAN MENDEKAT! KA-KAMU PENJAHAT!"
Gadis itu meringkuk di sudut ruangan, selalu begitu. Revan menjaga jarak satu meter dari gadis itu.
"Hai." Sapa Revan dengan berusaha mengukir senyum tipis di bibirnya.
"Udah hampir setahun kamu pindah ke sini, bolos sekolah terus, nggak bosen?"
"Aku, aku kangen." Lirihnya.
"Ayo sembuh, nanti kita curi mangga mbak Mirna lagi." Revan terkekeh, sedang gadis itu entah mendengar atau tidak, yang jelas isakan itu masih terdengar.
"Kamu harus sembuh."
"Aku janji akan balas penghianatan perempuan yang nggak tahu di—"
"AAAAAAAAH PERGI! AKU SALAH NGGAK AKU NGGAK BERSALAH!"
"JANGAN! JANGAN LAKUKAN...takut..."
Gadis itu berdiri, berlarian, menarik rambutnya kuat.
Revan ikut berdiri. Sejak kemarin kondisinya tidak stabil membuat Revan khawatir tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.
"Cepat sembuh, Ca."
Skip
Pagi ini, wajah yang memiliki senyuman manis itu tak memiliki semangat. Senyum itu bahkan tidak terlihat. Wajahnya sarat akan kekhawatiran dan...kebingungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Teen FictionSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
